Selasa, 30 Desember 2008

Kebun Binatang Jilid 2

Liburan yang panjang di akhir tahun ini masih saja menjadikan warga untuk mengagendakan untuk menuju tempat-tempat wisata. Dan karena Jakarta bagian selatan ada Kebun Binatang, maka bagi warga di sekitar kami menjadikannya sebagai tempat pavorite. Pada saat yang sama acara pengajian dalam rangka memeriahkan akhir tahun juga digelar diberbagai tempat. Ada perbedaan mencolok antara hadir di pengajian maupun datang ke kebon binatang.

.

Untuk menuju ke kebon binatang tidak perlu pengumuman yang lama kepada khalayakl ramai sedangkan pengajian membutuhkan pengumuman yang lama, itup[un yang hadir tidak sebanyak kunjungan ke kebun binatang. Di Kebon binatang kita harus rela membayar sejumlah uang untuk bisa masuk ke dalam areal wisata sedangkan wisata rohani dalm bentuk pengajian dijamin gratis. Jika kita masuk kebun binatang kita menyaksikan binatang dengan gaya dan kosakata binatang yang tentunya tidak kita mengerti secara benar apa maksud dan tujuannya, sedangkan di wisata rohani pengajian ungkapan dan perkataan dijelaskan secara mendetail tanpa ada bias. Jika Ke kebun binatang maka tempat pavourite yang kita tuju biasanya tidak jauh dari kandang monyet dan gajah, sedangkan jika kita masuk pengajian maka tiang dan pojokan majlis menjadi tempat yang pas. Emang berbeda antara kebun binatang dan pengajian

evaluasi

.
Catatan Akhir Tahun
.
Setiap peristiwa memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa memaknai apapun agar bisa bermanfaat bagi kehidupan sendiri dan orang lain. Kesempatan untuk memaknai, tergantung dari kemampuan masing-masing pihak yang melihat dan merasakannya, inilah yang disebut cara pandang. Kalau dipikir-pikir banyak sekali kejadian yang berlalu lalang hadir dan pergi dalam kehidupan kita. Pada saat yang sama, berlalu lalang pula kesempatan untuk bisa mengambil sebuah inspirasi dari kejadian yang datang. Biasanya semakin bernas sebuah peristiwa itu terjadi, maka semakin luas pula kesempatan orang untuk bisa memaknainya.
..

Sedih dan gembira muncul mengiringi sesal dan tekad yang terhujam dalam dada. Semakin sering peristiwa itu bisa tertangkap, semakin kerap pula sesal dan tekad bergiliran. Pada akhirnya muncullah sebuah kondisi untuk memposisikan diri dalam berbagai hal untuk "lebih baik". Akibatnya, muncullah sebuah perencanaan yang berasal dari kebiasaan munculnya sebuah sebab atau akibatnya dari sebuah sikap. Oleh karenanya penataan diri harus terus dilaksanakan dalam ruang waktu yang dipunya. Momen dan peristiwa dalam banyak kesempatan perlu diciptakan untuk membuat kesadaran diri dan orang lain tercipta. Perbanyak dan tingkatkan frekuensinya dalam kehidupan kita. "Everyday is special moment".

..

Jika hal tersebut dilakanakan, maka tidak ada penyesalan setahun sekali yang hanya bisa kita laksanakan di akhir tahun. Tidak ada lagi penyesalan murid dan siswa yang muncul setelah ia mengetahui betapa buruk nilai raport semester ini. Tidak ada lagi orang terharu biru dengan tanggal spesial yang hanya ia temui setahun sekali dengan diiringi lagu "Happy Birthday". Semakin sedikit para pejabat yang terperanjat akan prestasinya selama lima tahun setelah laporan pertanggungjawabannya disanksikan banyak pihak. Tidak ada lagi penyesalan seorang sarjana untuk memanfaatkan masa indahnya di kampus biru setelah empat tahun menempuh pendidikan. Tidak ada lagi gundah gulana bagi seorang karyawan ketika capaian bulanannya sangat jauh dari standar yang ditetapkan oleh perusahaan.

..

Maka ambillah kesempatan untuk memaknai peristiwa setiap detik, menit, jam dan hari yang kita punyai. Evaluasilah setiap langkah dalam detik, menit, jam dan hari yang kita punyai. Maka yang terjadi adalah dinamisasi diri yang sangat luar biasa. Kita masih bisa berharap di detik berikutnya jika detik ini kita terlepas. Kita masih mempunyai detik berikutnya jika detik ini telah terhempas. Kita masih menatap detik berikutnya jika detik ini telah musnah. Kita masih punya detik, menit, jam dan hari yang terkoreksi di hari ini.

Senin, 29 Desember 2008

Simbol dan Nilai

.
Cuma Lima Obor

.
Sebagai sebuah aktifitas rutin yang kami lakukan jika ada pergantian tahun baru hijriyah adalah dengan melakukan pawai berkeliling kampung. Hampir seluruh warga di kampung kami tumpah ruah memenuhi jalan kampung yang tidak terlalu lebar. Pakaian muslim terbaik yang kami miliki kami pakai demi syiar Islam yang harus kami sebarkan dalam setiap kesempatan. Tua muda, besar kecil, semuanya menyempatkan diri untuk bisa berpartisipasi memeriahkan salah satu moment terpenting dalam sejarah beradaban manusia. Bahkan demi untuk memperkenalkan islam dari sisi budaya, banyak ibu-ibu muda yang membawa serta buah hatinya dalam acara yang di laksanakan malam hari ini.
.

Kemeriahan acara pada malam hari itu mampu memberikan warna lain dalam kisah kehidupan warga yang jauh dari keramaian ini. Kesederhanaan acara ini juga mampu memberikan cerita bahwa memperingati sebuah peristiwa besar bisa dilakukan oleh semua kalangan sesederhana apapun orang tersebut. Kehikmatan perjalanan malam yang menempuh sekitar dua kilometer tersebut telah menjadi ajang bersatunya kembali hati warga yang sempat terhempas oleh aktifitas pribadi.

.

Hanya saja ada satu hal yang berbeda dan sempat membuat acara ini agak "terganggu kesuciannya". Ya... kenyataan itu hampir saja membuat acara rutin kami menjadi berkurang kehikmatannya. Simbol itu nyaris menggeser sebuah "nilai" yang agung yang telah kami pertahankan bertahun-tahun. Susah payah kami perjuangkan berbagai nilai kebenaran berbasis budaya yang bersyarat nilai. Budaya sebagai sebuah simbol terus kami kerangkeng dalam nilai penghambaan kepada Tuhan yang suci dan hakiki. Dalam banyak kesempatan, nilai yang kami perjuangkan menyisakan sedikit saja dalam simbol-simbol budaya yang kami laksanakan. Akhirnya ada saatnya juga kami harus mempertahankan sebuah aksi simbol dengan sangat sedikit nilai, agar nilai juga tidak menjadi hilang karenanya.

.

Apa pasal ? ya acara tersebut hampir dan nyaris terluka oleh keberadaan sang obor. Tahun-tahun berlalu kekuatan simbol terletak dari banyaknya obor yang kami bawa. Obor yang terbuat dari bambu dan berbahan bakar minyak tanah ini mampu memberikan simbol sebuah penghambaan yang tulus akan datangnya sebuah moment untuk mengingatkan manusia pada ketundukkan kepada Tuhan. Banyaknya obor mampu memberikan simbol kesadaran bahwa waktu adalah milik sang pencipta dan kita hanya punya kesempatan menjalaninya. Ternyata di tahun ini terjadi penurunan yang sangat tajam terkait jumlah obor yang kami bawa. Obor kami cuma lima buah dan itupun hanya dibawa oleh barisan terdepan iring-iringan pawai yang yang diikuti oleh seribuan orang. Kelangkaan minyak tanah yang menerpa daerah kami menjadikan kami kesulitan mencari barang tambang yang banyak sumbernya di negeri kami. Tetapi kami tetap bangga bahwa kami masih punya obor sebagai sebuah simbol yang tetap kami kerangkeng dalam sebuah kekuatan nilai. Mudah-mudahan tahun depan kami tetap bertemu dengan sang obor walaupun cuma lima buah. Selamat Tahun Baru 1430 H.

Rabu, 24 Desember 2008

Kebun Binatang

.
Sejak dahulu kala hubungan manusia dengan binatang sudah terjalin sangat erat. Begitu eratnya jalinan itu hingga Mbah Darwin dengan rela bahwa kehadirannya ke muka bumi ini berwal dari seekor binatang. Pola hubungan itu terus terpelihara hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Dalam berbagai kesempatan, teori basi itu masih saja dipertahankan oleh ilmuawan yang mungkin belum menerima wacana tanding yang bisa diperdebatkan.
...

Mungkin sebagian orang juga tidak mengenal evolusi, tetapi perilaku kita di masyarakat tetap menunjukkan bahwa, dengan adanya persamaan-persamaan yang dimiliki oleh binatang, menjadikan teori ini sedikit memiliki ruang untuk tetap berkembang. Secara langsung dan tidak langsung banyak sikap-sikap kebinatangan tetap kita lakukan, atau minimal label-label kebinatangan masih terus diungkap dalam banyak kesempatan. Dalam banyak hal binatang diposisikan pada sesuatu yang negatif, bahkan hina sekali sampai-sampai tidak berperikebinatangan. Walaupun ada juga ungkapan yang positif masih bisa kita temui dalam beberapa phrase.
...
Sikap dan perilaku buruk manusia-pun tidak luput dihubung-hubungkan dengan binatang. Padahal tidak ada kesalahan sedikitpun yang dilakukan dalam kehidupan mereka. Mereka hanya menjalankan nafsu yang telah Tuhan titipkan kepadanya, Whats Wrong ?. Renungkanlah label-label seperti buaya darat, lintah darat, kumpul kebo, tikus politik, politik dagang sapi, kucing dalam karung, kerbau dicocok hidungnya, kambing hitam, muka badak, kura-kura dalam perahu, bunglon, musang berbulu ayam, raja singa, ayam kampus, kupu-kupu malam, bajing loncat, kutu loncat, babi ngepet, otak kerbau, otak srigala dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa diungkapkan. Sekali lagi apa salah mereka sehingga diungkapkan dengan asosiasi yang negatif, walaupun ada sesuatu yang melegakan pula bagi para binatang dengan phrase Merpati tak pernah ingkar janji dan kuda hitam.
...
Artinya pada posisi ini manusia telah berbuat dzalim kepada binatang, sehingga jangan heran jika setiap liburan datang kebun binatang ramai dengan manusia. Semua orang merencanakan jauh-jauh hari untuk mengisi liburannya dengan ke kebun binatang. Mungkin salah satunya mau meminta maaf karena terlalu sering menyalahkannya.

Minggu, 21 Desember 2008

Hari Ibu

.
.
Semua orang bersepakat bahwa wanita yang paling berjasa di muka bumi ini adalah Ibu. Kehadirannya di muka bumi ini memberikan kesempatan kelahiran kita dalam mengarungi riuh rendahnya kehidupan. Perhatiannya akan kehidupan membuat ruang waktu kita semakin lebih terbuka dalam mengais sedikit ilmu kehidupan yang telah Tuhan ciptakan untuk diperebutkan. Kecintaannya akan kehidupan melahirkan kasih sayang yang kadang terkikis dan hilang akibat ganasnya kehidupan yang harus dihadapi.
..
Ibuku seorang yang pelupa, pemaaf dan penerima. Bagaimana tidak ? Ia begitu banyak melupakan semua kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan sbesar dan seberat apapun. Ia-pun telah melupakan jasa-jasa yang telah ditunaikan yang seharusnya sebagai beban hutang kita di masa mendatang. Ia tidak ingat lagi berapa besar rupiah yang telah ia keluarkan untuk bisa menjadikan kita mampu mengatasi kerasnya dunia. Ia tak pernah mengungkit ruang dan waktunya yang telah tersita demi sang generasi merasa nyaman dalam dekapannya. Ia telah hilang ingatannya dalam merasakan betapa kebebasaanya telah dirampas oleh sang penerus yang terkadang tidak lagi bisa dibanggakan. Bahkan ia merasa tidak pernah melakukan apapun yang terbaik terhadap sang buah hati dan menyetakan menyesal ketika sang anak tidak pada posisi yang menguntungkan dalam kehidupan dunia ini.
..
Alkisah ada sebuah pohon rindang, berdaun rimbun dan berbuah lebat. Seorang anak kecil selalu senang bermain dan bercanda dengannnya, tiada hari terlewatkan ia kecuali dengan sang pohon. Ketika waktu terus berlalu sang anak bertambah besar dan dia tidak lagi mau bermain dengan sang pohon, maka ia berkata : "Wahai sang anak, kenapa engkau tidak lagi bermain denganku? kata sang pohon sedih. "Aku sudah punya teman main sebayaku dan aku rasanya sudah tidak pantas lagi bermain-main denganmu". "Sang pohon bolehkah aku meminta buahmu untuk dijual agar aku bisa membeli mainan yang bisa dipergunakan untuk bermain dengan temanku" pinta sang anak. Akhirnya sang pohon-pun melupakan kesedihannya dan memberikan buah yang bisa ia jual untuk membeli maianan. kemuadian ia menghilang dan bermain bersama-sama teman-temannya.
..
Sang pohon bersedih kembali terhadap apa yang terjadi. Pada suatu hari sang anak kecil kembali bertemu dengan sang pohon. Sang pohon tersenyum gembira menyaksikan kehadirannya. "Mari sini dan bermainlah denganku, jangan lagi engkau jauh padaku" pinta sang pohon. Tetapi apa jawab sang anak "Wahai sang pohon, aku tidak mungkin lagi bermain-main denganmu, aku sudah besar dan sekarang aku membutuhkan lebih banyak lagi buah-buahan yang bisa dijual untuk biaya pendidikan" jawab sang anak yang tidak kecil lagi. Sang pohon tersenyum lega karena ia bisa memberikan yang terbaik demi kebahagiaan sang anak. tetapi kesedihan kembali menyeruak dalam relung sanubarinya ketika sang anak pergi lagi menjauh dari kehidupannya.
..
Begitulah silih berganti sang anak datang dan pergi kepada sang pohon dan pohon pun mengalami pergantian perasaan antara sedih dan gembira dengan kehadiran sang anak yang semakin tumbuh dewasa. Suatu hari sang anak meminta buah lebih banyak lagi untuk biaya pernikahannya, bahkan dengan terpaksa sang pohon merelakan ranting dan cabang yang besar dipotong untuk dijual demi menutupi biaya pernikahan yang sangat besar, maka tinggallah sang pohon dengan kondisi yang tidak indah lagi karena memiliki sebagian dari keindahannya. Hingga suatu hari sang anak yang semakin tua-pun datang dan meminta sang pohon merelakan seluruh tubuhnya untuk ditebang dan hanya menyisakan tunggul atau bonggolnya saja demi menutupi hutang sang anak yang semakin tua agar tidak terkurung dalam penjara.
..
Akhirnya sang anak semakin tua dan payah lalu dia datang kepada sang pohon yang tinggal seperti patok rapuh di tengah padang yang gersang. Wahai sang pohon aku telah lelah dan ingin beristirahat, ijinkan aku dengan kerelaanmu menerimaku apa adanya. Sang pohon berkata dengan hati yang berbunga-bunga" datanglah dan rebahlah dipangkuanku, oh betapa senangnya engkau datang dan kembali padaku dan akan merasakan untuk yang terakhir kalinya bahwa aku begitu menyayangimu..
..
Mungkin sang pohon adalah ibu kita.........

Tahun Baru

.
Membanggakan masa lalu
sama konyolnya dengan Menyesali masa lalu

.

Masa terus berjalan dan tidak terasa kita sudah di ujung bulan Dzulhijah, artinya inilah hari-hari terakhir kita menapaki rentetan peristiwa di tahun 1429 H. Berbagai kesempatan kita disuguhi kenangan peristiwa-peristiwa masa lalu (1 tahun terakhir) dengan harapan bisa mengingatkan apa yang terjadi. Tujuan awal dari semua memanglah baik, yakni semua peristiwa tersebut bisa memberi pelajaran untuk persiapan di masa mendatang. Maka dari berbagai ruang kehidupan kita sangat penuh opininya tentang berbagai kejadian dan peristiwa selama satu tahun terakhir. Dari berbagai sisi, kita disodori berbagai peristiwa baik yang menggembirakan dan lebih banyak lagi peristiwa yang menyedihkan terjadi.

.

Tak terasa pengungkapannya terlalu berlebihan, melewati batas-batas sewajarnya sebuah berita. Kabar buruk dari sebuah kisah menjadikan otak kita penuh dengan kebencian terhadap segelintir orang yang secara langsung dan tidak langsung sebagai penyebab dari apa yang terjadi. Peristiwa yang menyedihkan menjadikan kita semakin nyaman dengan kemapanan yang sedang dinikmati dalam kemudahan di sebuah aktifitas. Kejadian kriminalitas yang menimpa orang lain, membuat kita semakin nyaman dalam fasilitas dan sistem yang kita bangun dalam memperkuat keamanan pribadi. Bahkan kesuksesan seseorang-pun kita bangga-banggakan tanpa tahu apa yang harus kita kerjakan dalam meraih sebuah kesuksesan. Rangkaian bahagia membuat kita tidak mau bersusah-payah dalam mengarungi kehidupan dan akhir sebuah cerita yang bahagia membuat kita menutup diri untuk melakukan itu dari hal yang paling sulit dan langsung terjebak dalam aksi praktis. Akhirnya ketika pengungkapan itu berlalu dan kita berhadapan dengan sebuah realitas kehidupan kesenderian kita, maka kita tertunduk dan mengeluh tentang capaian-capaian kita sendiri. Kita kalah dalam pertarungan yang terjadi dalam ruang diri kita yang seharusnya bisa kita menangkan. Dan akhirnya kita berkata, mengapa orang lain bisa berbuat seperti itu ?

Perbuatan

.

.

Perbuatan baik adalah ungkapan kata terindah dan terbaik yang bisa kita berikan kepada orang lain. Keutuhannya mampu menandingi sang orator yang mengungkapkannya secara berapi-api di depan ribuan orang. Keberadaanya bisa dimengerti oleh semua orang sesederhana apapun orang tersebut tanpa harus menjelaskan dengan seperangkat teori sang professor pada sebuah seminar. Kekuatannya mampu memberi makna kepada banyak orang tanpa harus memaksakan pendapatnya seperti mahasiswa yang berdemo dengan dikelilingi oleh ratusan polisi anti huru hara. Perbuatan mengalahkan ribuan kata, orasi, ajakan, kecaman, hasutan dan pujian dari ribuan mulut manusia.

..

Maka berbuatlah untuk mengiringi kata. Berbuatlah untuk mengabulkan doa. Berbuatlah untuk mengurangi cerca. Berbuatlah untuk menghapus hina. Dan berbuatlah untuk mengungkap makna. Kita mungkin bisa dikenang dengan rangkaian kata, tetapi kita bisa memberi inspirasi dengan perbuatan. Kita mungkin bisa dipuja sebagai orator handal dalam berbicara tetapi berbuatlah untuk bisa menjadi bahan dalam wicara sang orator. Kita mungkin bisa terhina karena salah kata tetapi perbuatan punya sejarah untuk tidak mudah di hakimi massa.

Rabu, 17 Desember 2008

Sesal

.
MENYESAL

Menyesal selalu di belakang, begitulah yang sering kita dengar dalam banyak kesempatan. Sebagaian besar fenomena kehidupan memang selalu menunjukkan bahwa hal tersebut benar adanya. Hanya saja, sepertinya perlu kita lakukan sebuah antisipasi sehingga bukan lagi "menyesal selalu di belakang" tetapi menjadi "menyesallah didepan sebelum sesal itu terjadi.

.. Menyesal di belakang adalah menggambarkan keadaan orang yang tidak mau belajar dari berbagai hal, karena dalam kehidupan ini kemungkinan apa yang terjadi sudah bisa diperkirakan melalui hukum sebab akibat. Menyesal di belakang mencirikan sang pelaku sebagai orang yang tidak mampu berfikir jauh ke depan melalui sebuah aksi antisipasi. Menyesal di belakang menunjukkan mahluk yang menjalani sang waktu tidak mau mendengar dari kisah-kisah yang lalu lalang terlintas dalam dentang masa yang berjalan. Menyesal di belakang merupakan kisah konyol yang kadang sering kita lakukan sebagai wujud buruknya manajemen diri.

.. Menyesal sebelum sesal itu datang menjadikan sang pelaku selalu membaca sejarah masa-masa silam yang penuh dengan liku-liku kisah tanpa perlu kita bertaruh dalam kalah dan menang. Menyesal sebelum sesal itu datang membuat sang diri selalu melihat fenomena alam yang bertandang setiap kesempatan dalam pertarungan sebab dan akibat. Menyesal sebelum sesal itu datang melahirkan sang jiwa untuk selalu mendengar kabar-kabar masa depan yang tersedia tanpa harus berjudi dengan sang waktu. Menyesal sebelum sesal itu datang memunculkan sanubari yang selalu mawas diri untuk bisa meraih kemenangan jangka panjang dari hanya sekedar kenikmatan sesaat yang melenakkan.

.. Maka menyesallah sebelum sesal itu datang, sehingga jangan sampai kita mengatakan "menyesal selalu di belakang. tetapi perlu juga kita renungkan tidak semua menyesal di belakang. Kisah berikut bisa menjawabnya ; serombongan orang berjalan di malam yang gelap, karena melewati pematang sawah maka rombongan berjalan berbaris satu-satu. Tiba-tiba ada lobang besar menghadang dan orang yang terdepan-pun terjatuh masuk lubang penuh lumpur tersebut, maka berkatalah ia " saya menyesal di depan". Ada satu lagi yang menunjukkan bahwa menyesal-pun bisa terjadi sebelum kejadian. Rasakanlah betapa menyesalnya kita ketika hendak bersin, tiba-tiba tidak jadi bersin. Maka menyesallah kita kenapa tidak bersin sebelum kejadian bersin itu terjadi. Maka menyesallah sebelum sesal itu datang.

Air

Akhirnya Air Bersih-pun Mengalir
Di Desa Darmasari Kecamatan Bayah Propinsi Banten
...

Ranka Mobil

Run No Car No... Asli!
...
Ayahnya tukang bangunan sejak muda hingga masa tuanya. Meskipun demikian ia berhasil mengantarkan Rano menjadi seorang sarjana. Rano pun termasuk sarjana pertama di desanya. Pendidikan tertinggi yang dicapai warga desanya kala itu cuma SMA atau STM. Sosok yang punya nama sama dengan bintang film ini dikenal sebagai anak muda religius dan bersahaja. . ..
Mbak Nana Mintarti, Direktur MM pernah dibuat geleng-geleng kepala melihat kebersahajaannya. Suatu sore yang dingin dan hujan lebat, Rano harus bersua para mitra di Kampung Iwul Desa Bojong Sempu Parung. Dengan cueknya, ia mengenakan mantel untuk melindungi diri dari air hujan. Mantel itu hasil otak-atik sendiri, terbuat dari plastik pembungkus keset produk para mitra Poncol Jampang. “Oalah... Mas Rano! Mbok ya beli dulu jas hujan,” tegur Mbak Nana. Rano hanya tersenyum dan mengiyakan, sedetik kemudian telah raib dari pandangan. Keberangkatannya menyisakan gerak ritmis bagi orang-orang di kantor MM. Semua jadi geleng-geleng kepala.
..
Rano suka naik sepeda angin. Nurhidayati, Direktur LPI – kantor MM numpang di LPI dan sekolah anak kaum dhuafa SMART Ekselensia – pernah memberinya embel-embel unik. “Rano Karno itu diplesetkan dari bahasa Inggris. Run No Car No. Lari tidak, mobil juga tidak. Terus gimana dong, Mas?” “Wis ya, nyepedahlah, Bu,” tukasnya spontan, sembari mesem dan berlalu. Menjelang pendampingan di Kampung Iwul, Rano mendapat tugas survey. Dari kantor Iwul sekitar 13 kilometer ke arah barat. Awalnya ia hanya menemukan komunitas pengrajin tahu dan anggotanya sedikit. Ia harus mencari komunitas yang lebih besar lagi. Meskipun belum punya contact person di Iwul. Targetnya hanya sehari, ia harus mendapatkan kejelasan calon kelompok dampingan. Di sinilah sisi semangat pengabdian yang menyembul dari lelaki berjenggot tipis itu. Bersepeda sejauh belasan kilometer, di bawah ancaman hujan lebat, sungguh tak mengendorkan semangat juangnya. Memasuki bibir desa Bojong Sempu hujan menghantamnya dengan telak. Ia maju tak gentar melawan guyuran hujan yang semakin menghebat. Usai bertanya sana-sini, jalan ke Iwul pun akhirnya ditemukan. Medannya semakin sulit, jalanan berupa tanah merah, licin bukan main! Rano berusaha keras menembusnya, masih dengan sepeda sampai tiba-tiba... gubrakkk! “Wuaduh... astaghfirullahal adziiim!” serunya tertahan. Ia merasai tubuhnya bagai diapungkan suatu kekuatan, berpusing-pusing dan bruuuk, terjerembab di lumpur. “Oooh, sepedaku!” teriaknya girang melihat sepedanya masih utuh, tak jauh dari tubuhnya. Aha, agaknya dia malah lebih menguatirkan sepeda daripada dirinya! “Maklum... ini kan belahan nyawa, hehehe,” kenangnya saat berbagi kisah dengan rekan-rekannya di kantor. “Dasaaar... Run No Car Noooo!” olok rekan-rekannya riuh. “Lanjut, ayo... lanjutkan ceritanya!” “Nah, beberapa kayuhan lagi aku ketemu sebuah rumah. Lumayan toh buat berteduh. Kulonuwun, kataku, nunggu dulu beberapa menit dan... weiitsss! Seorang laki-laki keluar, silakan Mas, masuk, masuk, katanya... Asliii!”
..
Rekan-rekannya tertawa mendengar istilahnya yang khas seolah telah menjadi miliknya itu; asliiii! “Nama saya Syafri, katanya ramah,” lanjut Rano dengan gayanya yang sok cuek itu. “Padahal aku sempat serem lho, asliii! Tampangnya itu, emang agak-agak nyeremin, asliii!” Istrinya menyediakan kopi hangat, mengusir dingin karena pakaian telanjur kuyup oleh air hujan. Maka, mulailah Rano mengais-kais informasi seputar pengrajin atau industri rumah Iwul. Syafri bercerita, “Di kampung Iwul ini pernah ada koperasi tahu, Mas Rano. Karena manajemen jelek bangkrutlah...” Rano menangkap keinginan kuat Syafri dan komunitas tahu yang ternyata tidak kecil itu untuk maju. Rano menawarkan pertemuan komunitas itu besoknya. Esok harinya sudah berkumpul di rumah Syafri sebanyak 18 orang. Mereka setuju program pendampingan dari MM. Untuk langkah berikutnya, mereka mengikuti Latihan Wajib Kelompok (LWK) selama empat hari. Februari. Hujan masih rajin menyambangi Iwul. “Pokoknya, Bapak-bapak harus disiplin. Setiap hari, pelatihan harus datang! Asliii!” Rano mengenalkan komitmen berdisiplin.
..
Hari kedua, ketika hendak berangkat, sang petir menyalak-nyalak. Istri Rano tercinta di rumah memohon dirinya untuk tidak berangkat. Dua permata hatinya menangis jeri karena suara petir. Rano kali ini memilih memberikan rasa nyaman keluarganya. Agaknya semangat para calon mitra di Iwul telah berhasil disulut. Paginya mereka kumpul ditemani Rano. Dibuatlah kesepakatan, “Hujan nggak hujan kumpul.” LWK berjalan dalam gelapnya malam. Listrik mati mereka menyalakan lilin. Mereka hanya memiliki waktu luang di malam hari. Usai mengisi pelatihan, Rano berpamitan. Malam itu ada jadwal mengisi pengajian di Jampang. Syafri dan kawan-kawan mencegahnya karena gerimis belum reda dan jalanan masih gulita. “Terima kasih, tapi janji mengisi pengajian tak mungkin ditunda,” ujarnya tegas membuat Syafri dan kawan-kawan terperangah, kagum. Sepeda angin pun menembus gelapnya malam. Tak terhitung lagi, entah berapa kali ia terpeleset dan sesekali jatuh.
..
Pemberdayaan pengrajin tahu di Iwul, di samping pengrajin keset di Kampung Poncol Jampang, program ekonomi bagi masyarakat Lingkar Jampang-Parung di bawah program Pusat Kegiatan Masyarakat (PKM). Wilayah ini didampingi karena komunitas paling dekat dengan MM dan LPI (dua lembaga jejaring di bawah Dompet Dhuafa Republika). Program-program sebelumnya lebih bersifat sosial keagamaan. Kebetulan sosok Rano memang pas menggarap bidang sosial dan keagamaan. Dan, ia juga menikmati program pemberdayaan ekonomi. “Bicara pemberdayaan, intinya kan usaha-usaha terpadu, terencana, terstruktur baik, awal hingga akhir. Tapi itu dibangun dari masyarakat sendiri. Fungsi kita kan cuma pendamping, fasilitator. Asliii!” Selain aspek memfasilitasi, menurutnya yang terpenting adalah aspek edukasi. Yang kita lakukan memberi kesadaran bagi masyarakat untuk sadar diri dan lingkungan, hak, kewajiban, kesempatan dan kemampuan untuk memberi nilai manfaat bagi diri dan orang lain. “Edukasi ini menjadi ruh pemberdayaan,” tegas Rano. “Karena bagaimanapun juga yang paling berat dilakukan, adalah mengubah paradigma masyarakat. Akses dan kesempatan terhadap sesuatu diawali dari kualitas manusia. Kepentingan berbagai pihak turut mendukung keterbatasan akses akibat dimiskinkan oleh sistem. Dengan edukasi masyarakat makin jadi sadar akan keadaan yang ada. Mereka bisa ada pemahaman, pengetahuan dan keinginan serta kekuatan. Menyiasati sistem, bermain sistem atau mengubah sistem. Pemberdaya itu orang luar masyarakat. Memfasilitasi itu tidak mendikte atau menggurui.”
..
Sebelum PKM menggarap pemberdayaan ekonomi, Rano menekuni aktivitas di antaranya pengajian-pengajian. Ia suka berkeliling di sekitar Jampang, mendatangi tokoh, ketua RW atau mengikuti aktivitas masyarakat. Di kampung sebelah kantor MM, ayah Aida Alfitrah dan M. Fitrah Rabbani serta Ulinnuha Fitrah Mustawa' ini membikin diskusi Shubuh dengan tiga orang tokoh. Mereka mulai menerima perubahan. Cara pandang agak sama. Di RW ada program tenda sosial, setiap warga 20 000, santunan anak yatim diarahkan ke bea pendidikan. Menggarap Parung tak lepas dari komitmen pengabdian pada masyarakat paling dekat dengan bendera Dompet Dhuafa Republika. Parung memiliki satu sisi suram di mata orang yang mengenalnya. Sepanjang jalan ini orang selalu mencium aroma tak sedap bisnis remang-remang. Di sini tersembul kisah-kisah ironi. Para ustaz ditangkapi, ditahan selama 35 hari akibat membakari warung-warung remang di kawasan Parung. Apa pasal? Bertahun-tahun, warung remang di kawasan santri itu konon dibekingi aparat keamanan. Wanita-wanita dengan bebas menjajakan diri di pinggir jalan. Warga beriman di sekitar dibikin tak berdaya, hingga suatu saat kemarahan pun terakumulasi dan buuuuur... bakar-bakaran!
..
Dengan rendah hati suami Irma Turlistiyah ini menuturkan, kehadiran program PKM lebih memberi penguatan-penguatan upaya masyarakat setempat. Warga sekitar terbukti mampu membuat pinggir jalan kawasan Jampang bersih. Tak ada lagi PSK yang melambai-lambaikan tangan di pinggir jalan. Pihak kelurahan memiliki komitmen dan power yang cukup untuk membersihkan penyakit masyarakat itu. Meski belum sepenuhnya bersih. Rano Karno terus berkeliling dengan bendera pemberdayaan. Namun, ia tak melepaskan aktivitasnya sebagai "guru" untuk beberapa komunitas di sekitar kantor MM. Di masa kuliah, ia mendapat nama tambahan di belakangnya: Mohammad Bilal. Jadilah nama komplitnya Rano Karno Mohammad Bilal. Teman-teman kuliahnya memberi singkatan; Ranka Mobil... asli!. Heri D. Kurniawan

Kebakaran Jakarta

Air Pasang Padang

Banjir Jakarta