Terpojok dalam Kutub-Kutub
...
Sudah rutin aku lakukan di pagi dan petang hari untuk menempuh puluhan kilometer menuju kantor. Sejauh itu pula aku terus berdamai dengan motor dan jalanan yang tidak lagi ramah. Tiba-tiba secara tak sengaja ada dua motor berdampingan berjalan pelan mengatasi kemacetan tepat berada di depanku. Dan ternyata ada hal yang menurutku sangat menarik. Di bagian belakang motor tertulis sebuah kata-kata yang berbeda satu dengan yang lain. Salah satu motor tertempel sebuah stiker dengan tulisan "Hari gini nggak punya gigi ? Ompong Dech !". Sedangkan satu motor lagi melekat sebuah stiker bertuliskan "Hari gini oper gigi ? capek Dech !".
...
Setelah membaca tulisan di kedua stiker tersebut, aku menjadi teringat betapa kita ini selalu saja disuguhi dengan pilihan-pilihan yang ekstrim. Kutub-kutub "pengakuan kebenaran" di satu pihak disempurnakan dengan "pengklaiman keburukan" di luar kebenaran yang ia bangun. Jangan heran jika kita disuguhi tampilan sosok politikus yang mengatakan apapun yang keluar dari lawan politiknya, akan selalu salah. Bahkan kebaikan-kebaikan yang ditimbulkannya pun akan tenggelam dalam "kebersalahannya".
...
Ketika kita tonton sebuah film maka kutub-kutub ini akan menggiring kita pada situasi "memaklumi". Apapun yang dilakukan "sang jagoan" akan kita tempatkan sebagai sebuah kebenaran. Membunuh, merusak, menyiksa, berbohong bahkan memperkosa sekalipun kita anggap sebagai sebuah kebenaran atau minimal kita tidak menempatkan sebagai sebuah kesalahan. Ketika peran anatagonis muncul maka penggambarannya akan selalu menuju kesalahan dan kita tergiring untuk mengklaim semua tingkah lakunya sebagai sesuatu yang harus dijauhi secara emosional.
...
Coba renungkan, karena kebencian kepada seseorang maka seluruh atribut dan kebaikan yang menempel dalam dirinya akan selalu kita maknai sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan jika membenci seseorang maka lihat wajahnya saja, kita sudah muak. Ya... baru sekedar lihat wajah, padahal dia belum melakukan apapun. Apalagi kemudian mengucapkan sesuatu maka itu adalah sapaan yang nyaris tidak mau kita dengar walaupun dia mengucapkan salam dan untaian kebaikan. Semua hilang oleh sebuah ekstrimisme sikap kita. Sejatinya setiap manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, memiliki banyak kekurangan diantara serangkaian kekurangan yang ia miliki. Pahamilah, ambilah segala kebaikan dan buanglah setiap keburukan secara arif dan bijaksana.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar