Selasa, 06 Januari 2009

sosok6

Panggil Aku Wawi
.
.
Istilah pemberdayaan masyarakat, awalnya menjadi istilah yang belum pernah didengar oleh Wawi dan masyarakat sekitar yang tinggal di Kampung Iwul Parung. Selama hampir 40-an tahun dalam kehidupan Wawi, tidak ada seorang-pun orang yang mengucapkan kata-kata itu. Apalagi menjelaskan bagaimana hal tersebut mampu memberi dampak yang positif kepada masyarakat. Tetapi sekarang istilah itu sudah menjadi bagian dari kehidupan Wawi sehari-hari. Bahkan melalui program inilah mula pertama kali wawi dipanggil namanya oleh pelanggan yang sebelumnya selalu memanggilnya "tahu" atau "mang tahu". Kebahagiaan kecil menyeruak dalam diri wawi ketika pelanggan-pelanggannya berkata : Pak Wawi, beli tahunya!
...
Wawi terlahir 45 tahun yang lalu sebagai bagian dari keluarga besar yang cukup mampu di jamannya. Saat itu Ayahnya H. Jazid merupakan pengusaha tahu yang sukses dan memiliki tanah berupa sawah dan kebun yang luas. kepemilikan tersebut memang tidak terlepas dari warisan kakeknya yang merupakan bagian dari keluarga terpandang pada saat itu.
...
Seiring dengan bertambahnya waktu, maka "kejayaan" itupun mulai memudar. Tanah semakin berkurang luasnya karena dijual untuk berbagai kebutuhan keluarga seperti naik haji maupun mengadakan pesta setiap hajatan yang diselenggarakan secara "berlebihan" termasuk berkurang karena dibagi sebagai warisan. Yang tersisa bagi Wawi selain "jatah" yang ia terima, adalah mewarisi kemampuan orangtuanya sebagai Tukang Tahu. Pak Wawi menghabiskan masa mudanya hingga kini menekuni produksi dan penjualan tahu. Kehidupan hariannya hanya berkutat pada penyiapan bahan, membuat tahu dan memasarkan tahu dengan sepeda. Tidak ada cerita lain yang bisa terungkap selain tahu... tahu... dan tahu seperti yang ia ucapkan setiap kali berkeliling menawarkan barang dagangannya.
...
Hingga akhirnya datanglah sebuah perubahan. Sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memfasilitasi Wawi dan rekan-rekan seprofesinya untuk membentuk suatu kelompok. Maka mulailah wawi dengan cerita yang lebih beragam, dari sekedar tahu menjadi kelompok pengrajin tahu. Diskusi mulai berkembang mengapa perlu berkelompok dan banyak manfaat yang diambil dari pembentukan kelompok usaha tersebut.
...
Wawi merasakan betul manfaat dari program yang dijalankan. Pengetahuannya bertambah melalui diskusi rutin mingguan yang difasilitasi oleh program pemberdayaan. Perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dijadikan komitmen bersama untuk menjadi lebih baik selalu terpantau di setiap minggunya. Kegiatan usaha bersama dirintis untuk bisa menghasilkan keuntungan "tambahan" bagi anggota kelompok. Hingga kegiatan-kegiatan sosial, diselenggarakan oleh kelompok untuk memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat
...
Wawi memang belum mengalami perubahan ekonomi yang sangat drastis tetapi peningkatan pendapatan sebesar 20 persen menjadi tekad dalam dua tahun program tetap membanggakan. Tetapi baginya, kehidupannya menjadi lebih bermakna sekarang ini. Ia tidak lagi berfikir dan terperangkap dalam "tahu" yang selama ini telah erat mengungkungnya. Wawi merasa bebas untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
...
Suatu saat ada sebuah stasiun televisi yang meliput sosok wawi dalam merintis perbaikan ekonomi bersama kelompoknya. Suatu peristiwa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Jangankan diliput, lihat kamera saja ia belum pernah. Tetapi dia kembali sadar bahwa kekuatan pemberdayaan itulah yang mampu mengantarkan yang tidak terangankan menjadi kenyataan. Dan inilah yang akhirnya banyak orang yang menyaksikan tayangan sosok wawi di televisi, termasuk para pelanggan-pelangganya. Dan para pelanggannya baru tahu bahwa tukang tahu yang biasa mereka panggil "tahu" atau "mang tahu" ternyata bernama Pak Wawi. Maka sejak itu Wawi tidak pernah lagi di panggil "tahu" atau "mang tahu" tetapi Pak Wawi. "Pak Wawi beli tahunya"!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar