Sabtu, 10 Januari 2009

sosok9

Pak Guru ! Beli Jagungnya Dong
..
Sudah puluhan tahun Darso mengabdi sebagai guru di sebuah SMP Negeri di Kota bojonegoro. Darso juga tercatat sebagai salah satu PNS di lingkungan Dinas Pendidikan. Setiap hari Darso mengajar di sekolah yang sudah berstandar nasional atau sekolah model di Kabupaten Bojonegoro dan sekarang masuk katagori RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Tidak ada yang yang berbeda antara Darso dan guru-guru lainnya yang mengajar di SMP Negeri 2 Bojonegoro. Hanya saja jika sore hingga malam hari di saat para pendidik lain berkumpul dengan keluarga dirumahnya, justru Darso dan keluarganya menuju alun-alun kota Bojonegoro.
..
Sebuah pangkalan PKL di alun-alun kota menjadi tujuan Darso setiap harinya. Ternyata pak guru berjualan jagung bakar. Kegiatan menjual jagung bakar sudah ditekuninya lebih dari tiga tahun. Jika beberapa kisah guru yang "nyambi" bekerja karena tuntutan ekonomi, justru Darso melakukan itu karena jiwa "dagangnya" yang sudah terasah sejak dia masih kecil. Darso selalu saja tergoda untuk melakukan bisnis jika ada keadaan memberi sebuah kesempatan untuk melakukannya.
...
Dahulu sebelum ada pasar induk Bojonegoro dibangun, pasokan jagung manis tidak tersedia secara rutin. tetapi setelah adanya pasar induk Bojonegoro, ternyata Darso sering melihat tumpukan jagung manis di dalam karung setiap sore. Sejak itulah terfikir baginya untuk menjalankan bisnis yang belum dilakukan oleh orang lain di sekitar Alun-Alun. Maka Guru humoris yang tinggal di Jalan Dewi Sartika ini, menyiapkan tempat termasuk sebuah banner dengan nama "Jagung Bakar Jakarta".
...
Pada hari pertama jualan, Ayah berputra empat ini menyiapkan dua karung jagung sebagai penjajagan pasar, ternyata habis sebelum larut malam. Akhirnya hari berikutnya ia tambah lagi stoknya. Tetapi pada hari ketiga terjadi keterlambatan kiriman jagung ke pasar induk dan Darso tidak menggelar dagangannya, tetapi dengan sikap jantan, Darso yang berjenggot lebat ini, tetap "hadir" di lokasi jualan dan memberikan senyumnya terhadap kekecewaan konsumen yang sudah datang.
...
Perisitwa yang tidak terlupakan oleh guru Bahasa Jawa dan Seni ini adalah, ketika malam tahun baru. Lebih dari 600 tongkol jagung manis dia bakar untuk memenuhi keinginan konsumen yang membludak di Alun-Alun. Dari mulai Jam 5 hingga Jam 1 dinihari Darso harus rela menggerakan kipas dengan tangannya agar jagung yang sudah dipesan cepat tersaji. Selama hampir delapan jam dia terus menggerakan tangannya untuk "ngipasin bara" untuk membakar jagung, kecuali terpotong untuk sholat maghrib dan Isya. Termasuk yang membeli adalah murid-muridnya di SMP. "Pak Guru Beli jagungnya, sepuluh pak ! rasa manis dan pedas ya pak, jangan pakai lama... "Baik Mba... Mas..." Jawab Sang Guru kepada muridnya.

Jumat, 09 Januari 2009

sosok7

Ku Tak Mau Tak
...
Berjudi sudah menjadi budaya masyarakat? sepertinya terlalu berlebihan untuk diungkapkan. Tetapi aktifitas ini sudah hal yang lumrah dilakukan di Kampung Iwul termasuk yang dilakukan oleh Sarta. Selalu saja ada alasan untuk melakukan aktifitas yang berprinsip "spekulasi untuk meraih keuntungan" ini. Pada kenyataannya tidak ada seorangpun diantara warga yang sebagian besar pengrajin tahu dan oncom ini, menjadi kaya karena bermain judi. Hal itu juga disadari oleh Sarta yang merupakan pengrajin oncom tertua di kampungnya.
...
Penghasilan Sarta membuat dan menjual oncom bisa mencapai 50 ribu hingga 75 ribu sehari, tentunya dia tidak mempertimbangkan tenaga kerja yang dilakukan Sarta dan anak istrinya. Penghasilan tersebut sudah cukup membuat keluarga ini mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi karena perjudianlah, ternyata pendapatan yang besar pun tak membuat perekonomian keluarganya menjadi baik. Karena keterlaluannya, hampir setiap kesempatan Sarta melakukan aktifitas yang dilarang Agama ini. Rumah, sawah, kebun, poskamling, lapangan bahkan dalam perjalan pulang dari pasar pun, aktifitas haram ini bisa dikerjakan.
...
Sebagaimana diketahui, Sarta dan teman-teman seprofesinya kebanyakan menjual tahu dan oncomnya ke pasar-pasar tradisional di Jabodetabek. Mereka secara bersamaan menyewa mobil bak terbuka untuk membawa barang dagangannya. Jika pulang dari pasar, maka di atas bak terbuka itulah kegiatan judi dilakukan. Aktifitas ini justru sangat ramai jika lebaran tiba dan ketika ada hajatan yang dilakukan salah satu warga. Semalam suntuk Sarta dan teman-temannya menggelar "ritual" penyakit masyarakat ini.
...
Tetapi itu dulu, sebelum tahun 2000 an. Hal tersebut mulai berubah ketika ada program pembinaan-pembinaan rutin dilakukan setiap minggunya. Tokoh Agama dengan pelan tapi pasti memberikan wacana tentang adanya aktifitas lain yang lebih bermanfaat dari hanya sekedar berjudi. Sarta akhirnya menyadari tentang kekhilafan yang ia kerjakan.
...
Keteladanan dan optimisme dari para penyeru kebenaran membuat Sarta luluh. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak berjudi lagi, termasuk mengajak famili dan teman-temannya untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Program pemberdayaan yang dia peroleh, semakin banyak memberi alternatif kegiatan yang lebih bermanfaat. Bahkan dengan memproduksi oncom, Sarta dapat memperbaiki rumah serta memiliki kendaraan baik motor maupun mobil yang biasa mengangkut para penjual tahu oncom ke pasar, Asal jangan berjudi di atas kendaraan, ku tak mau tak.

Kamis, 08 Januari 2009

sosok8

"Terjebak Dalam Pengabdian"
...
"Sejujurnya, menjadi ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat bukanlah merupakan pilihan dirinya" begitulah kata-kata Djafar Shodiq ketika ditanya keterlibatannya di LPM Desa Darmasari. Djafar Shodiq menyadari sebagai pensiunan pegawai perusahaan perkebunan swasta, tidak pernah terfikirkan untuk beraktifitas pada jalur pemberdayaan. Aktifitasnya selama ini tidak bersentuhan langsung dengan dunia "seni mengelola manusia tersebut". Baginya bekerja dengan baik sebagai seorang karyawan merupakan pengabdian yang besar bagi orang lain.
....
Tetapi ceritanya menjadi lain, sesaat setelah dia pensiun sebagai "mandor" perusahaan. Seorang teman akrab yang kebetulan Kepala Desa baru terpilih di desa yang masuk administratif Kecamatan Bayah ini, mendatanginya dan meminta dengan sangat untuk bisa "menjadi komanda" di sebuah aktifitas yang pernah terfikirkan olehnya. Djafar Shodiq juga tidak habis pikir kenapa Odi memberikan amanatnya tersebut kepadanya. Penolakan tersebut tidak bisa dihindari setelah ternyata mayoritas penduduk yang tinggal diperbukitan Banten Selatan ini, meyetujui apa menjadi usulan Kepala Desa mereka.
...
Awal-awal kiprah Djafar Shodiq dipenuhi dengan rasa tertekan, terjebak sekaligus terpenjara dengan aktifitas barunya ini. Tetapi satu hal yang ia lakukan adalah, semua kegundahan dan ketidaknyaman yang ia rasakan, tidak pernah dia tunjukan kepada orang lain. Mungkin inilah yang menjadikan orang semakin percaya dengan amanat yang telah mereka sematkan ke Djafar Shodiq.
...
Rasa tertekan ia lawan dengan selalu berkeliling desa untuk mengetahui kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Untuk mengatasi keadaan "terjebak", dia selalu memikirkan bagaimana setiap permasalahan yang ada di kampungnya bisa melahirkan sebuah solusi. Dan keadaan "terpenjara" justru membuat energi yang besar bagi seorang Djafar Shodiq untuk bisa lebih peduli dengan kebutuhan orang lain, melebihi kebutuhan dirinya.
...
Seiring dengan pergantian waktu, gundah gulana yang menghantui dalam aktifitasnya telah berganti dengan semangat dan optimisme. Keengganan untuk berbagi kepada yang lain, berubah menjadi sebuah pengabdian tanpa pamrih. Kesibukan dalam sebuah aktifitas rutin yang individualis, berganti menjadi persaudaraan dan perhatian yang tulus dari dalam hati. Ketidaktahuan dia akan seluk beluk dunia pemberdayaan, berganti menjadi keinginan untuk memberikan keadilan kepada seluruh masyarakat melalui lembaga yang ia pimpin.
...
Hingga akhirnya kegundahan muncul ketika ada satu kebutuhan vital masyarakat yang belum terwujudkan. Masyarakat yang tinggal di Kampung Tenjo Laut dan sekitarnya kesulitan memperoleh air bersih. Mereka harus antri memperoleh "jatah" air dari kampung lain agar ember mereka terpenuhi air bersih. Jangan harap air bisa memenuhi bak mandi mereka, apalagi jika musim kering tiba, dapat dua ember ukuran sedang saja sudah untung. Djafar Shodiq terus merenung bagaimana permasalahan ini bisa terselesaikan. Hatinya merasa sedih ketika pertengkaran antar warga muncul akibat "perasaan tidak adil" dalam pembagian "jatah" air. Di sisi lain tidak jauh dari perkampung (sekitar 3 km) ada sumber air yang melimpah, yang sebenarnya bisa menyelesaikan kebutuhan utama rumah tangga ini.
...
Gayung bersambut, sebuah lembaga sosial melakukan survey dan menyatakan program layak untuk bisa dilakukan di Desa yang berbatasan dengan Pantai Selatan Banten ini. Akhirnya program pipanisasi dilaksanakan dan dipimpin langsung oleh Djafar Shodiq agar hasilnya naksimal sehingga tidak jebol lagi seperti dahulu sebanyak dua kali pembangunan. Djafar merasa sedikit lega hasilnya sangat menggembirakan dan sekarang ratusan KK telah menikmati air bersih yang tidak hanya memenuhi ember mereka tetapi bak mandi yang berukuran 3 meter persegi. Djafar senang bahwa ia terjebak dalam sebuah aktifitas pengabdian di hari tuanya.

Rabu, 07 Januari 2009

posisi

Tujuan Yang Menentukan
...
Seorang teman berkisah, sekumpulan orang membangun sebuah bangunan yang cukup megah di tengah-tengah perkampungan nan indah. Dari cara kerja dan raut mukanya terlihat berbeda satu sama lain, seperti menyimpan sesuatu yang berbeda pula dalam diri mereka. Kemudian seorang pemuda yang kebetulan lewat merasa tertarik untuk menanyakan hal tersebut.
..
Orang yang terlihat paling muda ditanya, "sedang apa bang?, "Ah.. ini.. ngisi waktu senggang aja, dari pada dirumah pusing lebih baik ikut kumpul-kumpul, lumayan bisa beli rokok. Yang kedua ditanya dengan pertanyaan yang sama, "Anda tidak tahu saya sedang bekerja, nyari uang buat kebutuhan keluarga". Yang ketiga menjawab " saya sedang membangun sebuah sekolah, ya.. mudah-mudahan anak saya tidak terlalu jauh sekolahnya.
...
Sedangkan ketika yang keempat ditanya apa yang sedang ia kerjakan, dengan mantap ia menjawab " Saya sedang membangun sebuah peradaban!". Maksudnya ? "coba Anda renungkan, jika sekolah ini sudah jadi, maka anak-anak desa ini akan memperoleh pendidikan, dan dengan pendidikan inilah akan menghasilkan orang-orang berkualitas yang akan menebarkan nilai-nilai kebaikan di dunia ini dan tentunya peradaban baru dengan kehidupan yang lebih baik akan segera terwujud.
...
Sebuah aktifitas yang sama, berangkat dari sebuah pemahaman yang berbeda, akan menghasilkan proses yang berbeda pula. Mungkin dalam banyak kesempatan, kita melakukan hal-hal kecil dan mudah. Kita juga, kadang ditempatkan pada kondisi "di belakang dan terbatas". Sering kali, kita merasa tidak diberi kesempatan untuk bisa berbuat lebih dari yang sekedar bisa diberikan oleh keadaan. Banyak kejadian, kita juga terpaksa melakukan sesuatu yang capaian-capaiannya tidak sedramatis yang kita harapkan.
...
Jangan heran jika kemudian pilihan menjadi ibu rumah tangga menjadi sebuah keadaan yang bukan muncul dari sebuah kesadaran akan sebuah keluhuran. Menjadi guru di sebuah sekolah swasta dengan gaji yang kecil merupakan pilihan terakhir dari sebuah ikhtiar yang tidak kunjung "datang keberuntungannya". Menjadi OB atau karyawan rendahan tidak mampu menggerakan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk kebaikan institusi yang menaunginya. Menjadi aparat tingkat lingkungan tidak menjadikan dia bersemangat untuk mengabdi kepada masyarakat secara utuh. Menjadi ketua partai tingkat desa menjadikan dia hanya bisa berharap dari "atasan" tanpa termotivasi "memberi tanpa berharap materi".
...
Justru nilai diri seseorang akan sangat teruji ketika kesempatan dan kemampuan bersatu, tetapi ada faktor yang kemudian harus "ditaati". Mungkin kita perlu berkaca pada kisah Khalid Bin Walid, sang Pedang Allah yang Terhunus. Panglima perang yang selalu memenangkan pertempuran ini justru dipecat oleh Khalifah Umar dan dijadikan sebagai prajurit biasa. Pemecatan itu sesaat sebelum perang di Asia Kecil dan juga membantu Sa'ad di front timur melawan Parsi. Walaupun sebagai prajurit, beliau tetap berjuang dengan semangat yang membara. Beliau juga memberi kontribusi yang besar kepada Sa'ad yang memimpinnya dalam melumpuhkan pasukan gajah yang menghadang mereka. Dan ketika ditanya bahwa dia berjuang bukan untuk umar tetapi berjuang untuk Allah Tuhan semesta alam.
...
Memang kita bukanlah Khalid Bin Walid "sang Pedang Allah yang Terhunus". Tetapi ingatlah, sifat pejuang besar bisa dilakukan di setiap kesempatan dan keadaan. Sifat negarawan bisa dimiliki oleh manusia sesederhana apapun orangnya. Menjadi guru bangsa bisa dilakukan oleh profesi serendah apapun. Menjadi agen perubahan dapat dilakukan oleh level terkecilpun. Menjadi pemimpin dunia bisa dikerjakan dalam wilayah sekecil apapun. Dan merubah dunia bisa dikerjakan dalam keadaan apapun. Berfikir besar mampu diwujudkan oleh kemampuan sekecil apapun.
...

Selasa, 06 Januari 2009

Renungan

.
Jangan-jangan...
...
Apa yang Anda rasakan ketika ban motor yang kita kendarai tiba-tiba bocor? Ternyata setelah kita perhatikan anda benda kecil yang menancap tepat di bagian tengah ban, ya... sebuah paku yang berbentuk payung dengan indahnya menghiasi si karet bundar. Dan apa pula yang kita rasakan ketika angkat wajah kita dari roda motor ternyata tepat didepan kita ada sebuah bengkel "menerima tambal ban".
...
Apa yang mucul dalam benak, pada saat mobil kita terhenti di depan traffic ligh, tiba-tiba ada ada seorang anak kecil menjulurkan tangan sambil menengadahkan wajah memelas kepada kita. Aksinya begitu disempurnakan dengan balutan baju yang boleh dibilang tidak pantas dipakai oleh seorang anak yang sedang lucu-lucunya. Pada saat yang sama tidak jauh dari tempat itu seorang laki-laki bertato memakai jeans dan memakai tutup kepala, memperhatikan si anak kecil tersebut.
...
Apa yang kita rasakan ketika saudara kita tergolek lemah di sebuah rumah sakit, tetapi tidak ada perlakuan seperti yang kita bayangkan dan hanya diberi cairan infus. Kita menganggap bahwa ia perlu segera memperoleh pertolongan akibat penyakit yang dideritanya. Kita sudah berusaha menanyakan ke bidan mengenai kondisinya tetapi dijawab untuk menunggu perkembangannya. Pada saat yang sama, kita melihat dokter dengan pakaian kebesarannya lalu lalang di depan mata kita.
...
Apa pula yang terfikirkan ketika ada seorang ustazd yang mengetahui banyak hal berbagai kebaikan-kebaikan yang Tuhan perintahkan kepada manusia. Sang Ustadz menyampaikan tentang zuhud, kesederhanaan, tentang keutamaan orang miskin dan tentang hinanya kehidupan dunia. Tetapi setiap mengisi ceramah di berbagai tempat, sang ustadz tidak lupa membawa kendaraan roda empat seharga 20 ekor kerbau. Tidak lupa pula dengan baju kebesarannya yang selalu bersih yang tidak pernah tersentuh kotornya tangan jamaah karena "sang pengawal" selalu melindunginya baik di kanan dan di kiri.
...
Mungkin banyak kejadian yang akhirnya kita sibuk dengan fikiran-fikiran yang kita bangun sendiri. Selalu saja diri kita terjebak dengan kemungkinan-kemungkinan yang memang bisa terjadi atau tidak. Hampir seluruh waktu kita habis mengomentari keadaan sekitar yang menurut kita tidak sesuai dengan adanya. Dan pda saat yang sama tersitalah energi kita untuk berusaha mengungkap realita di balik sebuah fakta. Dan akhirnya kita mati dengan kondisi tidak ideal yang kita maki dan kita benci setiap hari tanpa bisa berbuat untuk memberikan yang terbaik bagi kondisi yang belum tentu kita anggap jelek. Maka berbuat... berbuat dan berbuat, tanpa ada "jangan-jangan" yang melebihi dari kadar yang telah ditentukan.

sosok6

Panggil Aku Wawi
.
.
Istilah pemberdayaan masyarakat, awalnya menjadi istilah yang belum pernah didengar oleh Wawi dan masyarakat sekitar yang tinggal di Kampung Iwul Parung. Selama hampir 40-an tahun dalam kehidupan Wawi, tidak ada seorang-pun orang yang mengucapkan kata-kata itu. Apalagi menjelaskan bagaimana hal tersebut mampu memberi dampak yang positif kepada masyarakat. Tetapi sekarang istilah itu sudah menjadi bagian dari kehidupan Wawi sehari-hari. Bahkan melalui program inilah mula pertama kali wawi dipanggil namanya oleh pelanggan yang sebelumnya selalu memanggilnya "tahu" atau "mang tahu". Kebahagiaan kecil menyeruak dalam diri wawi ketika pelanggan-pelanggannya berkata : Pak Wawi, beli tahunya!
...
Wawi terlahir 45 tahun yang lalu sebagai bagian dari keluarga besar yang cukup mampu di jamannya. Saat itu Ayahnya H. Jazid merupakan pengusaha tahu yang sukses dan memiliki tanah berupa sawah dan kebun yang luas. kepemilikan tersebut memang tidak terlepas dari warisan kakeknya yang merupakan bagian dari keluarga terpandang pada saat itu.
...
Seiring dengan bertambahnya waktu, maka "kejayaan" itupun mulai memudar. Tanah semakin berkurang luasnya karena dijual untuk berbagai kebutuhan keluarga seperti naik haji maupun mengadakan pesta setiap hajatan yang diselenggarakan secara "berlebihan" termasuk berkurang karena dibagi sebagai warisan. Yang tersisa bagi Wawi selain "jatah" yang ia terima, adalah mewarisi kemampuan orangtuanya sebagai Tukang Tahu. Pak Wawi menghabiskan masa mudanya hingga kini menekuni produksi dan penjualan tahu. Kehidupan hariannya hanya berkutat pada penyiapan bahan, membuat tahu dan memasarkan tahu dengan sepeda. Tidak ada cerita lain yang bisa terungkap selain tahu... tahu... dan tahu seperti yang ia ucapkan setiap kali berkeliling menawarkan barang dagangannya.
...
Hingga akhirnya datanglah sebuah perubahan. Sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memfasilitasi Wawi dan rekan-rekan seprofesinya untuk membentuk suatu kelompok. Maka mulailah wawi dengan cerita yang lebih beragam, dari sekedar tahu menjadi kelompok pengrajin tahu. Diskusi mulai berkembang mengapa perlu berkelompok dan banyak manfaat yang diambil dari pembentukan kelompok usaha tersebut.
...
Wawi merasakan betul manfaat dari program yang dijalankan. Pengetahuannya bertambah melalui diskusi rutin mingguan yang difasilitasi oleh program pemberdayaan. Perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dijadikan komitmen bersama untuk menjadi lebih baik selalu terpantau di setiap minggunya. Kegiatan usaha bersama dirintis untuk bisa menghasilkan keuntungan "tambahan" bagi anggota kelompok. Hingga kegiatan-kegiatan sosial, diselenggarakan oleh kelompok untuk memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat
...
Wawi memang belum mengalami perubahan ekonomi yang sangat drastis tetapi peningkatan pendapatan sebesar 20 persen menjadi tekad dalam dua tahun program tetap membanggakan. Tetapi baginya, kehidupannya menjadi lebih bermakna sekarang ini. Ia tidak lagi berfikir dan terperangkap dalam "tahu" yang selama ini telah erat mengungkungnya. Wawi merasa bebas untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
...
Suatu saat ada sebuah stasiun televisi yang meliput sosok wawi dalam merintis perbaikan ekonomi bersama kelompoknya. Suatu peristiwa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Jangankan diliput, lihat kamera saja ia belum pernah. Tetapi dia kembali sadar bahwa kekuatan pemberdayaan itulah yang mampu mengantarkan yang tidak terangankan menjadi kenyataan. Dan inilah yang akhirnya banyak orang yang menyaksikan tayangan sosok wawi di televisi, termasuk para pelanggan-pelangganya. Dan para pelanggannya baru tahu bahwa tukang tahu yang biasa mereka panggil "tahu" atau "mang tahu" ternyata bernama Pak Wawi. Maka sejak itu Wawi tidak pernah lagi di panggil "tahu" atau "mang tahu" tetapi Pak Wawi. "Pak Wawi beli tahunya"!

Senin, 05 Januari 2009

sosok5

Pertolongan Itu Pasti Datang
..
..
Menjadi buta bukanlah kenyataan yang terbayang dalam benak Adnan apalagi menjadi sebuah pilihan dalam kehidupannya. Nyatanya hal tersebut harus ia hadapi dan tanggung selama empat tahun belakangan ini. Keadaan itulah yang sempat menggoyahkan kepercayaan dirinya untuk tetap tegak menghadapi kehidupan. Sedih, nestapa dan merasa tersingkir dalam ajang kemasyarakatan selalu bersatu dalam masa-masa awal cobaan itu datang. Hingga pada satu titik rendah dari sebuah harga dirinya ketika terlintas dalam pikirannya “Tuhan tidak adil”, walaupun kemudian dia tepis bisikan itu sejauh-jauhnya.
.
Adnan menderita katarak dengan komplikasi glukoma yang mampu merenggut kenikmatan dia dalam menyaksikan betapa ciptaan Allah begitu sempurna. Penyakit itu pula yang telah menghentikan pandangan dia terhadap anak dan istrinya yang selalu setia menjaganya dalam masa-masa “penantian”. Keadaan itu-pun membuat Adnan tidak mampu lagi melakukan aktifitas mencari nafkah dengan menjadi buruh seperti sedia kala. Dan cobaan itu menjadikannya harus belajar keras bagaimana menentukan langkah-langkahnya agar tidak statis.
.
Adnan memang luar biasa, ia tidak mau berlama-lama meratapi kesedihan. Adnan juga tidak mau “menjual” penderitaannya untuk ditukar dengan kemalasan dan kehampaan. Adnan tidak mau terjebak dalam penderitaan yang ia sadari berujung pada kehancuran pribadinya. Ia mulai mengatur langkahnya secara bertahap seiring dengan usahanya bagaiman penyakitnya bisa sembuh. Adnan juga tetap dengan khusyuk “merayu” Tuhannya yang dikuatkan dengan ikhtiarnya untuk menghubungi orang-orang yang bisa memberikan jalan bagaimana masalahnya bisa terselesaikan. Adnan juga tetap menjalani aktifitas kemasyarakatannya walaupun dengan keterbatasan yang tentunya telah dipahami oleh lingkungannya.
.
Keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang selalu saja ia tanamkan dalam hatinya mengimbangi bisikan-bisikan buruk yang selalu saja hinggap dalam kehidupannya. Hingga datanglah sebuah lembaga sosial yang memberikan kesempatan untuk memungkinkan dirinya bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi. Konsultasi terus dia lakukan sambil mengkonsumsi obat agar penyakitnya tidak bertambah parah. Karena masyarakat yang ditangani oleh lembaga tersebut sangatlah banyak (sekitar 20.000 KK) maka Adnan harus bersabar selama dua tahun untuk bisa memperoleh penanganan dalam bentuk operasi. Hingga akhirnya, ketika ada kesempatan, Adnan memberanikan diri untuk mengikuti program ASKESKIN dari pemerintah dan menjalani operasi di sebuah RS swasta. Tentu saja ada sekian juta rupiah yang harus ia keluarkan untuk membiayai operasi tersebut di samping dana subsidi yang ia peroleh.
.
Kebahagiaan karena ada harapan sembuhnya satu mata Adnan untuk bisa melihat dunia ternyata hanya bertahan sebulan karena ternyata dalam perjalanan waktu kesembuhan yang ia harapkan tidak kunjung datang hingga hamper setengah tahun berjalan.. Ada “kesalahan” yang dilakukan oleh pihak rumah sakit sehingga ia kembali kepada keadaan bahwa dia tidak mampu menggunakan matanya sebagaimana mestinya. Penantian dengan menyulam harapan, kembali ia rajut dalam hari-hari panjangnya. Tuhan betul-betul menguji hamba yang ia senangi, pakah dia bertahan atau tidak. Adnan memang sosok tangguh, ia kembali melakukan aktifitas yang biasa dia lakukan sebelum operasi, sholat berjamaah di masjid, mengikuti pengajian rutin hingga berdiskusi kemasyarakatan dengan tetangga dan aparat setempat.
.
Pertolongan itu pasti datang. Hingga akhirnya lembaga sosial yang dulu pernah menjanjikannya memberi solusi, memberi kabar melalui seseorang yang selalu membantunya dalam menghadapi cobaan ini. Serangkaian tes dan uji laboratorium untuk memastikan bahwa kondisinya layak untuk menjalani operasi-pun dilakukan selama hampir dua minggu. Hampir setiap hari bolak-balik rumah sakit dengan biaya bantuan dari lembaga sosial yang diurus oleh seseorang yang selalu membantunya menghadapi ujian ini. Alhamdulillah operasipun terlaksana dengan lancar. Dua minggu kemudian perban penutup mata dibuka dan ada pemandangan yang terlihat walau belum sempurna benar.
.
Kebahagiaan kembali menghiasi kehidupan keluarga Adnan, dan dia berharap kebahagiaan ini benar-benar nyata adanya. Menurut keterangan dokter, proses penyembuhan akan berjalan selama enam bulan. Hari-hari Adnan mulai bersinar kembali, ia merasakan sedikit demi sedikit dapat merasakan kenikmatan memiliki penglihatan. Dia bisa melihat kembali rumah reyotnya yang sangat kecil. Dia juga bisa membantu istrinya menyiapkan bahan-bahan untuk usaha nasi uduk dan lontong sayur agar dapurnya tetap ngebul. Walaupun Adnan sempat bersedih, betapa istrinya terlihat sangat lelah karena harus bekerja keras selama empat tahun ketika dia “tidak berdaya”.
.
Adnan mesti bersabar selama lima bulan ke depan, apakah operasinya berhasil atau tidak. Tetapi Adnan memang tangguh, dia tetap merasa optimis bahwa pertolongan Allah akan datang. Dia akan setia menunggu lima bulan ke depan dengan optimisme yang tinggi dan tentunya akan tetap melaksanakan aktifitas sebelum buta, sebelum operasi dan setelah operasi seperti anggota masyarakat yang lain.

Minggu, 04 Januari 2009

Koperasi

Soko Guru Yang Memudar
.
Pada tahun 1950-an, kita pernah mengenal sebuah koperasi yang sangat tangguh. Koperasi itu adalah GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia). Sisa-sisa kemegahannya, barangkali masih dapat dilihat dari sebuah gedung yang megah di Jalan Sudirman di Jakarta, yang dikenal sebagai Gedung GKBI. Namun, gedung itu sekarang (ibaratnya) menjadi sebuah monumen. Monumen yang menjadi saksi, bahwa GKBI pernah berjaya. Begitulah sebuah cuplikan berita yang dimuat sebuah harian nasional. Koperasi, warisan para peletak bangunan negara tercinta ini sekarang tidak lagi memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan oleh komponen bangsa ini.
...
Seharusnya sektor perekonomian ini diselesaikan dari sisi infrastruktur juga. Jika pendidikan sudah ditata dengan sedemikian rupa, maka perekonomian rakyat-pun harus ditata pula. Dinas pendidikan dibuat strukturnya sampai tingkatb kecamatan bahkan ada gugus sekolah untuk memfasilitasi kemajuan tingkat sekolah, termasuk dibangunnya sekolah-sekolah di setiap sudut wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesi.
...
Pada akhirnya pemerintah juga perlu membentuka kantor koperasi ndi setiap kecamatan, termasuk memfasilitasi terbentuknya koperasi di setiap sudut wilayah Indonesia, atau minimla di tingkat Desa. Sehingga koperasi ini berperan dalam hal edukasi, fasilitasi, mediasi dan teknisi terhadap perkembangan perkonomian masyarakat di Akar rumput. Dengan begitu warisan agung soko guru perekonomian masyarakat bisa bermanfaat bagi rakyat yang terkesan selalu saja termarjinalkan.

sosok4

.
Insya Allah, Televisi Khan Terbeli.
.
Ibu Siti Murwati menitikan air mata saat sebuah lembaga sosial memberikan bantuan permodalan usahanya. Bantuan itu memang tidaklah besar, tetapi kebahagiaan yang paling mendalam mampu membesarkan nilai dari nominal yang ia pegang dengan tangan yang bergetar itu. Bantuan itu mampu memberikan semangat luar biasa bagi janda yang tinggal di Kampung dukuh Bungur Kebayoran Lama Jakarta Selatan, untuk selalu bersyukur dengan apa yang ia peroleh. Silaturrahmi itu mampu menambah kesadaran sang Ibu bahwa banyak saudara-saudara seagama masih memberikan perhatian bagi yang membutuhkan. Ibu Siti Murwati terus saja mengucapkan syukur dengan gayanya yang super latah, ternyata sang ibu ini “latah berat ngomongnya”.
..
Ibu Siti Murwati memang patut bersyukur, pengajuannya untuk masuk daftar penerima BLT belum juga dikabulkan oleh aparat setempat. Ia merasa bahagia, program P2KP,PPK maupun PNPM tidak pernah ia kenal apalagi memperoleh fasilitas permodalan dari program tersebut telah ia lupakan untuk berharap terlalu berlebihan. Ia juga menjadi terhibur dengan dengan bantuan itu walaupun kecil, tetapi merupakan bentuk kepeduliaan yang dilandasi dengan keikhlasan. Dirinya juga merasa senang karena tidak ada kebencian sedikitpun dengan keadaan dan orang-orang yang menjadikannya tidak mampu memperoleh akses secara luas terhadap usahanya yang masih butuh suntikan dana.
..
Secara ekonomi, ibu yang tinggal bersama anak dan cucunya ini memang tidak bisa dikatakan sangat menderita, tetapi pengasilannya dengan membuka warung kecil-kecilan hanya mampu memenuhinya kebutuhan hidupnya yang sangat minimal. Usaha yang telah dia jalani cukup lama ini belum mampu menunjukkan posisi “power saving” sehingga mampu membelikan barang-barang kebutuhan selain sandang, pangan dan papan. Delapan jiwa yang tinggal dalam satu atap ini, harus rela berduyun-duyun ke rumah tetangga untuk sekedar nonton TV. Ya… keluarga besar ini tidak memiliki televisi sebagai hiburan di waktu senggang.
..
Pertemuan itu mampu memberikan sebuah rasa persaudaraan, memberi kabar gembira kala sedih, menentramkan saat gulana dan memberi harapan saat asa sedang dipermainkan. Pertemuan itu memberikan tekad bagi Ibu Siti Murwati untuk selalu menjaga amanat disela-sela usahanya untuk mengatasi “latah” yang tak juga kunjung sembuh. Di akhir pertemuannya beliau berkata : “Mudah-mudahan .. eh mudah-mudahan… suatu hari …..eh suatu hari… suatu hari… rumah saya… eh rumah saya ada TV nya… “. TV segede rumah ya bu ? begitu ia digoda, … Eh Iya… eh iya.. mudah-mudahan. Eh….. sebesar rumah… TV nya… eh bukan… TV nya sebesar rumah.. eh rumahnya sebesar TV. Ibu-ibu, ada-ada saja, mudah-mudahan terkabul keinginanmu .

sosok3

Menelusuri Takdir

....

Kurnia, kini hanyalah ibu rumah tangga biasa. Ia menjadi seorang istri dari Ujang dan ibu bagi kelima anak-anaknya. Sebelum berkeluarga ia beragama Kristen Ortodok dan bekerja sebagai pegawai sipil di POLDA Jakarta Raya. Kehidupan Kurnia tidak pernah kekurangan walaupun tidak bisa disebut sebagai "orang yang berlebihan" selama ia bekerja. Hanya saja, takdir membawanya pada sebuah keputusan untuk menikah dengan seseorang yang berlainan agama (Islam). Keputusan inilah yang membawanya kepada sebuah konsekuensi dimana tidak semua komponen "keluarga besarnya" mendukung terhadap apa yang menjadi keputusannya. Akhirnya Kurnia-pun mantapkan hati untuk menjadi seorang Muslimah, sebuah keputusan yang sangat berani.
.
Rupanya Tuhan juga ingin menguji seberapa besar kebulatan tekad yang Kurnia punya ketika mengambil sebuah keputusan itu. Waktu-pun mencatat dia untuk menjalani kenyataan bahwa dia berhenti dari bekerjaannya di POLDA. Kehidupan baru-pun dimulai dengan fasilitas yang sangat minim bahkan bisa dikatakan sangat kurang dari sebuah kewajaran. Hari berganti hari, terus menyisakan keadaan bahwa dia tidak lagi memiliki rumah tempat ia berteduh. Bulan bertambah bulan, tidak menyisakan sedikitpun kendaraan untuk mobilitasnya, tidak meninggalkan alat komunikasi untuk berhubungan jarak jauh dan tidak memberi kesempatan untuk keluarga muslim ini memiliki seekor hewan ternak. Sebuah radio mampu dipertahankan untuk hiburan keluarga Kurnia.
.
Kurnia masih setia dan penuh keikhlasan menelusuri takdirnya. Kebaikan seorang teman mengantarkan pada sebuah takdir bahwa ia diberi kesempatan menumpang di rumahnya. Rumah di sebuah kompleks perumahan di Depok dengan ukuran kecil terasa sangat nyaman untuk ia dan keluarga tinggali. Perkakas rumah tangga dengan kesederhanaan yang penuh menghiasi rumah yang dihuni oleh 7 orang tersebut. Dia tidak pernah menghayal terlalu jauh untuk bisa memiliki rumah pribadi. Bisa menempati sebuah rumah-pun menjadi kenyataan yang seharusnya terus terjadi, meski harus mengontrak.
.
Melihat kondisi tersebut, jangan dibayangkan bahwa keluarga ini minim dengan usaha untuk memperbaiki taraf kehidupannya. Sang suami telah bekerja sekuat dan sebaik mungkin untuk bisa mengangkat kondisi ini menjadi lebih baik. Tetapi kebutuhan hidup dan kondisi kesehatan Kurnia mampu menguras pundi-pundi "kekayaan" yang terkumpul. Kurnia memang dalam keadaan yang kurang baik dalam kesehatannya sehingga dia harus bolak-balik ke rumah sakit agar kenikmatan kesehatan bisa ia peroleh. Sekarang ini ia membantu suami membuka usaha soto mie di rumahnya. Karena kondisi perumahan yang tidak terlalu ramai dan penduduknya juga adalah memiliki standar perekononian yang standar, maka warungnya hanya ramai 2 minggu pertama setiap bulannya.
.
Terfikirlan oleh Kurnia untuk bisa menambah pelanggan. Salah satu cara yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan mobilitas barang dagangannya. Gerobak, muncul sebagai sebuah solusi alternatif. Kurnia kembali menelusuri takdirnya untuk menghadapi kenyataan bahwa dari mana modal itu dapat ia peroleh. Kembali Kurnia diam dan meneguhkan kembali bahwa kesulitan yang ia hadapi bukanlah sebuah kutukan dari keputusannya yang salah. Ia sadarkan keadaan bahwa Tuhan sedang mengujinya melalui garis-garis takdir yang telah Tuhan buat bagi kehidupannya. Keyakinan itupun akhirnya bertemu dengan sebuah garis takdir yang melegakan. Sebuah lembaga sosial mampu membaca takdirnya dan memberikan bantuan gerobak lengkap dengan perlengkapannya. Kegembiraan mengisi keluarga Kurnia. Kini Kurnia kembali menelusuri takdirnya dalam merintis usaha. Mudah-mudahan penerimaannya mampu mengantarkan dia dalam sebuah kebahagiaan dalam menjalani sebuah keputusan. Sebagaimana dia juga telah bertekad memakai jilbab untuk menutupi auratnya.
..
Kurnia mungkin tidak pernah berkhayal untuk memiliki rumah, tetapi tuhan bisa mewujudkannya lewat garis takdir orang lain. Mungkin asa memiliki sebuah perlengkapan rumah tangga nyaris terlewatkan dalam kehidupannya, tetapi banyak pihak yang berkepentingan agar kehidupan saudaranya bisa lebih baik. Selamat berjuang Kurnia. Berjalanlah dengan kerelaan.

sosok2

.
Ketentuan Allah Tak Pernah Salah
.
Firman mengalami kebimbangan yang amat sangat untuk menentukan sikap. Keputusan yang akan ia ambil masih saja menyisakan keragu-raguan. Bahkan doa-doa yang ia panjatkan harus ia tuntaskan dengan sholat istikharah agar keputusan yang ia ambil adalah benar. Delapan tahun ia telah “mengabdi” di sebuah salon kecantikan di Jakarta. Rutinitas pekerjaan yang ia jalani sebenarnya menyenangkan karena menata “mahkota” konsumen adalah hobi sekaligus bakat keterampilannya. Di samping beberapa keterampilan merawat tubuh agar tetap bugar yang ia peroleh dari teman sekerja termasuk kemampuan pijat refleksi.
.
Sebagaimana dimaklumi, aktifitas salon dengan komponen manusia di dalamnya membuat Firman merasa terjebak dalam sebuah kehidupan yang kurang “normal”. Mungkin karena aktifitas yang berpangkal dari “seni” menjadikan beberapa pegawai laki-laki berubah menjadi lebih “feminim”. Di sisi lain interaksi yang intens dengan lawan jenis yang “berlebihan” baik kepada pegawai lain maupun pelanggan wanita membuat Firman mengalami ketakutan akan pemaklumannya terhadap lawan jenis sehingga terjebak dalam pola hubungan lawan jenis yang cenderung “bebas”. Karena Firman juga menyadari betapa sebuah “pilihan hidup” tidak jauh dari lingkup kehidupan sehari-hari yang ia temui dan jalani.
.
Perasaan ketakutan ini memang muncul setelah berbagai peristiwa terus melanda bumi nusantara ini. Kebobrokan moral yang berpangkal dari pola hubungan lawan jenis yang bebas terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merebak di seluruh lini kehidupan manusia, dari mulai pejabat, aparat manupun rakyat bisaa. Fenomena semakin banyaknya sosok jenis kelamin laki-laki yang terjebak dalam tingkah laku feminim sehingga menyukai sesama jenisnya, semakin mencekam ketika diakhiri dengan pembunuhan akibat cemburu buta. Pada saat yang sama bimbingan rohani dari tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat selalu mendorong Firman untuk bisa menjadi sosok sejati yang menjalani kehidupan ini dengan kebenaran.
.
Setelah mengalami perenungan yang cukup panjang akhirnya Firman keluar dari rutinitas yang selama ini ia jalani. Hal yang terfikirkan waktu itu yang penting ia keluar dari pekerjaan dan akan mencari pekerjaan lain yang “lebih baik”. Bahkan ia juga merencanakan untuk menikah agar “kesucian” keputusannya tidak “ternodai”. Tetapi dalam pemikiran selanjutnya Firman harus memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu daripada menikah. Uang tabungan yang ia miliki selama ini harus produktif untuk bisa selalu menghasilkan pundi-pundi materi dalam menunjang kebutuhan hidup sehari-hari.
.
Persoalan muncul ketika ia harus menentukan apa yang bisa ia kerjakan dalam aktifitas ekonominya. Berdagang ? Firman merasa tidak mampu. Menjadi pegawai ? Firman tidak bisa membayangkan serangkaian persyaratan yang harus ia siapkan termasuk perasaannya yang mengatakan ia tidak mampu dari sisi intelektual. Akhirnya dengan berbekal uang tabungan ia membeli alat-alat potong rambut termasuk perlengkapannya. Pilihan untuk membuka pangkas rambut (terutama laki-laki dan anak-anak) menjadi pilihan yang ia putuskan karena sesuai dengan bakat dan hobinya.
.
Keputusan yang Firman tetapkan, ia yakini sebagai ketentuan Allah yang tak pernah salah. Maka ketika permasalahan mendera terkait dengan sewa tempat yang sangat mahal untuk ukuran kemampuan Firman, maka ia tetap optimis bahwa hal tersebut dapat terselesaikan pada akhirnya. Maka doa-doa terus ia panjatkan kepada Allah untuk bisa menenteramkan hatinya dalam mengahadapi berbagai kendala.
.
Allah-pun memberikan jalan dari persoalan yang ia hadapi. Motor tua yang Firman miliki harus dengan rela ia jual untuk bisa menyewa tempat di jalan yang sangat strategis. Tetapi ternyata masih kurang dari biaya sewa yang telah ditentukan walaupun sang pemilik telah menurunkan 15 persen dari harga standar. Keraguan sempat menghujam dalam dadanya, sampai akhirnya ia tepis cepat-cepat agar tidak mematahkan semangatnya. Sampai akhirnya sebuah lembaga sosial memberikan sentuhan akhir dari kisah ini. Allah telah turunkan kekuasannya melalui donatur yang menyalurkan melalui lembaga sosial ini, sehingga bisa menggenapkan besarnya biaya sewa.
...
Bantuan donator memang tidak sebesar modal yang telah Firman keluarkan, tetapi ia telah menyempurnakan perjuangan awal sang pejuang ekonomi. Kehadiran bantuan tersebut hadir pada waktu dan tempat yang sangat tepat. Bantuan tersebut telah memberikan makna betapa Allah tidak pernah tidur menyelesaikan permasalahan manusia, selama manusia itu sendiri berusaha keras untuk mendapatkannya.Kini Firman mulai melakukan aktifitas usahanya dengan kemantapana hati. Ia-pun merekrut temannya untuk bersama-sama merintis usaha yang ia mulai dari nol. Sekarang tampak dengan gagah di Jalan Ciputat - Rempoa Raya sebuah Pangkas rambut dan refleksi “Firman”, siap melayani kebutuhan konsumen akan penataan rambut dan kesehatan melalui pijat refleksi. Dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lainnya, Firman sediakan pula es kelapa muda sehingga orang merasa segar dalam kondisi Ciputat-Rempoa yang panas. Selamat Berjuang.