Kamis, 19 Februari 2009

ngagul

Mentang-Mentang Pakai Ini dan Itu
...
"Kurang ajar.. ! hati-hati dong... mentang-mentang pakai mobil, seenaknya saja !" tiba-tiba seseorang berteriak sesaat setelah mobil kantor yang aku tumpangi melewati sebuah kubangan air di sisi jalan sebelah kiri. Dari kaca spion kulihat seorang pengendara sepeda motor mengacungkan tangannya dengan muka yang memerah menunjukkan ekspresi kemarahan. Tetapi kusuruh driverku untuk tetap melaju menyusuri jalan sembari kukatakan dengan pelan "sorry" yang kutujukkan kepada sang korban yang telah belepotan dengan air kubangan bekas hujan yang menggenang di jalan beraspal.
...
Perjalanan ratusan kilometerpun akhirnya berakhir juga, tetapi tidak dengan perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul dalam sanubariku. Mendengar umpatan orang akibat "kesalahan kecil" dari konsekuensi laju sang mobil bukan sekali ini. Cipratan dari genangan air yang terlindas sang roda merupakan kejadian terbesar selain hemburan debu dan kerikil. Sesaat setelah sang "raja kecil" melakukan kesalahan, maka meluncurlah sumpah serapah sang korban. Tetapi seperti biasa penderitaan yang terucap dalam sumpah serapahnya, kubalas dengan ucapan "sorry" tanpa menghentikan laju mobil.
...
Ya.. perasaan bersalah itu terus muncul ketika peristiwa-peristiwa masa laluku berterbangan dalam lintasan memoriku. Dulu ketika pertama kali aku bekerja di sebuah lembaga pemberdayaan, aku harus berjalan kaki untuk melakukan kegiatan survey di pelosok-pelosok desa. Berjalan kaki sebenarnya bukan pilihan utama, ketiadaan sarana transportasi yang disediakan kantor dan minimnya tunjangan transportasi, menjadikan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bijak. "Perjuangan" terasa teruji ketika musim hujan, selain harus melindungi diri dari air huja, juga harus berhati-hati dengan kubangan air yang berbaris di jalanan.
...
Suatu hari dalam sebuah kegiatan survey aku melihat sebuah genangan air yang cukup besar di pinggir jalan. Antisipasi yang aku lakukan adalah dengan berjalan berhati-hati agar sepatu yang kupakai tidak kotor oleh tanah yang bercampur dengan air. Kutapakan kakiku di atas bebatuan yang menonjol diantara genangan air. Satu... dua... tiga... syukurlah langkah kakiku berada tempat yang tepat untuk dipijakkan dan tinggal dua langkah lagi maka genangan itu bisa kulewati. Prat............. prat............prat..... tiba-tiba sebuah sepeda onthel membuyarkan langkah keberhasilan yang sudah didepan mata. Bukan hanya sepatuku yang kotor, tetapi celana terbaik yang aku miliki juga tidak luput dari keganasan sang lumpur. Maka meluncurlah sumpah serapahku, kurang ajar ya.....! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai sepeda, seenaknya saja ..!
...
Bulan telah berganti dan aku diberi kesempatan oleh Allah untuk memiliki sebuah sepeda onthel (sepeda kayuh). Kubeli sepeda seharga 200 ribu dari tetangga yang sedang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhannya. Maka aktifitas pekerjaanku di masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan kendaraan operasionalku. Ternyata musim hujan kali inipun tetap menciptakan lubang-lubang sebagai tempat yang nyaman bagi air hujan untuk bersemayam.
...
Hari itu hujan terus mengguyur di wilayah bogor bagian utara. Panggilan tugas tidak menyurutkanku untuk tetap menembus gelapnya malam dan derasnya hujan. Sepeda yang tidak memiliki lampu ini harus tertatih-tatih menelusuri jalan yang tak lagi ramah. Karena sering melewati rute perjalanan, maka aku hafal benar iramanya. Akupun sudah bersiap-siap dengan sebuah genangan air yang biasanya terhampar setelah tikungan "binong" di depan. Maka akupun secara bertahap mengarahkan laju sepedaku agak ke tengah sehingga tidak terjebak dalam lubang yang agak dalam dan berisi tampungan air hujan. Tin.. tin.... tin... suara klakson yang memekakan telingaku membuat aku terkejut dan secara refleks menepikan sepedaku dan brukk..... ! Terjerembab aku dalam kubangan dan basah kuyublah aku sembari berkata, "Kurang ajar ..... ! hati-hati dong....! mentang-mentang pakai motor, seenaknya saja....!.
...
Tahun berganti dan akupun diberi kesempatan sekali lagi oleh Allah untuk bisa memiliki sepeda motor. Kudapatkan sepeda motor melalui "over kredit" seorang teman yang sedang membutuhkan biaya untuk operasi istrinya. Aku hanya punya kewajiban mengganti uang muka yang telah dibayarkan dan meneruskan kredit 10 bulan berikutnya. "wah kamu untung" kata seorang teman mengomentari kisah kepemilikan motorku ini, tetapi bagiku menolong teman adalah lebih utama dari sekedar perhitungan untung dan rugi.
...
Sepeda motorku mampu meningkatkan daya jelajah pengabdianku dalam lembaga yang aku yakini sebuah sebuah pilihan hidup. Puluhan hingga ratusan kilometer dapat kutempuh untuk menuanaikan tuntutan kewajiban pekerjaan. Suatu kesempatan, panggilan tugas menuntunku untuk mengunjungi sebuah desa di utara tangerang. Desa pinggir pantai utara ini harus kudatangi demi peningkatan kualitas hidup yang harus secara bertahap untuk ditingkatkan. Musim hujankembali hadir, dan itulah yang membuatku harus berhati-hati dalam menempuh perjalan sekitar 75 kilometer. Sengaja aku ambil jalan alternatif untuk lebih mempersingkat jarak jika dibandingkan dengan jalan utama yang ada.
...
Jalan alternatif tidak semulus jalan utama yang ada. Genangan air masih menjadi pemandangan rutin dalam perjalananku ini. Dan ternyata jalan alternatif ini juga menjadi pilihan alternatif kendaraan yang lebih besar dari kendaraan motor, seperti truk dan mobil. Waspada dan hati-hati tetap kulakukan agar bisa selamat dalam perjalanan. Di saat aku sedang menikmati perjalananku ini tiba-tiba... prat...............prat...... prat...... cairan kotor telah menghiasi jaketku yang tembus air. Sesaat kemudian meluncurlah sumpah serapahku kepada sang pengendara mobil " Kurang ajar.......! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai mobil.... seenaknya saja ...!
...

Rabu, 18 Februari 2009

sosok12

Belajar dari kegigihan Nenek Misraya
...
Bunyi pecahan batu yang berirama cempreng telah mengalahkan deru kendaraan yang sesekali lewat di jalan yang berdebu karena aspalnya sudah lama rontok dimakan usia. Udara panas yang dihembuskan pantai tidak menyurutkan nenek Misraya (65) untuk tetap memecah batu sebesar bongkahan buah mangga itu.
...
Rumahnya yang terbuat dari gedek bambu hasil gotong royong tetangganya menjadi tumpuan terakhir berlindung dari teriknya panas pantai. Untunglah rumahnya persis berada ditepi sungai Cikaung di Rt. 01/02 Ds. Ujung Jaya Kec. Sumur, Ujung Kulon, Pandeglang Banten, sehingga jika mudah untuk mendapatkan batu-batu yang akan mengganjal rasa lapar yang melilitnya.
...
Jika selepas mengambil wudhu di sungai yang airnya masih jernih ini ia selalu menggendong batu-batu untuk dibawa ke rumahnya dengan menggunakan karung atau ember. Setelah berzikir mengahap sang kholik, tangan tuanya yang masih kelihatan kokoh mengayun-ngayunkan palu kecil yang dapat memecahkan batu-batuan menjadi kerikil.
...
Kulitnya yang hitam kelam menyiratkan kalau ia pekerja keras dan pantang menyerah. Butuh waktu satu jam untuk mendapatkan satu kaleng kerikil yang ia hargakan Rp. 1.500,- dalam satu hari ia mampu bekerja tiga jam, berarti Rp. 4.500 sudah dalam bayangannya. Kerikil hasil jerih payahnya ia onggokan di depan rumahnya „ Biar mudah kelihatan, kali aja ada yang butuh“ alasannya, matanya memandang onggokan batu hasil keringatnya beberapa hari yang lalu.
...
Meskipun ia tau bahwa kebanyakan rumah tetangganya terbuat dari bambu, berati jarang sekali keirilnya diburhkan karena biasanya hanya terjual jika ada tetangganya yang membangun rumah, tapi tak ada putus asa dalam kamusnya, ia pun mengumpulkan pasir dari sungai. Suaminya telah lama pergi meninggalkan kehidupannya yang terseok-seok, bahkan ia pun tidak tahu persis tahun berapa ia cerai dengan suaminya yang sampai saat inipun tidak ia ketahui dimana rimbanya. Dua anaknya yang diharapakan bisa menjadi pendamping hidup menelusuri ombak kehidupan yang terjal. Meninggal pada saat masih kanan-kanak.
...
Menggarapa sawah milik orang lain pun ia jalani, tak pernah berhenti tangan tuanya untuk selalu bekerja dan bekerj „Teu Kuli, Teu barang dahar“ (tidak bekerja, tidak makan), itulah folosofis sederhana. Ia tengok ke dalam rumah dan sinar matahari masuk menerangi rumahnya yang tanpa kaca tersebut menandakan akan bocor pada saat musim penghujan seperti sekarang ini „ Inginnya rumah ini diperbaiki, tapi gak ada biaya“ permohonannya sederhana. (Hendra Setia)
...

Senin, 16 Februari 2009

harapan

Berharap kakinya Tidak Diamputasi
...
Bapak Syarifudin terperanjat ketika bangun tidur, ia dapati kakinya mengalami pembengkakan. Seingat dia, tidak ada kejadian tertentu yang kemungkinan sebagai penyebab membesarnya telapak kaki kirinya tersebut. Rasa sakit mulai dirasakan oleh sang bapak yang telah ditinggal oleh istri tercintanya karena meninggal di tahun 1994 yang lalu. Tak menunggu waktu lama bapak 9 orang anak ini, memeriksakan diri ke rumah sakit yang ada di daerah Kamal Kalideres. Hal tersebut ia lakukan karena pembengkakan di kakinya ada bagian yang terkelupas dan mengeluarkan cairan bening.
...
Bapak Syarifudin yang tinggal di Kebon Made Kelurahan Kamal Kalideres ini merasa lebih tenang, ketika pihak rumah sakit mengatakan bukan merupakan penyakit gula (diabetes) dan hanya penyakit biasa. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, tanda-tandanya mirip dengan penyakit gula yang sulit sembuh jika terjadi luka. Tetapi ketenangan hati sang bapak yang tinggal di rumah satu petak ini hanya berjalan beberapa hari saja, karena hari-hari kemudian ia rasakan sebagai hari yang mencemaskan. Bagaimana tidak ? pembengkakan di kakinya telah berganti menjadi borok (koreng) yang semakin lama semakin meluas. Jika kulit yang menahan cairan itu terkelupas, maka saat itulah boroknya terus bertambah. Sedih memenuhi sisi kehidupannya sama seperti kesedihan menderanya ketika sang istri tercinta meninggal dunia.
...
Dua bulan telah berlalu, Bapak Syarifudin masih berharap akan kesembuhannya. Dia tidak lagi terus menerus meratapi kesulitan hidup yang Tuhan berikan kepadanya. Dia juga berusaha untuk selalu menghindari rasa putus asa yang kadang hinggap dalam benak sang bapak yang sebelumnya berjualan burung peliharaan. Dia juga tidak ingin larut dalam penderitaannya yang memaksanya terus tinggal di rumah yang sudah sempit dan tidak lagi nyaman yang tentunya tidak bisa kemana-mana seperti ketika dia sehat. Setiap hari keadaan memaksanya untuk berada di ruangan yang sempit dengan pemandangan berupa perabotan yang ala kadarnya. Ia kadang sedih tidak bisa memberikan tempat yang layak bagi anak-anaknya walau sekedar kamar tidur bagi anak-anak perempuannya. Tetapi kesedihan yang ia rasakan, jangan sampai membuatnya berprasangka buruk kepada Allah.
...
Kakinya sudah mati rasa, sehingga dia tidak lagi merasakan sakit di kakinya. Tetapi ketika ia paksakan untuk berjalan maka kakinya akan mengeluarkan darah, sehingga oleh anak-anaknya disarankan untuk tidak memaksakan diri untuk bergerak. Kebutuhan harian dan sekedar untuk membeli obat antibiotik ia dapatkan dari anak-anaknya yang telah bekerja, itupun dengan jumlah yang terbatas. Selama ini bantuan dari tetangga atau dari pihak manapun belum ia peroleh, karena memang ia tidak pernah meminta kepada mereka. Dia hanya berharap bahwa ia bisa sembuh, bisa bekerja lagi dan berharap pula kakinya tidak diamputasi. Dia terus berdoa kepada Allah dan yakin Allah akan berikan jalan keluar tanpa ia sendiri ketahui bagaimana caranya.
...