Minggu, 21 Desember 2008

Hari Ibu

.
.
Semua orang bersepakat bahwa wanita yang paling berjasa di muka bumi ini adalah Ibu. Kehadirannya di muka bumi ini memberikan kesempatan kelahiran kita dalam mengarungi riuh rendahnya kehidupan. Perhatiannya akan kehidupan membuat ruang waktu kita semakin lebih terbuka dalam mengais sedikit ilmu kehidupan yang telah Tuhan ciptakan untuk diperebutkan. Kecintaannya akan kehidupan melahirkan kasih sayang yang kadang terkikis dan hilang akibat ganasnya kehidupan yang harus dihadapi.
..
Ibuku seorang yang pelupa, pemaaf dan penerima. Bagaimana tidak ? Ia begitu banyak melupakan semua kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan sbesar dan seberat apapun. Ia-pun telah melupakan jasa-jasa yang telah ditunaikan yang seharusnya sebagai beban hutang kita di masa mendatang. Ia tidak ingat lagi berapa besar rupiah yang telah ia keluarkan untuk bisa menjadikan kita mampu mengatasi kerasnya dunia. Ia tak pernah mengungkit ruang dan waktunya yang telah tersita demi sang generasi merasa nyaman dalam dekapannya. Ia telah hilang ingatannya dalam merasakan betapa kebebasaanya telah dirampas oleh sang penerus yang terkadang tidak lagi bisa dibanggakan. Bahkan ia merasa tidak pernah melakukan apapun yang terbaik terhadap sang buah hati dan menyetakan menyesal ketika sang anak tidak pada posisi yang menguntungkan dalam kehidupan dunia ini.
..
Alkisah ada sebuah pohon rindang, berdaun rimbun dan berbuah lebat. Seorang anak kecil selalu senang bermain dan bercanda dengannnya, tiada hari terlewatkan ia kecuali dengan sang pohon. Ketika waktu terus berlalu sang anak bertambah besar dan dia tidak lagi mau bermain dengan sang pohon, maka ia berkata : "Wahai sang anak, kenapa engkau tidak lagi bermain denganku? kata sang pohon sedih. "Aku sudah punya teman main sebayaku dan aku rasanya sudah tidak pantas lagi bermain-main denganmu". "Sang pohon bolehkah aku meminta buahmu untuk dijual agar aku bisa membeli mainan yang bisa dipergunakan untuk bermain dengan temanku" pinta sang anak. Akhirnya sang pohon-pun melupakan kesedihannya dan memberikan buah yang bisa ia jual untuk membeli maianan. kemuadian ia menghilang dan bermain bersama-sama teman-temannya.
..
Sang pohon bersedih kembali terhadap apa yang terjadi. Pada suatu hari sang anak kecil kembali bertemu dengan sang pohon. Sang pohon tersenyum gembira menyaksikan kehadirannya. "Mari sini dan bermainlah denganku, jangan lagi engkau jauh padaku" pinta sang pohon. Tetapi apa jawab sang anak "Wahai sang pohon, aku tidak mungkin lagi bermain-main denganmu, aku sudah besar dan sekarang aku membutuhkan lebih banyak lagi buah-buahan yang bisa dijual untuk biaya pendidikan" jawab sang anak yang tidak kecil lagi. Sang pohon tersenyum lega karena ia bisa memberikan yang terbaik demi kebahagiaan sang anak. tetapi kesedihan kembali menyeruak dalam relung sanubarinya ketika sang anak pergi lagi menjauh dari kehidupannya.
..
Begitulah silih berganti sang anak datang dan pergi kepada sang pohon dan pohon pun mengalami pergantian perasaan antara sedih dan gembira dengan kehadiran sang anak yang semakin tumbuh dewasa. Suatu hari sang anak meminta buah lebih banyak lagi untuk biaya pernikahannya, bahkan dengan terpaksa sang pohon merelakan ranting dan cabang yang besar dipotong untuk dijual demi menutupi biaya pernikahan yang sangat besar, maka tinggallah sang pohon dengan kondisi yang tidak indah lagi karena memiliki sebagian dari keindahannya. Hingga suatu hari sang anak yang semakin tua-pun datang dan meminta sang pohon merelakan seluruh tubuhnya untuk ditebang dan hanya menyisakan tunggul atau bonggolnya saja demi menutupi hutang sang anak yang semakin tua agar tidak terkurung dalam penjara.
..
Akhirnya sang anak semakin tua dan payah lalu dia datang kepada sang pohon yang tinggal seperti patok rapuh di tengah padang yang gersang. Wahai sang pohon aku telah lelah dan ingin beristirahat, ijinkan aku dengan kerelaanmu menerimaku apa adanya. Sang pohon berkata dengan hati yang berbunga-bunga" datanglah dan rebahlah dipangkuanku, oh betapa senangnya engkau datang dan kembali padaku dan akan merasakan untuk yang terakhir kalinya bahwa aku begitu menyayangimu..
..
Mungkin sang pohon adalah ibu kita.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar