Pak Guru ! Beli Jagungnya Dong
..
Sudah puluhan tahun Darso mengabdi sebagai guru di sebuah SMP Negeri di Kota bojonegoro. Darso juga tercatat sebagai salah satu PNS di lingkungan Dinas Pendidikan. Setiap hari Darso mengajar di sekolah yang sudah berstandar nasional atau sekolah model di Kabupaten Bojonegoro dan sekarang masuk katagori RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Tidak ada yang yang berbeda antara Darso dan guru-guru lainnya yang mengajar di SMP Negeri 2 Bojonegoro. Hanya saja jika sore hingga malam hari di saat para pendidik lain berkumpul dengan keluarga dirumahnya, justru Darso dan keluarganya menuju alun-alun kota Bojonegoro.
..
Sebuah pangkalan PKL di alun-alun kota menjadi tujuan Darso setiap harinya. Ternyata pak guru berjualan jagung bakar. Kegiatan menjual jagung bakar sudah ditekuninya lebih dari tiga tahun. Jika beberapa kisah guru yang "nyambi" bekerja karena tuntutan ekonomi, justru Darso melakukan itu karena jiwa "dagangnya" yang sudah terasah sejak dia masih kecil. Darso selalu saja tergoda untuk melakukan bisnis jika ada keadaan memberi sebuah kesempatan untuk melakukannya.
...
Dahulu sebelum ada pasar induk Bojonegoro dibangun, pasokan jagung manis tidak tersedia secara rutin. tetapi setelah adanya pasar induk Bojonegoro, ternyata Darso sering melihat tumpukan jagung manis di dalam karung setiap sore. Sejak itulah terfikir baginya untuk menjalankan bisnis yang belum dilakukan oleh orang lain di sekitar Alun-Alun. Maka Guru humoris yang tinggal di Jalan Dewi Sartika ini, menyiapkan tempat termasuk sebuah banner dengan nama "Jagung Bakar Jakarta".
...
Pada hari pertama jualan, Ayah berputra empat ini menyiapkan dua karung jagung sebagai penjajagan pasar, ternyata habis sebelum larut malam. Akhirnya hari berikutnya ia tambah lagi stoknya. Tetapi pada hari ketiga terjadi keterlambatan kiriman jagung ke pasar induk dan Darso tidak menggelar dagangannya, tetapi dengan sikap jantan, Darso yang berjenggot lebat ini, tetap "hadir" di lokasi jualan dan memberikan senyumnya terhadap kekecewaan konsumen yang sudah datang.
...
Perisitwa yang tidak terlupakan oleh guru Bahasa Jawa dan Seni ini adalah, ketika malam tahun baru. Lebih dari 600 tongkol jagung manis dia bakar untuk memenuhi keinginan konsumen yang membludak di Alun-Alun. Dari mulai Jam 5 hingga Jam 1 dinihari Darso harus rela menggerakan kipas dengan tangannya agar jagung yang sudah dipesan cepat tersaji. Selama hampir delapan jam dia terus menggerakan tangannya untuk "ngipasin bara" untuk membakar jagung, kecuali terpotong untuk sholat maghrib dan Isya. Termasuk yang membeli adalah murid-muridnya di SMP. "Pak Guru Beli jagungnya, sepuluh pak ! rasa manis dan pedas ya pak, jangan pakai lama... "Baik Mba... Mas..." Jawab Sang Guru kepada muridnya.