Kamis, 19 Februari 2009

ngagul

Mentang-Mentang Pakai Ini dan Itu
...
"Kurang ajar.. ! hati-hati dong... mentang-mentang pakai mobil, seenaknya saja !" tiba-tiba seseorang berteriak sesaat setelah mobil kantor yang aku tumpangi melewati sebuah kubangan air di sisi jalan sebelah kiri. Dari kaca spion kulihat seorang pengendara sepeda motor mengacungkan tangannya dengan muka yang memerah menunjukkan ekspresi kemarahan. Tetapi kusuruh driverku untuk tetap melaju menyusuri jalan sembari kukatakan dengan pelan "sorry" yang kutujukkan kepada sang korban yang telah belepotan dengan air kubangan bekas hujan yang menggenang di jalan beraspal.
...
Perjalanan ratusan kilometerpun akhirnya berakhir juga, tetapi tidak dengan perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul dalam sanubariku. Mendengar umpatan orang akibat "kesalahan kecil" dari konsekuensi laju sang mobil bukan sekali ini. Cipratan dari genangan air yang terlindas sang roda merupakan kejadian terbesar selain hemburan debu dan kerikil. Sesaat setelah sang "raja kecil" melakukan kesalahan, maka meluncurlah sumpah serapah sang korban. Tetapi seperti biasa penderitaan yang terucap dalam sumpah serapahnya, kubalas dengan ucapan "sorry" tanpa menghentikan laju mobil.
...
Ya.. perasaan bersalah itu terus muncul ketika peristiwa-peristiwa masa laluku berterbangan dalam lintasan memoriku. Dulu ketika pertama kali aku bekerja di sebuah lembaga pemberdayaan, aku harus berjalan kaki untuk melakukan kegiatan survey di pelosok-pelosok desa. Berjalan kaki sebenarnya bukan pilihan utama, ketiadaan sarana transportasi yang disediakan kantor dan minimnya tunjangan transportasi, menjadikan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bijak. "Perjuangan" terasa teruji ketika musim hujan, selain harus melindungi diri dari air huja, juga harus berhati-hati dengan kubangan air yang berbaris di jalanan.
...
Suatu hari dalam sebuah kegiatan survey aku melihat sebuah genangan air yang cukup besar di pinggir jalan. Antisipasi yang aku lakukan adalah dengan berjalan berhati-hati agar sepatu yang kupakai tidak kotor oleh tanah yang bercampur dengan air. Kutapakan kakiku di atas bebatuan yang menonjol diantara genangan air. Satu... dua... tiga... syukurlah langkah kakiku berada tempat yang tepat untuk dipijakkan dan tinggal dua langkah lagi maka genangan itu bisa kulewati. Prat............. prat............prat..... tiba-tiba sebuah sepeda onthel membuyarkan langkah keberhasilan yang sudah didepan mata. Bukan hanya sepatuku yang kotor, tetapi celana terbaik yang aku miliki juga tidak luput dari keganasan sang lumpur. Maka meluncurlah sumpah serapahku, kurang ajar ya.....! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai sepeda, seenaknya saja ..!
...
Bulan telah berganti dan aku diberi kesempatan oleh Allah untuk memiliki sebuah sepeda onthel (sepeda kayuh). Kubeli sepeda seharga 200 ribu dari tetangga yang sedang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhannya. Maka aktifitas pekerjaanku di masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan kendaraan operasionalku. Ternyata musim hujan kali inipun tetap menciptakan lubang-lubang sebagai tempat yang nyaman bagi air hujan untuk bersemayam.
...
Hari itu hujan terus mengguyur di wilayah bogor bagian utara. Panggilan tugas tidak menyurutkanku untuk tetap menembus gelapnya malam dan derasnya hujan. Sepeda yang tidak memiliki lampu ini harus tertatih-tatih menelusuri jalan yang tak lagi ramah. Karena sering melewati rute perjalanan, maka aku hafal benar iramanya. Akupun sudah bersiap-siap dengan sebuah genangan air yang biasanya terhampar setelah tikungan "binong" di depan. Maka akupun secara bertahap mengarahkan laju sepedaku agak ke tengah sehingga tidak terjebak dalam lubang yang agak dalam dan berisi tampungan air hujan. Tin.. tin.... tin... suara klakson yang memekakan telingaku membuat aku terkejut dan secara refleks menepikan sepedaku dan brukk..... ! Terjerembab aku dalam kubangan dan basah kuyublah aku sembari berkata, "Kurang ajar ..... ! hati-hati dong....! mentang-mentang pakai motor, seenaknya saja....!.
...
Tahun berganti dan akupun diberi kesempatan sekali lagi oleh Allah untuk bisa memiliki sepeda motor. Kudapatkan sepeda motor melalui "over kredit" seorang teman yang sedang membutuhkan biaya untuk operasi istrinya. Aku hanya punya kewajiban mengganti uang muka yang telah dibayarkan dan meneruskan kredit 10 bulan berikutnya. "wah kamu untung" kata seorang teman mengomentari kisah kepemilikan motorku ini, tetapi bagiku menolong teman adalah lebih utama dari sekedar perhitungan untung dan rugi.
...
Sepeda motorku mampu meningkatkan daya jelajah pengabdianku dalam lembaga yang aku yakini sebuah sebuah pilihan hidup. Puluhan hingga ratusan kilometer dapat kutempuh untuk menuanaikan tuntutan kewajiban pekerjaan. Suatu kesempatan, panggilan tugas menuntunku untuk mengunjungi sebuah desa di utara tangerang. Desa pinggir pantai utara ini harus kudatangi demi peningkatan kualitas hidup yang harus secara bertahap untuk ditingkatkan. Musim hujankembali hadir, dan itulah yang membuatku harus berhati-hati dalam menempuh perjalan sekitar 75 kilometer. Sengaja aku ambil jalan alternatif untuk lebih mempersingkat jarak jika dibandingkan dengan jalan utama yang ada.
...
Jalan alternatif tidak semulus jalan utama yang ada. Genangan air masih menjadi pemandangan rutin dalam perjalananku ini. Dan ternyata jalan alternatif ini juga menjadi pilihan alternatif kendaraan yang lebih besar dari kendaraan motor, seperti truk dan mobil. Waspada dan hati-hati tetap kulakukan agar bisa selamat dalam perjalanan. Di saat aku sedang menikmati perjalananku ini tiba-tiba... prat...............prat...... prat...... cairan kotor telah menghiasi jaketku yang tembus air. Sesaat kemudian meluncurlah sumpah serapahku kepada sang pengendara mobil " Kurang ajar.......! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai mobil.... seenaknya saja ...!
...

Rabu, 18 Februari 2009

sosok12

Belajar dari kegigihan Nenek Misraya
...
Bunyi pecahan batu yang berirama cempreng telah mengalahkan deru kendaraan yang sesekali lewat di jalan yang berdebu karena aspalnya sudah lama rontok dimakan usia. Udara panas yang dihembuskan pantai tidak menyurutkan nenek Misraya (65) untuk tetap memecah batu sebesar bongkahan buah mangga itu.
...
Rumahnya yang terbuat dari gedek bambu hasil gotong royong tetangganya menjadi tumpuan terakhir berlindung dari teriknya panas pantai. Untunglah rumahnya persis berada ditepi sungai Cikaung di Rt. 01/02 Ds. Ujung Jaya Kec. Sumur, Ujung Kulon, Pandeglang Banten, sehingga jika mudah untuk mendapatkan batu-batu yang akan mengganjal rasa lapar yang melilitnya.
...
Jika selepas mengambil wudhu di sungai yang airnya masih jernih ini ia selalu menggendong batu-batu untuk dibawa ke rumahnya dengan menggunakan karung atau ember. Setelah berzikir mengahap sang kholik, tangan tuanya yang masih kelihatan kokoh mengayun-ngayunkan palu kecil yang dapat memecahkan batu-batuan menjadi kerikil.
...
Kulitnya yang hitam kelam menyiratkan kalau ia pekerja keras dan pantang menyerah. Butuh waktu satu jam untuk mendapatkan satu kaleng kerikil yang ia hargakan Rp. 1.500,- dalam satu hari ia mampu bekerja tiga jam, berarti Rp. 4.500 sudah dalam bayangannya. Kerikil hasil jerih payahnya ia onggokan di depan rumahnya „ Biar mudah kelihatan, kali aja ada yang butuh“ alasannya, matanya memandang onggokan batu hasil keringatnya beberapa hari yang lalu.
...
Meskipun ia tau bahwa kebanyakan rumah tetangganya terbuat dari bambu, berati jarang sekali keirilnya diburhkan karena biasanya hanya terjual jika ada tetangganya yang membangun rumah, tapi tak ada putus asa dalam kamusnya, ia pun mengumpulkan pasir dari sungai. Suaminya telah lama pergi meninggalkan kehidupannya yang terseok-seok, bahkan ia pun tidak tahu persis tahun berapa ia cerai dengan suaminya yang sampai saat inipun tidak ia ketahui dimana rimbanya. Dua anaknya yang diharapakan bisa menjadi pendamping hidup menelusuri ombak kehidupan yang terjal. Meninggal pada saat masih kanan-kanak.
...
Menggarapa sawah milik orang lain pun ia jalani, tak pernah berhenti tangan tuanya untuk selalu bekerja dan bekerj „Teu Kuli, Teu barang dahar“ (tidak bekerja, tidak makan), itulah folosofis sederhana. Ia tengok ke dalam rumah dan sinar matahari masuk menerangi rumahnya yang tanpa kaca tersebut menandakan akan bocor pada saat musim penghujan seperti sekarang ini „ Inginnya rumah ini diperbaiki, tapi gak ada biaya“ permohonannya sederhana. (Hendra Setia)
...

Senin, 16 Februari 2009

harapan

Berharap kakinya Tidak Diamputasi
...
Bapak Syarifudin terperanjat ketika bangun tidur, ia dapati kakinya mengalami pembengkakan. Seingat dia, tidak ada kejadian tertentu yang kemungkinan sebagai penyebab membesarnya telapak kaki kirinya tersebut. Rasa sakit mulai dirasakan oleh sang bapak yang telah ditinggal oleh istri tercintanya karena meninggal di tahun 1994 yang lalu. Tak menunggu waktu lama bapak 9 orang anak ini, memeriksakan diri ke rumah sakit yang ada di daerah Kamal Kalideres. Hal tersebut ia lakukan karena pembengkakan di kakinya ada bagian yang terkelupas dan mengeluarkan cairan bening.
...
Bapak Syarifudin yang tinggal di Kebon Made Kelurahan Kamal Kalideres ini merasa lebih tenang, ketika pihak rumah sakit mengatakan bukan merupakan penyakit gula (diabetes) dan hanya penyakit biasa. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, tanda-tandanya mirip dengan penyakit gula yang sulit sembuh jika terjadi luka. Tetapi ketenangan hati sang bapak yang tinggal di rumah satu petak ini hanya berjalan beberapa hari saja, karena hari-hari kemudian ia rasakan sebagai hari yang mencemaskan. Bagaimana tidak ? pembengkakan di kakinya telah berganti menjadi borok (koreng) yang semakin lama semakin meluas. Jika kulit yang menahan cairan itu terkelupas, maka saat itulah boroknya terus bertambah. Sedih memenuhi sisi kehidupannya sama seperti kesedihan menderanya ketika sang istri tercinta meninggal dunia.
...
Dua bulan telah berlalu, Bapak Syarifudin masih berharap akan kesembuhannya. Dia tidak lagi terus menerus meratapi kesulitan hidup yang Tuhan berikan kepadanya. Dia juga berusaha untuk selalu menghindari rasa putus asa yang kadang hinggap dalam benak sang bapak yang sebelumnya berjualan burung peliharaan. Dia juga tidak ingin larut dalam penderitaannya yang memaksanya terus tinggal di rumah yang sudah sempit dan tidak lagi nyaman yang tentunya tidak bisa kemana-mana seperti ketika dia sehat. Setiap hari keadaan memaksanya untuk berada di ruangan yang sempit dengan pemandangan berupa perabotan yang ala kadarnya. Ia kadang sedih tidak bisa memberikan tempat yang layak bagi anak-anaknya walau sekedar kamar tidur bagi anak-anak perempuannya. Tetapi kesedihan yang ia rasakan, jangan sampai membuatnya berprasangka buruk kepada Allah.
...
Kakinya sudah mati rasa, sehingga dia tidak lagi merasakan sakit di kakinya. Tetapi ketika ia paksakan untuk berjalan maka kakinya akan mengeluarkan darah, sehingga oleh anak-anaknya disarankan untuk tidak memaksakan diri untuk bergerak. Kebutuhan harian dan sekedar untuk membeli obat antibiotik ia dapatkan dari anak-anaknya yang telah bekerja, itupun dengan jumlah yang terbatas. Selama ini bantuan dari tetangga atau dari pihak manapun belum ia peroleh, karena memang ia tidak pernah meminta kepada mereka. Dia hanya berharap bahwa ia bisa sembuh, bisa bekerja lagi dan berharap pula kakinya tidak diamputasi. Dia terus berdoa kepada Allah dan yakin Allah akan berikan jalan keluar tanpa ia sendiri ketahui bagaimana caranya.
...

Rabu, 11 Februari 2009

perjalanan

Perjalanan Panjang Yang Tak Lagi Panjang
....
Ketika hendak pulang kampung dengan sepeda motor untuk yang pertama kalinya, beribu keraguan terus saja menyelimuti keputusanku. Ketidakpercayaan untuk menempuh perjalanan sejauh 450 kilometer, hampir saja meruntuhkan keinginan melewati sebuah pengalaman baru. Ketakutan akan berbagai bahaya dan aral melintang dalam menyisiri beberapa propinsi di pulau Jawa ini, mampu mengantarkanku pada kebimbangan terhadap perencanaan yang telah tersusun. Perasaan sangsi atas kemampuan berkendaraanku sendiri, terus mengimbangi kualitas teknis yang teruji di hadapan polisi ketika aku mengikuti Ujian memperoleh SIM.
...
Tetapi tekad telah terhunjam, keputusan telah final dan keinginan untuk melakukan hal baru telah tertanam kuat dalam obsesiku. Perjalan ini memang bukan hal yang sangat luar biasa bagi kebanyakan orang, tetapi bagiku inilah perwujudan sebuah motivasi. Aktifitas ini terkesan tidak memiliki makna apapun selain terkesan "nekad" tapi bagiku kapan lagi kita belajar untuk menghadapi rintangan secara jantan dan tidak terus lari dari kenyataan. Berkendaraan dalam perjalanan jauh dengan sepeda motor memang tidak direkomendasikan oleh "pihak berkepentingan", tapi bagiku dengan membawa motor ini ke kampung maka dalam sekian hari dan pekan akan bermanfaat menunjang mobilitasku.
...
Setelah memantapkan diri untuk melakukannya, maka kususun sebuah strategi agar dapat kulalui perjalanan yang panjang ini. Sebuah perencanaan yang mampu menyelesaikan rute ini dengan kondisi yang tetap stabil untuk mengimbangi beban konsentrasi yang harus tetap dijaga. Sebuah langkah jitu yang tetap memberikan energi agar tujuan dari aktifitas ini bisa tercapai. Dan sebuah hitungt-hitungan agar apa yang telah direncanakan tidak sia-sia dan berakhir dengan kekonyolan.
...
Yapp.... ketemu... kutemukan sebuah strategi, perencanaan dan langkah yang jitu. Konsep ini cukup berada dalam pikiranku, tanpa perlu tertulis dalam sebuah rangkaian kalimat. Jalan keluarnya juga cukup singkat sehingga tidak perlu untuk tersusun dalam sebuah "flow chart" yang rumit. Ya.... perjalanan panjang ini ternyata tersusun atas perjalan-perjalanan pendek yang bersambung dan berurutan. Ya ternyata perjalanan yang aku lakukan hanyalah perjalanan pendek berjarak 1 kilometer yang bersambung sebanyak 450 kali. Aku hanya perlu melajukan motorku untuk jarak 10 kilometer yang bersambung hingga 45 kali. Dan aku cukup mengendarai motor sahajaku sepanjang 45 kilometer lalu beristirahat dan kulanjutkan lagi hingga sepuluh kali istirahat.
...
Dalam hidup banyak hal-hal besar yang ingin kita rengkuh hingga ia menjadi bagian dari apa yang kita sebut sebagai perjalanan hidup. Cita-cita melambung setinggi langit seperti yang diajarkan para generasi pendahulu menjadikan ia kadang beririsan dengan khayalan semu yang tidak pernah kunjung datang. Harapan-harapan kebaikan terasa silih berganti mengiringi kepedihan yang kerap mendekati bahkan memeluk kita secara erat-erat. Dan para motivator di negeri ini terus memprovokasi kita untuk terus merajut asa yang tercerai berai oleh ketakutan yang terus mengiringi kita. Bahkan sebagian orang membayar dengan materi secara berlebihan terhadap apa yang mereka sebut sebagai mimpi.
...
Akhirnya banyak dari sekian manusia yang kehabisan energi untuk merengkuh kebesaran dengan menurunkannya sebagai kehidupan yang realistis. Cita-cita yang telah dilambungkan ia tarik kembali dalam sikap oportunis yang pragmatis. harapan-harapan kebaikan ia bungkus dengan stigma khayalan dalam sebuah pepesan kosong. Dan para motivator yang biasa dikonsumsi inspirasinya ia tempatkan jauh-jauh dalam lubuk hatinya sembari berkata "Ah Omong Kosong".
...
Pada hakikatnya semua bisa tercapai dengan tahapan-tahapan yang mampu dan bisa kita kerjakan. Hal-hal besar yang ingin kita rengkuh, sejatinya merupakan akumulasi hal-hal kecil yang secara konsisten terus kita perjuangkan, hingga ia kemudian membesar dan menjadi sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Cita-cita yang melambung itu pada hakikatnya rangkaian keinginan-keinginan kecil yang tersusun secara rapi dan berkelanjutan hingga membentuk garis lurus ke atas. Harapan yang terkesan muluk pada dasarnya merupakan sekumpulan hasrat yang terus terpendam dan menghujam dalam hati untuk kemudian diteruskan sebagai sebuah energi besar untuk menggapainya.

Selasa, 27 Januari 2009

ujian

Mengapa Kita Harus Mengikuti Ujian ?
...
Pada saat penerimaan raport semester pertama anak saya, kulihat ada dua mata pelajaran terpampang dengan nilai yang tidak sedap dipandang mata. Hanya saja warnanya tidak merah seperti pada jaman aku sekolah dahulu. Warnanya menjadi hitam, tetapi ia sama kualitasnya dengan warna merah di raport jaman dahulu. Tetapi nilai itu memang sudah aku perkirakan sebelumnya, apa pasal ?. Pada saat ujian semester berlangsung, dua mata pelajaran itulah yang tidak diikuti oleh anakku.
...
"Abi, kenapa sih kita perlu mengikuti tes (ujian) ?" begitulah pertanyaan anakku yang baru kelas 1 SD, ketika kusampaikan kenapa nilainya kurang bagus. "Anakku, jika kita mampu menjawab soal-soal dalam ujian semester, maka kita berarti telah mampu mengikuti pelajaran. Di akhir semester depan ujian lagi dan Aida bisa menyelesaikannya, maka Aida bisa naik kelas".
...
Bssssss..... tiba-tiba aku merasakan sesuatu memenuhi emosiku. Sesuatu yang menjelaskan betapa selama ini aku sering mengeluh terhadap ujian-ujian kehidupan. Tidak terima dengan keadaan sering hadir mengiringi setiap keputusan Tuhan. Terlena dengan ujian kesenangan yang selalu kuterima sebagai sebuah keharusan. Terlempar dalam keputus asaan di saat banyak hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Terjatuh dalam kehinaan di saat keburukkan aku anggap sebagai sebuah pemakluman.
...
Pertanyaan Anakku memberikan kejelasan betapa rapuhnya aku menghadapi kuatnya terpaan kehidupan. Pertanyaan anakku menggambarkan betapa aku tidak memahami pelajaran-pelajaran kehidupan. Pertanyaan anakku menyadarkanku bahwa selama ini aku tidak mau untuk meningkatkan "kelas" kehidupan melalui ujian yang harus kujalani. Aku ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, siang malam kuberdoa agar hal tersebut bisa tercapai. tetapi kita Tuhan berikan kesempatan melalui sebuah ujian, aku terpuruk dan kalah sebelum aku bisa menyelesaikan ujian tersebut. Ya... Allah... berikan aku ujian, jika itu mampu memberikan "kelas" terbaik bagiku.
...
Ujian kehidupan bisa berupa apa saja, apakah itu kesenangan maupun kesedihan. Ketika ada sebuah kesadaran yang baik terhadap ujian kehidupan yang kita terima, maka pada saat yang sama ada potensi besar kita bisa merasakan kebahagiaan setara dengan penderitaan yang kita peroleh. Maka hanya orang-orang yang cerdas saja yang memaknai ujian dan penderitaan sebagai sebuah tantangan dan menjadikannya sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Kekurangan rezeki adalah sebuah peluang kita untuk bekerja keras menambah rezeki yang sebenarnya telah disediakan Allah kepada kita. Kehinaan yang kerap hadir dalam keseharia kita adalah sarana kita untuk memperoleh kemuliaan dengan tidak menghina dan mencaci orang-orang yang pada hakikatnya lebih terhina.
...

Senin, 26 Januari 2009

menang

Bukan Masalah Menang atau Kalah
...
Seperti biasanya pagi ini aku memulai perjalanan rutin puluhan kilometer menuju kantorku. Setelah memastikan semuanya dalam kondisi baik-baik saja, segera melajulah aku menuju jalanan yang kini semakin bertambah banyak lubangnya. Hujan yang terus mengguyur selatan jakarta ini, mampu mengikis kekuatan aspal yang telah menghiasi jalan sekitar 3 bulan yang lalu.
...
Lubang yang membuat kesal para pengguna jalan ini, sepertinya akan terus terjadi jika musim penghujan tiba. Selama air hujan terus menggenangi jalanan ini, maka selama itulah lubang-lubang baru akan tercipta. Heran, orang pintar negeri ini tidak mampu membenahi permasalahan yang seharusnya tidak lagi menambah masalah pengguna jalan yang memang sudah penuh dengan masalah.
...
Oops.. Aku masih dalam perjalanan, sehingga konsentrasi lebih penting dari hanya sekedar mencibir sang "ahli" yang tidak lagi pintar. Kekecewaanku pada "pihak yang berkepentingan" aku sisihkan dengan kewaspadaan agar bisa menghindari lubang-lubang di jalan yang semakin sulit aku hitung. Kecepatan motorku masih standar pada saat secara tiba-tiba, ada sebuah sepeda motor dengan kecepatan yang cukup tinggi dan kurang terkendali menghampiriku.
...
Aku panik menghadapi situasi seperti ini. Motornya agak oleng dan dia kerepotan mengendalikan laju kendaraan yang ia naiki. Sebuah lubang di tengah jalan harus ia hindari secara tiba-tiba dan memakai badan jalan sebelan kanan yang seharusnya tidak ia lewati karena ada garis putih memanjang tanpa putus. Kesal aku melihat kejadian itu, sudah tahu banyak lubang tapi masih saja melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Oops... sekali lagi aku harus kendalikan emosiku untuk menilai terlalu banyak terhadap orang lain. Sekarang masalahnya bagaimana keadaan ini tidak menimbulkan keadaan yang lebih buruk.
...
Tanpa memperdulikan siapa menang dan kalah, maka aku banting ke kiri sepeda motor yang kukendarai hingga masuk parit yang tidak terlalu lebar. Kecepatanku yang tidak terlalu kencang, mengakibatkan aku hanya terjatuh pelan tertimpa motor merahku. Sementara "sang jagoan" terus berlalu seiring dengan kemampuannya menguasai keadaan tanpa menengok sedikitpun ke arahku. Kesal.. kesal dan kesal...
...
Keadaan kita, terkadang dihadapkan pada sebuah pilihan-pilihan yang tidak menyenangkan. Keadaan yang tidak nyaman itu justru hadir pada saat kita tidak layak mendapatkannya. Kita juga kadang tidak memperoleh penghargaan dari kemenangan dan kebenaran yang telah kita lakukan. Kemenangan itu seharusnya berada di atas dari kebenaran yang telah kita tegakkan. tetapi pada kenyataannya, tidak selamanya menang dan benar akan menentukan keadilan yang seharusnya kita peroleh.
...
Ternyata benar dan menang terkalahkan oleh kemanfaatan dan kebaikan yang lebih besar. Benar dan menang tidak sekaku sistem operasional di sebuah alat. Benar dan menang masih bisa menyesuaikan setelah terjadi banyak pertimbangan. Benar dan menang bertoleransi dengan diskusi dan tenggang rasa. Jadi bukan masalah benar dan salah serta menang dan kalah.
...
Hingga pada akhirnya, aku juga tidak merasa pada situasi benar dan salah ketika sebuah keputusan, istriku memilih melahirkan di sisi sang orang tua di kampung dari pada ditemaniku. Dan aku juga tidak merasa pada situasi kalah dan menang, jika kemudian aku harus mengurus dua anakku yang ia tinggal. Kedua anakku tidak mungkin pergi ke kampung, karena mereka harus tetap bersekolah.
...

Rabu, 21 Januari 2009

ekstrim

Terpojok dalam Kutub-Kutub
...
Sudah rutin aku lakukan di pagi dan petang hari untuk menempuh puluhan kilometer menuju kantor. Sejauh itu pula aku terus berdamai dengan motor dan jalanan yang tidak lagi ramah. Tiba-tiba secara tak sengaja ada dua motor berdampingan berjalan pelan mengatasi kemacetan tepat berada di depanku. Dan ternyata ada hal yang menurutku sangat menarik. Di bagian belakang motor tertulis sebuah kata-kata yang berbeda satu dengan yang lain. Salah satu motor tertempel sebuah stiker dengan tulisan "Hari gini nggak punya gigi ? Ompong Dech !". Sedangkan satu motor lagi melekat sebuah stiker bertuliskan "Hari gini oper gigi ? capek Dech !".
...
Setelah membaca tulisan di kedua stiker tersebut, aku menjadi teringat betapa kita ini selalu saja disuguhi dengan pilihan-pilihan yang ekstrim. Kutub-kutub "pengakuan kebenaran" di satu pihak disempurnakan dengan "pengklaiman keburukan" di luar kebenaran yang ia bangun. Jangan heran jika kita disuguhi tampilan sosok politikus yang mengatakan apapun yang keluar dari lawan politiknya, akan selalu salah. Bahkan kebaikan-kebaikan yang ditimbulkannya pun akan tenggelam dalam "kebersalahannya".
...
Ketika kita tonton sebuah film maka kutub-kutub ini akan menggiring kita pada situasi "memaklumi". Apapun yang dilakukan "sang jagoan" akan kita tempatkan sebagai sebuah kebenaran. Membunuh, merusak, menyiksa, berbohong bahkan memperkosa sekalipun kita anggap sebagai sebuah kebenaran atau minimal kita tidak menempatkan sebagai sebuah kesalahan. Ketika peran anatagonis muncul maka penggambarannya akan selalu menuju kesalahan dan kita tergiring untuk mengklaim semua tingkah lakunya sebagai sesuatu yang harus dijauhi secara emosional.
...
Coba renungkan, karena kebencian kepada seseorang maka seluruh atribut dan kebaikan yang menempel dalam dirinya akan selalu kita maknai sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan jika membenci seseorang maka lihat wajahnya saja, kita sudah muak. Ya... baru sekedar lihat wajah, padahal dia belum melakukan apapun. Apalagi kemudian mengucapkan sesuatu maka itu adalah sapaan yang nyaris tidak mau kita dengar walaupun dia mengucapkan salam dan untaian kebaikan. Semua hilang oleh sebuah ekstrimisme sikap kita. Sejatinya setiap manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, memiliki banyak kekurangan diantara serangkaian kekurangan yang ia miliki. Pahamilah, ambilah segala kebaikan dan buanglah setiap keburukan secara arif dan bijaksana.
...