.
.
Sedih dan gembira muncul mengiringi sesal dan tekad yang terhujam dalam dada. Semakin sering peristiwa itu bisa tertangkap, semakin kerap pula sesal dan tekad bergiliran. Pada akhirnya muncullah sebuah kondisi untuk memposisikan diri dalam berbagai hal untuk "lebih baik". Akibatnya, muncullah sebuah perencanaan yang berasal dari kebiasaan munculnya sebuah sebab atau akibatnya dari sebuah sikap. Oleh karenanya penataan diri harus terus dilaksanakan dalam ruang waktu yang dipunya. Momen dan peristiwa dalam banyak kesempatan perlu diciptakan untuk membuat kesadaran diri dan orang lain tercipta. Perbanyak dan tingkatkan frekuensinya dalam kehidupan kita. "Everyday is special moment".
Jika hal tersebut dilakanakan, maka tidak ada penyesalan setahun sekali yang hanya bisa kita laksanakan di akhir tahun. Tidak ada lagi penyesalan murid dan siswa yang muncul setelah ia mengetahui betapa buruk nilai raport semester ini. Tidak ada lagi orang terharu biru dengan tanggal spesial yang hanya ia temui setahun sekali dengan diiringi lagu "Happy Birthday". Semakin sedikit para pejabat yang terperanjat akan prestasinya selama lima tahun setelah laporan pertanggungjawabannya disanksikan banyak pihak. Tidak ada lagi penyesalan seorang sarjana untuk memanfaatkan masa indahnya di kampus biru setelah empat tahun menempuh pendidikan. Tidak ada lagi gundah gulana bagi seorang karyawan ketika capaian bulanannya sangat jauh dari standar yang ditetapkan oleh perusahaan.
Maka ambillah kesempatan untuk memaknai peristiwa setiap detik, menit, jam dan hari yang kita punyai. Evaluasilah setiap langkah dalam detik, menit, jam dan hari yang kita punyai. Maka yang terjadi adalah dinamisasi diri yang sangat luar biasa. Kita masih bisa berharap di detik berikutnya jika detik ini kita terlepas. Kita masih mempunyai detik berikutnya jika detik ini telah terhempas. Kita masih menatap detik berikutnya jika detik ini telah musnah. Kita masih punya detik, menit, jam dan hari yang terkoreksi di hari ini.
Kemeriahan acara pada malam hari itu mampu memberikan warna lain dalam kisah kehidupan warga yang jauh dari keramaian ini. Kesederhanaan acara ini juga mampu memberikan cerita bahwa memperingati sebuah peristiwa besar bisa dilakukan oleh semua kalangan sesederhana apapun orang tersebut. Kehikmatan perjalanan malam yang menempuh sekitar dua kilometer tersebut telah menjadi ajang bersatunya kembali hati warga yang sempat terhempas oleh aktifitas pribadi.
Hanya saja ada satu hal yang berbeda dan sempat membuat acara ini agak "terganggu kesuciannya". Ya... kenyataan itu hampir saja membuat acara rutin kami menjadi berkurang kehikmatannya. Simbol itu nyaris menggeser sebuah "nilai" yang agung yang telah kami pertahankan bertahun-tahun. Susah payah kami perjuangkan berbagai nilai kebenaran berbasis budaya yang bersyarat nilai. Budaya sebagai sebuah simbol terus kami kerangkeng dalam nilai penghambaan kepada Tuhan yang suci dan hakiki. Dalam banyak kesempatan, nilai yang kami perjuangkan menyisakan sedikit saja dalam simbol-simbol budaya yang kami laksanakan. Akhirnya ada saatnya juga kami harus mempertahankan sebuah aksi simbol dengan sangat sedikit nilai, agar nilai juga tidak menjadi hilang karenanya.
Apa pasal ? ya acara tersebut hampir dan nyaris terluka oleh keberadaan sang obor. Tahun-tahun berlalu kekuatan simbol terletak dari banyaknya obor yang kami bawa. Obor yang terbuat dari bambu dan berbahan bakar minyak tanah ini mampu memberikan simbol sebuah penghambaan yang tulus akan datangnya sebuah moment untuk mengingatkan manusia pada ketundukkan kepada Tuhan. Banyaknya obor mampu memberikan simbol kesadaran bahwa waktu adalah milik sang pencipta dan kita hanya punya kesempatan menjalaninya. Ternyata di tahun ini terjadi penurunan yang sangat tajam terkait jumlah obor yang kami bawa. Obor kami cuma lima buah dan itupun hanya dibawa oleh barisan terdepan iring-iringan pawai yang yang diikuti oleh seribuan orang. Kelangkaan minyak tanah yang menerpa daerah kami menjadikan kami kesulitan mencari barang tambang yang banyak sumbernya di negeri kami. Tetapi kami tetap bangga bahwa kami masih punya obor sebagai sebuah simbol yang tetap kami kerangkeng dalam sebuah kekuatan nilai. Mudah-mudahan tahun depan kami tetap bertemu dengan sang obor walaupun cuma lima buah. Selamat Tahun Baru 1430 H.
.
Masa terus berjalan dan tidak terasa kita sudah di ujung bulan Dzulhijah, artinya inilah hari-hari terakhir kita menapaki rentetan peristiwa di tahun 1429 H. Berbagai kesempatan kita disuguhi kenangan peristiwa-peristiwa masa lalu (1 tahun terakhir) dengan harapan bisa mengingatkan apa yang terjadi. Tujuan awal dari semua memanglah baik, yakni semua peristiwa tersebut bisa memberi pelajaran untuk persiapan di masa mendatang. Maka dari berbagai ruang kehidupan kita sangat penuh opininya tentang berbagai kejadian dan peristiwa selama satu tahun terakhir. Dari berbagai sisi, kita disodori berbagai peristiwa baik yang menggembirakan dan lebih banyak lagi peristiwa yang menyedihkan terjadi.
.
Tak terasa pengungkapannya terlalu berlebihan, melewati batas-batas sewajarnya sebuah berita. Kabar buruk dari sebuah kisah menjadikan otak kita penuh dengan kebencian terhadap segelintir orang yang secara langsung dan tidak langsung sebagai penyebab dari apa yang terjadi. Peristiwa yang menyedihkan menjadikan kita semakin nyaman dengan kemapanan yang sedang dinikmati dalam kemudahan di sebuah aktifitas. Kejadian kriminalitas yang menimpa orang lain, membuat kita semakin nyaman dalam fasilitas dan sistem yang kita bangun dalam memperkuat keamanan pribadi. Bahkan kesuksesan seseorang-pun kita bangga-banggakan tanpa tahu apa yang harus kita kerjakan dalam meraih sebuah kesuksesan. Rangkaian bahagia membuat kita tidak mau bersusah-payah dalam mengarungi kehidupan dan akhir sebuah cerita yang bahagia membuat kita menutup diri untuk melakukan itu dari hal yang paling sulit dan langsung terjebak dalam aksi praktis. Akhirnya ketika pengungkapan itu berlalu dan kita berhadapan dengan sebuah realitas kehidupan kesenderian kita, maka kita tertunduk dan mengeluh tentang capaian-capaian kita sendiri. Kita kalah dalam pertarungan yang terjadi dalam ruang diri kita yang seharusnya bisa kita menangkan. Dan akhirnya kita berkata, mengapa orang lain bisa berbuat seperti itu ?
.
Perbuatan baik adalah ungkapan kata terindah dan terbaik yang bisa kita berikan kepada orang lain. Keutuhannya mampu menandingi sang orator yang mengungkapkannya secara berapi-api di depan ribuan orang. Keberadaanya bisa dimengerti oleh semua orang sesederhana apapun orang tersebut tanpa harus menjelaskan dengan seperangkat teori sang professor pada sebuah seminar. Kekuatannya mampu memberi makna kepada banyak orang tanpa harus memaksakan pendapatnya seperti mahasiswa yang berdemo dengan dikelilingi oleh ratusan polisi anti huru hara. Perbuatan mengalahkan ribuan kata, orasi, ajakan, kecaman, hasutan dan pujian dari ribuan mulut manusia.
..
Maka berbuatlah untuk mengiringi kata. Berbuatlah untuk mengabulkan doa. Berbuatlah untuk mengurangi cerca. Berbuatlah untuk menghapus hina. Dan berbuatlah untuk mengungkap makna. Kita mungkin bisa dikenang dengan rangkaian kata, tetapi kita bisa memberi inspirasi dengan perbuatan. Kita mungkin bisa dipuja sebagai orator handal dalam berbicara tetapi berbuatlah untuk bisa menjadi bahan dalam wicara sang orator. Kita mungkin bisa terhina karena salah kata tetapi perbuatan punya sejarah untuk tidak mudah di hakimi massa.
Menyesal selalu di belakang, begitulah yang sering kita dengar dalam banyak
kesempatan. Sebagaian besar fenomena kehidupan memang selalu menunjukkan bahwa hal tersebut benar adanya. Hanya saja, sepertinya perlu kita lakukan sebuah antisipasi sehingga bukan lagi "menyesal selalu di belakang" tetapi menjadi "menyesallah didepan sebelum sesal itu terjadi.
.. Menyesal di belakang adalah menggambarkan keadaan orang yang tidak mau belajar dari berbagai hal, karena dalam kehidupan ini kemungkinan apa yang terjadi sudah bisa diperkirakan melalui hukum sebab akibat. Menyesal di belakang mencirikan sang pelaku sebagai orang yang tidak mampu berfikir jauh ke depan melalui sebuah aksi antisipasi. Menyesal di belakang menunjukkan mahluk yang menjalani sang waktu tidak mau mendengar dari kisah-kisah yang lalu lalang terlintas dalam dentang masa yang berjalan. Menyesal di belakang merupakan kisah konyol yang kadang sering kita lakukan sebagai wujud buruknya manajemen diri.
.. Menyesal sebelum sesal itu datang menjadikan sang pelaku selalu membaca sejarah masa-masa silam yang penuh dengan liku-liku kisah tanpa perlu kita bertaruh dalam kalah dan menang. Menyesal sebelum sesal itu datang membuat sang diri selalu melihat fenomena alam yang bertandang setiap kesempatan dalam pertarungan sebab dan akibat. Menyesal sebelum sesal itu datang melahirkan sang jiwa untuk selalu mendengar kabar-kabar masa depan yang tersedia tanpa harus berjudi dengan sang waktu. Menyesal sebelum sesal itu datang memunculkan sanubari yang selalu mawas diri untuk bisa meraih kemenangan jangka panjang dari hanya sekedar kenikmatan sesaat yang melenakkan.
.. Maka menyesallah sebelum sesal itu datang, sehingga jangan sampai kita mengatakan "menyesal selalu di belakang. tetapi perlu juga kita renungkan tidak semua menyesal di belakang. Kisah berikut bisa menjawabnya ; serombongan orang berjalan di malam yang gelap, karena melewati pematang sawah maka rombongan berjalan berbaris satu-satu. Tiba-tiba ada lobang besar menghadang dan orang yang terdepan-pun terjatuh masuk lubang penuh lumpur tersebut, maka berkatalah ia " saya menyesal di depan". Ada satu lagi yang menunjukkan bahwa menyesal-pun bisa terjadi sebelum kejadian. Rasakanlah betapa menyesalnya kita ketika hendak bersin, tiba-tiba tidak jadi bersin. Maka menyesallah kita kenapa tidak bersin sebelum kejadian bersin itu terjadi. Maka menyesallah sebelum sesal itu datang.