Jangan Terlalu Berharap
...
Seorang teman menyampaikan kepadaku tentang keinginannya untuk bekerja "lebih tetap" dari hanya sekedar relawan di sebuah organisasi sosial. Perkataannya memang terkesan hanya sebagai pemanis "obrolan semata". Tetapi bagiku itulah sebuah perasaan hatinya yang paling terdalam. Maka pada suatu kesempatan kusampaikan keinginannya kepada rekan yang memiliki "wewenang" untuk menerima karyawan. Maka diterimalah ia untuk bekerja di tempat yang memang ia "sangat menginginkannya.
...
Tiga tahun telah berlalu dan aku bertemu dengannya dalam pekerjaan-pekerjaan yang sering dilakukan bersama walaupun berbeda lembaga. Keakraban yang aku susun, sengaja aku pererat agar dia bisa lebih kuat persaudaraannya. Gurauan dan canda yang aku sampaikan tentang masa-masa sulitnya ternyata tidak berujung pada lintasan "kehadiranku" dalam perbaikan kehidupannya. Padahal kisah sulit yang aku ungkit, berharap ada ungkapan terima kasih hingga pelukan kesyukuran atas jasa yang kuberikan.
...
Seorang teman sekantor menceritakan tentang harapannya agar bisa kembali mengelola sebuah program yang telah selesai pada tahap awal. Keinginannya begitu kuat, walau tidak tersampaikan secara menggebu. tetapi naluriku mengatakan ada sesuatu yang ingin ia capai dan tidak sekedar mengelola program yang berlokasi di luar pulau jawa ini. Maka ketika ada sebuah kesempatan, aku mengajukan namanya sebagai kandidat untuk menangani program yang memasuki tahap berikutnya, kepada pihak yang "memiliki" kewenangan untuk menerima sumber daya manusia. Diterimalah ia bekerja di tempat yang diinginkanya sekaligus mempersunting pujaannya yang tinggal di sekitar tempatnya bekerja. Oh.... ternyata........
...
Empat tahun telah berlalu dan akhirnya aku bertemu dengannya di sebuah proyek yang ditangani secara bersama. Awal perjumpaan kami dibumbui dengan kisah-kisah lama yang sempat terputus oleh jarak dan waktu. Tetapi ketika aku ungkit tentang bagaimana dia bisa memperoleh pekerjaan itu, ternyata tidak ada lintasan diriku dalam kisah yang ia susun. Padahal niatanku untuk mengungkit cerita itu, agar ada "sejarah besarku" yang bisa dia ungkap dan berujung pada ucapan "terima kasih".
...
Pamrih dan penghargaan, sering mengikuti aktifitas baik yang telah kita lakukan. Penghargaan itu kadang hanya sekedar ucapan terima kasih. Apapun motivasinya orang akan sangat senang jika "perannya" bisa diketahui orang. Kepuasan akan terasa bagi si pemberi bantuan jika pemahaman orang terhadap bantuan yang kita berikan semakin besar. Di sisi lain, membuat peran dalam lintasan keberhasilan pada kehidupan orang lain tidak harus berharap pada penghargaan. Jika kita terlalu banyak berharap maka akan merusak "bantuan" yang telah kita berikan. Kerelaan melakukan tidak harus sebanding dengan besarnya penerimaan. Bisakah kita melakukan kebaikan tanpa ingin disebut pahlawan? Apalagi terjebak dalam hitungan materi.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar