Selasa, 27 Januari 2009

ujian

Mengapa Kita Harus Mengikuti Ujian ?
...
Pada saat penerimaan raport semester pertama anak saya, kulihat ada dua mata pelajaran terpampang dengan nilai yang tidak sedap dipandang mata. Hanya saja warnanya tidak merah seperti pada jaman aku sekolah dahulu. Warnanya menjadi hitam, tetapi ia sama kualitasnya dengan warna merah di raport jaman dahulu. Tetapi nilai itu memang sudah aku perkirakan sebelumnya, apa pasal ?. Pada saat ujian semester berlangsung, dua mata pelajaran itulah yang tidak diikuti oleh anakku.
...
"Abi, kenapa sih kita perlu mengikuti tes (ujian) ?" begitulah pertanyaan anakku yang baru kelas 1 SD, ketika kusampaikan kenapa nilainya kurang bagus. "Anakku, jika kita mampu menjawab soal-soal dalam ujian semester, maka kita berarti telah mampu mengikuti pelajaran. Di akhir semester depan ujian lagi dan Aida bisa menyelesaikannya, maka Aida bisa naik kelas".
...
Bssssss..... tiba-tiba aku merasakan sesuatu memenuhi emosiku. Sesuatu yang menjelaskan betapa selama ini aku sering mengeluh terhadap ujian-ujian kehidupan. Tidak terima dengan keadaan sering hadir mengiringi setiap keputusan Tuhan. Terlena dengan ujian kesenangan yang selalu kuterima sebagai sebuah keharusan. Terlempar dalam keputus asaan di saat banyak hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Terjatuh dalam kehinaan di saat keburukkan aku anggap sebagai sebuah pemakluman.
...
Pertanyaan Anakku memberikan kejelasan betapa rapuhnya aku menghadapi kuatnya terpaan kehidupan. Pertanyaan anakku menggambarkan betapa aku tidak memahami pelajaran-pelajaran kehidupan. Pertanyaan anakku menyadarkanku bahwa selama ini aku tidak mau untuk meningkatkan "kelas" kehidupan melalui ujian yang harus kujalani. Aku ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, siang malam kuberdoa agar hal tersebut bisa tercapai. tetapi kita Tuhan berikan kesempatan melalui sebuah ujian, aku terpuruk dan kalah sebelum aku bisa menyelesaikan ujian tersebut. Ya... Allah... berikan aku ujian, jika itu mampu memberikan "kelas" terbaik bagiku.
...
Ujian kehidupan bisa berupa apa saja, apakah itu kesenangan maupun kesedihan. Ketika ada sebuah kesadaran yang baik terhadap ujian kehidupan yang kita terima, maka pada saat yang sama ada potensi besar kita bisa merasakan kebahagiaan setara dengan penderitaan yang kita peroleh. Maka hanya orang-orang yang cerdas saja yang memaknai ujian dan penderitaan sebagai sebuah tantangan dan menjadikannya sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Kekurangan rezeki adalah sebuah peluang kita untuk bekerja keras menambah rezeki yang sebenarnya telah disediakan Allah kepada kita. Kehinaan yang kerap hadir dalam keseharia kita adalah sarana kita untuk memperoleh kemuliaan dengan tidak menghina dan mencaci orang-orang yang pada hakikatnya lebih terhina.
...

Senin, 26 Januari 2009

menang

Bukan Masalah Menang atau Kalah
...
Seperti biasanya pagi ini aku memulai perjalanan rutin puluhan kilometer menuju kantorku. Setelah memastikan semuanya dalam kondisi baik-baik saja, segera melajulah aku menuju jalanan yang kini semakin bertambah banyak lubangnya. Hujan yang terus mengguyur selatan jakarta ini, mampu mengikis kekuatan aspal yang telah menghiasi jalan sekitar 3 bulan yang lalu.
...
Lubang yang membuat kesal para pengguna jalan ini, sepertinya akan terus terjadi jika musim penghujan tiba. Selama air hujan terus menggenangi jalanan ini, maka selama itulah lubang-lubang baru akan tercipta. Heran, orang pintar negeri ini tidak mampu membenahi permasalahan yang seharusnya tidak lagi menambah masalah pengguna jalan yang memang sudah penuh dengan masalah.
...
Oops.. Aku masih dalam perjalanan, sehingga konsentrasi lebih penting dari hanya sekedar mencibir sang "ahli" yang tidak lagi pintar. Kekecewaanku pada "pihak yang berkepentingan" aku sisihkan dengan kewaspadaan agar bisa menghindari lubang-lubang di jalan yang semakin sulit aku hitung. Kecepatan motorku masih standar pada saat secara tiba-tiba, ada sebuah sepeda motor dengan kecepatan yang cukup tinggi dan kurang terkendali menghampiriku.
...
Aku panik menghadapi situasi seperti ini. Motornya agak oleng dan dia kerepotan mengendalikan laju kendaraan yang ia naiki. Sebuah lubang di tengah jalan harus ia hindari secara tiba-tiba dan memakai badan jalan sebelan kanan yang seharusnya tidak ia lewati karena ada garis putih memanjang tanpa putus. Kesal aku melihat kejadian itu, sudah tahu banyak lubang tapi masih saja melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Oops... sekali lagi aku harus kendalikan emosiku untuk menilai terlalu banyak terhadap orang lain. Sekarang masalahnya bagaimana keadaan ini tidak menimbulkan keadaan yang lebih buruk.
...
Tanpa memperdulikan siapa menang dan kalah, maka aku banting ke kiri sepeda motor yang kukendarai hingga masuk parit yang tidak terlalu lebar. Kecepatanku yang tidak terlalu kencang, mengakibatkan aku hanya terjatuh pelan tertimpa motor merahku. Sementara "sang jagoan" terus berlalu seiring dengan kemampuannya menguasai keadaan tanpa menengok sedikitpun ke arahku. Kesal.. kesal dan kesal...
...
Keadaan kita, terkadang dihadapkan pada sebuah pilihan-pilihan yang tidak menyenangkan. Keadaan yang tidak nyaman itu justru hadir pada saat kita tidak layak mendapatkannya. Kita juga kadang tidak memperoleh penghargaan dari kemenangan dan kebenaran yang telah kita lakukan. Kemenangan itu seharusnya berada di atas dari kebenaran yang telah kita tegakkan. tetapi pada kenyataannya, tidak selamanya menang dan benar akan menentukan keadilan yang seharusnya kita peroleh.
...
Ternyata benar dan menang terkalahkan oleh kemanfaatan dan kebaikan yang lebih besar. Benar dan menang tidak sekaku sistem operasional di sebuah alat. Benar dan menang masih bisa menyesuaikan setelah terjadi banyak pertimbangan. Benar dan menang bertoleransi dengan diskusi dan tenggang rasa. Jadi bukan masalah benar dan salah serta menang dan kalah.
...
Hingga pada akhirnya, aku juga tidak merasa pada situasi benar dan salah ketika sebuah keputusan, istriku memilih melahirkan di sisi sang orang tua di kampung dari pada ditemaniku. Dan aku juga tidak merasa pada situasi kalah dan menang, jika kemudian aku harus mengurus dua anakku yang ia tinggal. Kedua anakku tidak mungkin pergi ke kampung, karena mereka harus tetap bersekolah.
...