Selasa, 30 Desember 2008

Kebun Binatang Jilid 2

Liburan yang panjang di akhir tahun ini masih saja menjadikan warga untuk mengagendakan untuk menuju tempat-tempat wisata. Dan karena Jakarta bagian selatan ada Kebun Binatang, maka bagi warga di sekitar kami menjadikannya sebagai tempat pavorite. Pada saat yang sama acara pengajian dalam rangka memeriahkan akhir tahun juga digelar diberbagai tempat. Ada perbedaan mencolok antara hadir di pengajian maupun datang ke kebon binatang.

.

Untuk menuju ke kebon binatang tidak perlu pengumuman yang lama kepada khalayakl ramai sedangkan pengajian membutuhkan pengumuman yang lama, itup[un yang hadir tidak sebanyak kunjungan ke kebun binatang. Di Kebon binatang kita harus rela membayar sejumlah uang untuk bisa masuk ke dalam areal wisata sedangkan wisata rohani dalm bentuk pengajian dijamin gratis. Jika kita masuk kebun binatang kita menyaksikan binatang dengan gaya dan kosakata binatang yang tentunya tidak kita mengerti secara benar apa maksud dan tujuannya, sedangkan di wisata rohani pengajian ungkapan dan perkataan dijelaskan secara mendetail tanpa ada bias. Jika Ke kebun binatang maka tempat pavourite yang kita tuju biasanya tidak jauh dari kandang monyet dan gajah, sedangkan jika kita masuk pengajian maka tiang dan pojokan majlis menjadi tempat yang pas. Emang berbeda antara kebun binatang dan pengajian

evaluasi

.
Catatan Akhir Tahun
.
Setiap peristiwa memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa memaknai apapun agar bisa bermanfaat bagi kehidupan sendiri dan orang lain. Kesempatan untuk memaknai, tergantung dari kemampuan masing-masing pihak yang melihat dan merasakannya, inilah yang disebut cara pandang. Kalau dipikir-pikir banyak sekali kejadian yang berlalu lalang hadir dan pergi dalam kehidupan kita. Pada saat yang sama, berlalu lalang pula kesempatan untuk bisa mengambil sebuah inspirasi dari kejadian yang datang. Biasanya semakin bernas sebuah peristiwa itu terjadi, maka semakin luas pula kesempatan orang untuk bisa memaknainya.
..

Sedih dan gembira muncul mengiringi sesal dan tekad yang terhujam dalam dada. Semakin sering peristiwa itu bisa tertangkap, semakin kerap pula sesal dan tekad bergiliran. Pada akhirnya muncullah sebuah kondisi untuk memposisikan diri dalam berbagai hal untuk "lebih baik". Akibatnya, muncullah sebuah perencanaan yang berasal dari kebiasaan munculnya sebuah sebab atau akibatnya dari sebuah sikap. Oleh karenanya penataan diri harus terus dilaksanakan dalam ruang waktu yang dipunya. Momen dan peristiwa dalam banyak kesempatan perlu diciptakan untuk membuat kesadaran diri dan orang lain tercipta. Perbanyak dan tingkatkan frekuensinya dalam kehidupan kita. "Everyday is special moment".

..

Jika hal tersebut dilakanakan, maka tidak ada penyesalan setahun sekali yang hanya bisa kita laksanakan di akhir tahun. Tidak ada lagi penyesalan murid dan siswa yang muncul setelah ia mengetahui betapa buruk nilai raport semester ini. Tidak ada lagi orang terharu biru dengan tanggal spesial yang hanya ia temui setahun sekali dengan diiringi lagu "Happy Birthday". Semakin sedikit para pejabat yang terperanjat akan prestasinya selama lima tahun setelah laporan pertanggungjawabannya disanksikan banyak pihak. Tidak ada lagi penyesalan seorang sarjana untuk memanfaatkan masa indahnya di kampus biru setelah empat tahun menempuh pendidikan. Tidak ada lagi gundah gulana bagi seorang karyawan ketika capaian bulanannya sangat jauh dari standar yang ditetapkan oleh perusahaan.

..

Maka ambillah kesempatan untuk memaknai peristiwa setiap detik, menit, jam dan hari yang kita punyai. Evaluasilah setiap langkah dalam detik, menit, jam dan hari yang kita punyai. Maka yang terjadi adalah dinamisasi diri yang sangat luar biasa. Kita masih bisa berharap di detik berikutnya jika detik ini kita terlepas. Kita masih mempunyai detik berikutnya jika detik ini telah terhempas. Kita masih menatap detik berikutnya jika detik ini telah musnah. Kita masih punya detik, menit, jam dan hari yang terkoreksi di hari ini.

Senin, 29 Desember 2008

Simbol dan Nilai

.
Cuma Lima Obor

.
Sebagai sebuah aktifitas rutin yang kami lakukan jika ada pergantian tahun baru hijriyah adalah dengan melakukan pawai berkeliling kampung. Hampir seluruh warga di kampung kami tumpah ruah memenuhi jalan kampung yang tidak terlalu lebar. Pakaian muslim terbaik yang kami miliki kami pakai demi syiar Islam yang harus kami sebarkan dalam setiap kesempatan. Tua muda, besar kecil, semuanya menyempatkan diri untuk bisa berpartisipasi memeriahkan salah satu moment terpenting dalam sejarah beradaban manusia. Bahkan demi untuk memperkenalkan islam dari sisi budaya, banyak ibu-ibu muda yang membawa serta buah hatinya dalam acara yang di laksanakan malam hari ini.
.

Kemeriahan acara pada malam hari itu mampu memberikan warna lain dalam kisah kehidupan warga yang jauh dari keramaian ini. Kesederhanaan acara ini juga mampu memberikan cerita bahwa memperingati sebuah peristiwa besar bisa dilakukan oleh semua kalangan sesederhana apapun orang tersebut. Kehikmatan perjalanan malam yang menempuh sekitar dua kilometer tersebut telah menjadi ajang bersatunya kembali hati warga yang sempat terhempas oleh aktifitas pribadi.

.

Hanya saja ada satu hal yang berbeda dan sempat membuat acara ini agak "terganggu kesuciannya". Ya... kenyataan itu hampir saja membuat acara rutin kami menjadi berkurang kehikmatannya. Simbol itu nyaris menggeser sebuah "nilai" yang agung yang telah kami pertahankan bertahun-tahun. Susah payah kami perjuangkan berbagai nilai kebenaran berbasis budaya yang bersyarat nilai. Budaya sebagai sebuah simbol terus kami kerangkeng dalam nilai penghambaan kepada Tuhan yang suci dan hakiki. Dalam banyak kesempatan, nilai yang kami perjuangkan menyisakan sedikit saja dalam simbol-simbol budaya yang kami laksanakan. Akhirnya ada saatnya juga kami harus mempertahankan sebuah aksi simbol dengan sangat sedikit nilai, agar nilai juga tidak menjadi hilang karenanya.

.

Apa pasal ? ya acara tersebut hampir dan nyaris terluka oleh keberadaan sang obor. Tahun-tahun berlalu kekuatan simbol terletak dari banyaknya obor yang kami bawa. Obor yang terbuat dari bambu dan berbahan bakar minyak tanah ini mampu memberikan simbol sebuah penghambaan yang tulus akan datangnya sebuah moment untuk mengingatkan manusia pada ketundukkan kepada Tuhan. Banyaknya obor mampu memberikan simbol kesadaran bahwa waktu adalah milik sang pencipta dan kita hanya punya kesempatan menjalaninya. Ternyata di tahun ini terjadi penurunan yang sangat tajam terkait jumlah obor yang kami bawa. Obor kami cuma lima buah dan itupun hanya dibawa oleh barisan terdepan iring-iringan pawai yang yang diikuti oleh seribuan orang. Kelangkaan minyak tanah yang menerpa daerah kami menjadikan kami kesulitan mencari barang tambang yang banyak sumbernya di negeri kami. Tetapi kami tetap bangga bahwa kami masih punya obor sebagai sebuah simbol yang tetap kami kerangkeng dalam sebuah kekuatan nilai. Mudah-mudahan tahun depan kami tetap bertemu dengan sang obor walaupun cuma lima buah. Selamat Tahun Baru 1430 H.