Belajar dari kegigihan Nenek Misraya
...
Bunyi pecahan batu yang berirama cempreng telah mengalahkan deru kendaraan yang sesekali lewat di jalan yang berdebu karena aspalnya sudah lama rontok dimakan usia. Udara panas yang dihembuskan pantai tidak menyurutkan nenek Misraya (65) untuk tetap memecah batu sebesar bongkahan buah mangga itu.
...
Rumahnya yang terbuat dari gedek bambu hasil gotong royong tetangganya menjadi tumpuan terakhir berlindung dari teriknya panas pantai. Untunglah rumahnya persis berada ditepi sungai Cikaung di Rt. 01/02 Ds. Ujung Jaya Kec. Sumur, Ujung Kulon, Pandeglang Banten, sehingga jika mudah untuk mendapatkan batu-batu yang akan mengganjal rasa lapar yang melilitnya.
...
Jika selepas mengambil wudhu di sungai yang airnya masih jernih ini ia selalu menggendong batu-batu untuk dibawa ke rumahnya dengan menggunakan karung atau ember. Setelah berzikir mengahap sang kholik, tangan tuanya yang masih kelihatan kokoh mengayun-ngayunkan palu kecil yang dapat memecahkan batu-batuan menjadi kerikil.
...
Kulitnya yang hitam kelam menyiratkan kalau ia pekerja keras dan pantang menyerah. Butuh waktu satu jam untuk mendapatkan satu kaleng kerikil yang ia hargakan Rp. 1.500,- dalam satu hari ia mampu bekerja tiga jam, berarti Rp. 4.500 sudah dalam bayangannya. Kerikil hasil jerih payahnya ia onggokan di depan rumahnya „ Biar mudah kelihatan, kali aja ada yang butuh“ alasannya, matanya memandang onggokan batu hasil keringatnya beberapa hari yang lalu.
...
Meskipun ia tau bahwa kebanyakan rumah tetangganya terbuat dari bambu, berati jarang sekali keirilnya diburhkan karena biasanya hanya terjual jika ada tetangganya yang membangun rumah, tapi tak ada putus asa dalam kamusnya, ia pun mengumpulkan pasir dari sungai. Suaminya telah lama pergi meninggalkan kehidupannya yang terseok-seok, bahkan ia pun tidak tahu persis tahun berapa ia cerai dengan suaminya yang sampai saat inipun tidak ia ketahui dimana rimbanya. Dua anaknya yang diharapakan bisa menjadi pendamping hidup menelusuri ombak kehidupan yang terjal. Meninggal pada saat masih kanan-kanak.
...
Menggarapa sawah milik orang lain pun ia jalani, tak pernah berhenti tangan tuanya untuk selalu bekerja dan bekerj „Teu Kuli, Teu barang dahar“ (tidak bekerja, tidak makan), itulah folosofis sederhana. Ia tengok ke dalam rumah dan sinar matahari masuk menerangi rumahnya yang tanpa kaca tersebut menandakan akan bocor pada saat musim penghujan seperti sekarang ini „ Inginnya rumah ini diperbaiki, tapi gak ada biaya“ permohonannya sederhana. (Hendra Setia)
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar