.
Insya Allah, Televisi Khan Terbeli.
.
Ibu Siti Murwati menitikan air mata saat sebuah lembaga sosial memberikan bantuan permodalan usahanya. Bantuan itu memang tidaklah besar, tetapi kebahagiaan yang paling mendalam mampu membesarkan nilai dari nominal yang ia pegang dengan tangan yang bergetar itu. Bantuan itu mampu memberikan semangat luar biasa bagi janda yang tinggal di Kampung dukuh Bungur Kebayoran Lama Jakarta Selatan, untuk selalu bersyukur dengan apa yang ia peroleh. Silaturrahmi itu mampu menambah kesadaran sang Ibu bahwa banyak saudara-saudara seagama masih memberikan perhatian bagi yang membutuhkan. Ibu Siti Murwati terus saja mengucapkan syukur dengan gayanya yang super latah, ternyata sang ibu ini “latah berat ngomongnya”.
..
Ibu Siti Murwati memang patut bersyukur, pengajuannya untuk masuk daftar penerima BLT belum juga dikabulkan oleh aparat setempat. Ia merasa bahagia, program P2KP,PPK maupun PNPM tidak pernah ia kenal apalagi memperoleh fasilitas permodalan dari program tersebut telah ia lupakan untuk berharap terlalu berlebihan. Ia juga menjadi terhibur dengan dengan bantuan itu walaupun kecil, tetapi merupakan bentuk kepeduliaan yang dilandasi dengan keikhlasan. Dirinya juga merasa senang karena tidak ada kebencian sedikitpun dengan keadaan dan orang-orang yang menjadikannya tidak mampu memperoleh akses secara luas terhadap usahanya yang masih butuh suntikan dana.
..
Secara ekonomi, ibu yang tinggal bersama anak dan cucunya ini memang tidak bisa dikatakan sangat menderita, tetapi pengasilannya dengan membuka warung kecil-kecilan hanya mampu memenuhinya kebutuhan hidupnya yang sangat minimal. Usaha yang telah dia jalani cukup lama ini belum mampu menunjukkan posisi “power saving” sehingga mampu membelikan barang-barang kebutuhan selain sandang, pangan dan papan. Delapan jiwa yang tinggal dalam satu atap ini, harus rela berduyun-duyun ke rumah tetangga untuk sekedar nonton TV. Ya… keluarga besar ini tidak memiliki televisi sebagai hiburan di waktu senggang.
..
Pertemuan itu mampu memberikan sebuah rasa persaudaraan, memberi kabar gembira kala sedih, menentramkan saat gulana dan memberi harapan saat asa sedang dipermainkan. Pertemuan itu memberikan tekad bagi Ibu Siti Murwati untuk selalu menjaga amanat disela-sela usahanya untuk mengatasi “latah” yang tak juga kunjung sembuh. Di akhir pertemuannya beliau berkata : “Mudah-mudahan .. eh mudah-mudahan… suatu hari …..eh suatu hari… suatu hari… rumah saya… eh rumah saya ada TV nya… “. TV segede rumah ya bu ? begitu ia digoda, … Eh Iya… eh iya.. mudah-mudahan. Eh….. sebesar rumah… TV nya… eh bukan… TV nya sebesar rumah.. eh rumahnya sebesar TV. Ibu-ibu, ada-ada saja, mudah-mudahan terkabul keinginanmu .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar