Kamis, 19 Februari 2009

ngagul

Mentang-Mentang Pakai Ini dan Itu
...
"Kurang ajar.. ! hati-hati dong... mentang-mentang pakai mobil, seenaknya saja !" tiba-tiba seseorang berteriak sesaat setelah mobil kantor yang aku tumpangi melewati sebuah kubangan air di sisi jalan sebelah kiri. Dari kaca spion kulihat seorang pengendara sepeda motor mengacungkan tangannya dengan muka yang memerah menunjukkan ekspresi kemarahan. Tetapi kusuruh driverku untuk tetap melaju menyusuri jalan sembari kukatakan dengan pelan "sorry" yang kutujukkan kepada sang korban yang telah belepotan dengan air kubangan bekas hujan yang menggenang di jalan beraspal.
...
Perjalanan ratusan kilometerpun akhirnya berakhir juga, tetapi tidak dengan perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul dalam sanubariku. Mendengar umpatan orang akibat "kesalahan kecil" dari konsekuensi laju sang mobil bukan sekali ini. Cipratan dari genangan air yang terlindas sang roda merupakan kejadian terbesar selain hemburan debu dan kerikil. Sesaat setelah sang "raja kecil" melakukan kesalahan, maka meluncurlah sumpah serapah sang korban. Tetapi seperti biasa penderitaan yang terucap dalam sumpah serapahnya, kubalas dengan ucapan "sorry" tanpa menghentikan laju mobil.
...
Ya.. perasaan bersalah itu terus muncul ketika peristiwa-peristiwa masa laluku berterbangan dalam lintasan memoriku. Dulu ketika pertama kali aku bekerja di sebuah lembaga pemberdayaan, aku harus berjalan kaki untuk melakukan kegiatan survey di pelosok-pelosok desa. Berjalan kaki sebenarnya bukan pilihan utama, ketiadaan sarana transportasi yang disediakan kantor dan minimnya tunjangan transportasi, menjadikan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bijak. "Perjuangan" terasa teruji ketika musim hujan, selain harus melindungi diri dari air huja, juga harus berhati-hati dengan kubangan air yang berbaris di jalanan.
...
Suatu hari dalam sebuah kegiatan survey aku melihat sebuah genangan air yang cukup besar di pinggir jalan. Antisipasi yang aku lakukan adalah dengan berjalan berhati-hati agar sepatu yang kupakai tidak kotor oleh tanah yang bercampur dengan air. Kutapakan kakiku di atas bebatuan yang menonjol diantara genangan air. Satu... dua... tiga... syukurlah langkah kakiku berada tempat yang tepat untuk dipijakkan dan tinggal dua langkah lagi maka genangan itu bisa kulewati. Prat............. prat............prat..... tiba-tiba sebuah sepeda onthel membuyarkan langkah keberhasilan yang sudah didepan mata. Bukan hanya sepatuku yang kotor, tetapi celana terbaik yang aku miliki juga tidak luput dari keganasan sang lumpur. Maka meluncurlah sumpah serapahku, kurang ajar ya.....! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai sepeda, seenaknya saja ..!
...
Bulan telah berganti dan aku diberi kesempatan oleh Allah untuk memiliki sebuah sepeda onthel (sepeda kayuh). Kubeli sepeda seharga 200 ribu dari tetangga yang sedang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhannya. Maka aktifitas pekerjaanku di masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan kendaraan operasionalku. Ternyata musim hujan kali inipun tetap menciptakan lubang-lubang sebagai tempat yang nyaman bagi air hujan untuk bersemayam.
...
Hari itu hujan terus mengguyur di wilayah bogor bagian utara. Panggilan tugas tidak menyurutkanku untuk tetap menembus gelapnya malam dan derasnya hujan. Sepeda yang tidak memiliki lampu ini harus tertatih-tatih menelusuri jalan yang tak lagi ramah. Karena sering melewati rute perjalanan, maka aku hafal benar iramanya. Akupun sudah bersiap-siap dengan sebuah genangan air yang biasanya terhampar setelah tikungan "binong" di depan. Maka akupun secara bertahap mengarahkan laju sepedaku agak ke tengah sehingga tidak terjebak dalam lubang yang agak dalam dan berisi tampungan air hujan. Tin.. tin.... tin... suara klakson yang memekakan telingaku membuat aku terkejut dan secara refleks menepikan sepedaku dan brukk..... ! Terjerembab aku dalam kubangan dan basah kuyublah aku sembari berkata, "Kurang ajar ..... ! hati-hati dong....! mentang-mentang pakai motor, seenaknya saja....!.
...
Tahun berganti dan akupun diberi kesempatan sekali lagi oleh Allah untuk bisa memiliki sepeda motor. Kudapatkan sepeda motor melalui "over kredit" seorang teman yang sedang membutuhkan biaya untuk operasi istrinya. Aku hanya punya kewajiban mengganti uang muka yang telah dibayarkan dan meneruskan kredit 10 bulan berikutnya. "wah kamu untung" kata seorang teman mengomentari kisah kepemilikan motorku ini, tetapi bagiku menolong teman adalah lebih utama dari sekedar perhitungan untung dan rugi.
...
Sepeda motorku mampu meningkatkan daya jelajah pengabdianku dalam lembaga yang aku yakini sebuah sebuah pilihan hidup. Puluhan hingga ratusan kilometer dapat kutempuh untuk menuanaikan tuntutan kewajiban pekerjaan. Suatu kesempatan, panggilan tugas menuntunku untuk mengunjungi sebuah desa di utara tangerang. Desa pinggir pantai utara ini harus kudatangi demi peningkatan kualitas hidup yang harus secara bertahap untuk ditingkatkan. Musim hujankembali hadir, dan itulah yang membuatku harus berhati-hati dalam menempuh perjalan sekitar 75 kilometer. Sengaja aku ambil jalan alternatif untuk lebih mempersingkat jarak jika dibandingkan dengan jalan utama yang ada.
...
Jalan alternatif tidak semulus jalan utama yang ada. Genangan air masih menjadi pemandangan rutin dalam perjalananku ini. Dan ternyata jalan alternatif ini juga menjadi pilihan alternatif kendaraan yang lebih besar dari kendaraan motor, seperti truk dan mobil. Waspada dan hati-hati tetap kulakukan agar bisa selamat dalam perjalanan. Di saat aku sedang menikmati perjalananku ini tiba-tiba... prat...............prat...... prat...... cairan kotor telah menghiasi jaketku yang tembus air. Sesaat kemudian meluncurlah sumpah serapahku kepada sang pengendara mobil " Kurang ajar.......! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai mobil.... seenaknya saja ...!
...

Rabu, 18 Februari 2009

sosok12

Belajar dari kegigihan Nenek Misraya
...
Bunyi pecahan batu yang berirama cempreng telah mengalahkan deru kendaraan yang sesekali lewat di jalan yang berdebu karena aspalnya sudah lama rontok dimakan usia. Udara panas yang dihembuskan pantai tidak menyurutkan nenek Misraya (65) untuk tetap memecah batu sebesar bongkahan buah mangga itu.
...
Rumahnya yang terbuat dari gedek bambu hasil gotong royong tetangganya menjadi tumpuan terakhir berlindung dari teriknya panas pantai. Untunglah rumahnya persis berada ditepi sungai Cikaung di Rt. 01/02 Ds. Ujung Jaya Kec. Sumur, Ujung Kulon, Pandeglang Banten, sehingga jika mudah untuk mendapatkan batu-batu yang akan mengganjal rasa lapar yang melilitnya.
...
Jika selepas mengambil wudhu di sungai yang airnya masih jernih ini ia selalu menggendong batu-batu untuk dibawa ke rumahnya dengan menggunakan karung atau ember. Setelah berzikir mengahap sang kholik, tangan tuanya yang masih kelihatan kokoh mengayun-ngayunkan palu kecil yang dapat memecahkan batu-batuan menjadi kerikil.
...
Kulitnya yang hitam kelam menyiratkan kalau ia pekerja keras dan pantang menyerah. Butuh waktu satu jam untuk mendapatkan satu kaleng kerikil yang ia hargakan Rp. 1.500,- dalam satu hari ia mampu bekerja tiga jam, berarti Rp. 4.500 sudah dalam bayangannya. Kerikil hasil jerih payahnya ia onggokan di depan rumahnya „ Biar mudah kelihatan, kali aja ada yang butuh“ alasannya, matanya memandang onggokan batu hasil keringatnya beberapa hari yang lalu.
...
Meskipun ia tau bahwa kebanyakan rumah tetangganya terbuat dari bambu, berati jarang sekali keirilnya diburhkan karena biasanya hanya terjual jika ada tetangganya yang membangun rumah, tapi tak ada putus asa dalam kamusnya, ia pun mengumpulkan pasir dari sungai. Suaminya telah lama pergi meninggalkan kehidupannya yang terseok-seok, bahkan ia pun tidak tahu persis tahun berapa ia cerai dengan suaminya yang sampai saat inipun tidak ia ketahui dimana rimbanya. Dua anaknya yang diharapakan bisa menjadi pendamping hidup menelusuri ombak kehidupan yang terjal. Meninggal pada saat masih kanan-kanak.
...
Menggarapa sawah milik orang lain pun ia jalani, tak pernah berhenti tangan tuanya untuk selalu bekerja dan bekerj „Teu Kuli, Teu barang dahar“ (tidak bekerja, tidak makan), itulah folosofis sederhana. Ia tengok ke dalam rumah dan sinar matahari masuk menerangi rumahnya yang tanpa kaca tersebut menandakan akan bocor pada saat musim penghujan seperti sekarang ini „ Inginnya rumah ini diperbaiki, tapi gak ada biaya“ permohonannya sederhana. (Hendra Setia)
...

Senin, 16 Februari 2009

harapan

Berharap kakinya Tidak Diamputasi
...
Bapak Syarifudin terperanjat ketika bangun tidur, ia dapati kakinya mengalami pembengkakan. Seingat dia, tidak ada kejadian tertentu yang kemungkinan sebagai penyebab membesarnya telapak kaki kirinya tersebut. Rasa sakit mulai dirasakan oleh sang bapak yang telah ditinggal oleh istri tercintanya karena meninggal di tahun 1994 yang lalu. Tak menunggu waktu lama bapak 9 orang anak ini, memeriksakan diri ke rumah sakit yang ada di daerah Kamal Kalideres. Hal tersebut ia lakukan karena pembengkakan di kakinya ada bagian yang terkelupas dan mengeluarkan cairan bening.
...
Bapak Syarifudin yang tinggal di Kebon Made Kelurahan Kamal Kalideres ini merasa lebih tenang, ketika pihak rumah sakit mengatakan bukan merupakan penyakit gula (diabetes) dan hanya penyakit biasa. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, tanda-tandanya mirip dengan penyakit gula yang sulit sembuh jika terjadi luka. Tetapi ketenangan hati sang bapak yang tinggal di rumah satu petak ini hanya berjalan beberapa hari saja, karena hari-hari kemudian ia rasakan sebagai hari yang mencemaskan. Bagaimana tidak ? pembengkakan di kakinya telah berganti menjadi borok (koreng) yang semakin lama semakin meluas. Jika kulit yang menahan cairan itu terkelupas, maka saat itulah boroknya terus bertambah. Sedih memenuhi sisi kehidupannya sama seperti kesedihan menderanya ketika sang istri tercinta meninggal dunia.
...
Dua bulan telah berlalu, Bapak Syarifudin masih berharap akan kesembuhannya. Dia tidak lagi terus menerus meratapi kesulitan hidup yang Tuhan berikan kepadanya. Dia juga berusaha untuk selalu menghindari rasa putus asa yang kadang hinggap dalam benak sang bapak yang sebelumnya berjualan burung peliharaan. Dia juga tidak ingin larut dalam penderitaannya yang memaksanya terus tinggal di rumah yang sudah sempit dan tidak lagi nyaman yang tentunya tidak bisa kemana-mana seperti ketika dia sehat. Setiap hari keadaan memaksanya untuk berada di ruangan yang sempit dengan pemandangan berupa perabotan yang ala kadarnya. Ia kadang sedih tidak bisa memberikan tempat yang layak bagi anak-anaknya walau sekedar kamar tidur bagi anak-anak perempuannya. Tetapi kesedihan yang ia rasakan, jangan sampai membuatnya berprasangka buruk kepada Allah.
...
Kakinya sudah mati rasa, sehingga dia tidak lagi merasakan sakit di kakinya. Tetapi ketika ia paksakan untuk berjalan maka kakinya akan mengeluarkan darah, sehingga oleh anak-anaknya disarankan untuk tidak memaksakan diri untuk bergerak. Kebutuhan harian dan sekedar untuk membeli obat antibiotik ia dapatkan dari anak-anaknya yang telah bekerja, itupun dengan jumlah yang terbatas. Selama ini bantuan dari tetangga atau dari pihak manapun belum ia peroleh, karena memang ia tidak pernah meminta kepada mereka. Dia hanya berharap bahwa ia bisa sembuh, bisa bekerja lagi dan berharap pula kakinya tidak diamputasi. Dia terus berdoa kepada Allah dan yakin Allah akan berikan jalan keluar tanpa ia sendiri ketahui bagaimana caranya.
...

Rabu, 11 Februari 2009

perjalanan

Perjalanan Panjang Yang Tak Lagi Panjang
....
Ketika hendak pulang kampung dengan sepeda motor untuk yang pertama kalinya, beribu keraguan terus saja menyelimuti keputusanku. Ketidakpercayaan untuk menempuh perjalanan sejauh 450 kilometer, hampir saja meruntuhkan keinginan melewati sebuah pengalaman baru. Ketakutan akan berbagai bahaya dan aral melintang dalam menyisiri beberapa propinsi di pulau Jawa ini, mampu mengantarkanku pada kebimbangan terhadap perencanaan yang telah tersusun. Perasaan sangsi atas kemampuan berkendaraanku sendiri, terus mengimbangi kualitas teknis yang teruji di hadapan polisi ketika aku mengikuti Ujian memperoleh SIM.
...
Tetapi tekad telah terhunjam, keputusan telah final dan keinginan untuk melakukan hal baru telah tertanam kuat dalam obsesiku. Perjalan ini memang bukan hal yang sangat luar biasa bagi kebanyakan orang, tetapi bagiku inilah perwujudan sebuah motivasi. Aktifitas ini terkesan tidak memiliki makna apapun selain terkesan "nekad" tapi bagiku kapan lagi kita belajar untuk menghadapi rintangan secara jantan dan tidak terus lari dari kenyataan. Berkendaraan dalam perjalanan jauh dengan sepeda motor memang tidak direkomendasikan oleh "pihak berkepentingan", tapi bagiku dengan membawa motor ini ke kampung maka dalam sekian hari dan pekan akan bermanfaat menunjang mobilitasku.
...
Setelah memantapkan diri untuk melakukannya, maka kususun sebuah strategi agar dapat kulalui perjalanan yang panjang ini. Sebuah perencanaan yang mampu menyelesaikan rute ini dengan kondisi yang tetap stabil untuk mengimbangi beban konsentrasi yang harus tetap dijaga. Sebuah langkah jitu yang tetap memberikan energi agar tujuan dari aktifitas ini bisa tercapai. Dan sebuah hitungt-hitungan agar apa yang telah direncanakan tidak sia-sia dan berakhir dengan kekonyolan.
...
Yapp.... ketemu... kutemukan sebuah strategi, perencanaan dan langkah yang jitu. Konsep ini cukup berada dalam pikiranku, tanpa perlu tertulis dalam sebuah rangkaian kalimat. Jalan keluarnya juga cukup singkat sehingga tidak perlu untuk tersusun dalam sebuah "flow chart" yang rumit. Ya.... perjalanan panjang ini ternyata tersusun atas perjalan-perjalanan pendek yang bersambung dan berurutan. Ya ternyata perjalanan yang aku lakukan hanyalah perjalanan pendek berjarak 1 kilometer yang bersambung sebanyak 450 kali. Aku hanya perlu melajukan motorku untuk jarak 10 kilometer yang bersambung hingga 45 kali. Dan aku cukup mengendarai motor sahajaku sepanjang 45 kilometer lalu beristirahat dan kulanjutkan lagi hingga sepuluh kali istirahat.
...
Dalam hidup banyak hal-hal besar yang ingin kita rengkuh hingga ia menjadi bagian dari apa yang kita sebut sebagai perjalanan hidup. Cita-cita melambung setinggi langit seperti yang diajarkan para generasi pendahulu menjadikan ia kadang beririsan dengan khayalan semu yang tidak pernah kunjung datang. Harapan-harapan kebaikan terasa silih berganti mengiringi kepedihan yang kerap mendekati bahkan memeluk kita secara erat-erat. Dan para motivator di negeri ini terus memprovokasi kita untuk terus merajut asa yang tercerai berai oleh ketakutan yang terus mengiringi kita. Bahkan sebagian orang membayar dengan materi secara berlebihan terhadap apa yang mereka sebut sebagai mimpi.
...
Akhirnya banyak dari sekian manusia yang kehabisan energi untuk merengkuh kebesaran dengan menurunkannya sebagai kehidupan yang realistis. Cita-cita yang telah dilambungkan ia tarik kembali dalam sikap oportunis yang pragmatis. harapan-harapan kebaikan ia bungkus dengan stigma khayalan dalam sebuah pepesan kosong. Dan para motivator yang biasa dikonsumsi inspirasinya ia tempatkan jauh-jauh dalam lubuk hatinya sembari berkata "Ah Omong Kosong".
...
Pada hakikatnya semua bisa tercapai dengan tahapan-tahapan yang mampu dan bisa kita kerjakan. Hal-hal besar yang ingin kita rengkuh, sejatinya merupakan akumulasi hal-hal kecil yang secara konsisten terus kita perjuangkan, hingga ia kemudian membesar dan menjadi sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Cita-cita yang melambung itu pada hakikatnya rangkaian keinginan-keinginan kecil yang tersusun secara rapi dan berkelanjutan hingga membentuk garis lurus ke atas. Harapan yang terkesan muluk pada dasarnya merupakan sekumpulan hasrat yang terus terpendam dan menghujam dalam hati untuk kemudian diteruskan sebagai sebuah energi besar untuk menggapainya.

Selasa, 27 Januari 2009

ujian

Mengapa Kita Harus Mengikuti Ujian ?
...
Pada saat penerimaan raport semester pertama anak saya, kulihat ada dua mata pelajaran terpampang dengan nilai yang tidak sedap dipandang mata. Hanya saja warnanya tidak merah seperti pada jaman aku sekolah dahulu. Warnanya menjadi hitam, tetapi ia sama kualitasnya dengan warna merah di raport jaman dahulu. Tetapi nilai itu memang sudah aku perkirakan sebelumnya, apa pasal ?. Pada saat ujian semester berlangsung, dua mata pelajaran itulah yang tidak diikuti oleh anakku.
...
"Abi, kenapa sih kita perlu mengikuti tes (ujian) ?" begitulah pertanyaan anakku yang baru kelas 1 SD, ketika kusampaikan kenapa nilainya kurang bagus. "Anakku, jika kita mampu menjawab soal-soal dalam ujian semester, maka kita berarti telah mampu mengikuti pelajaran. Di akhir semester depan ujian lagi dan Aida bisa menyelesaikannya, maka Aida bisa naik kelas".
...
Bssssss..... tiba-tiba aku merasakan sesuatu memenuhi emosiku. Sesuatu yang menjelaskan betapa selama ini aku sering mengeluh terhadap ujian-ujian kehidupan. Tidak terima dengan keadaan sering hadir mengiringi setiap keputusan Tuhan. Terlena dengan ujian kesenangan yang selalu kuterima sebagai sebuah keharusan. Terlempar dalam keputus asaan di saat banyak hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Terjatuh dalam kehinaan di saat keburukkan aku anggap sebagai sebuah pemakluman.
...
Pertanyaan Anakku memberikan kejelasan betapa rapuhnya aku menghadapi kuatnya terpaan kehidupan. Pertanyaan anakku menggambarkan betapa aku tidak memahami pelajaran-pelajaran kehidupan. Pertanyaan anakku menyadarkanku bahwa selama ini aku tidak mau untuk meningkatkan "kelas" kehidupan melalui ujian yang harus kujalani. Aku ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, siang malam kuberdoa agar hal tersebut bisa tercapai. tetapi kita Tuhan berikan kesempatan melalui sebuah ujian, aku terpuruk dan kalah sebelum aku bisa menyelesaikan ujian tersebut. Ya... Allah... berikan aku ujian, jika itu mampu memberikan "kelas" terbaik bagiku.
...
Ujian kehidupan bisa berupa apa saja, apakah itu kesenangan maupun kesedihan. Ketika ada sebuah kesadaran yang baik terhadap ujian kehidupan yang kita terima, maka pada saat yang sama ada potensi besar kita bisa merasakan kebahagiaan setara dengan penderitaan yang kita peroleh. Maka hanya orang-orang yang cerdas saja yang memaknai ujian dan penderitaan sebagai sebuah tantangan dan menjadikannya sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Kekurangan rezeki adalah sebuah peluang kita untuk bekerja keras menambah rezeki yang sebenarnya telah disediakan Allah kepada kita. Kehinaan yang kerap hadir dalam keseharia kita adalah sarana kita untuk memperoleh kemuliaan dengan tidak menghina dan mencaci orang-orang yang pada hakikatnya lebih terhina.
...

Senin, 26 Januari 2009

menang

Bukan Masalah Menang atau Kalah
...
Seperti biasanya pagi ini aku memulai perjalanan rutin puluhan kilometer menuju kantorku. Setelah memastikan semuanya dalam kondisi baik-baik saja, segera melajulah aku menuju jalanan yang kini semakin bertambah banyak lubangnya. Hujan yang terus mengguyur selatan jakarta ini, mampu mengikis kekuatan aspal yang telah menghiasi jalan sekitar 3 bulan yang lalu.
...
Lubang yang membuat kesal para pengguna jalan ini, sepertinya akan terus terjadi jika musim penghujan tiba. Selama air hujan terus menggenangi jalanan ini, maka selama itulah lubang-lubang baru akan tercipta. Heran, orang pintar negeri ini tidak mampu membenahi permasalahan yang seharusnya tidak lagi menambah masalah pengguna jalan yang memang sudah penuh dengan masalah.
...
Oops.. Aku masih dalam perjalanan, sehingga konsentrasi lebih penting dari hanya sekedar mencibir sang "ahli" yang tidak lagi pintar. Kekecewaanku pada "pihak yang berkepentingan" aku sisihkan dengan kewaspadaan agar bisa menghindari lubang-lubang di jalan yang semakin sulit aku hitung. Kecepatan motorku masih standar pada saat secara tiba-tiba, ada sebuah sepeda motor dengan kecepatan yang cukup tinggi dan kurang terkendali menghampiriku.
...
Aku panik menghadapi situasi seperti ini. Motornya agak oleng dan dia kerepotan mengendalikan laju kendaraan yang ia naiki. Sebuah lubang di tengah jalan harus ia hindari secara tiba-tiba dan memakai badan jalan sebelan kanan yang seharusnya tidak ia lewati karena ada garis putih memanjang tanpa putus. Kesal aku melihat kejadian itu, sudah tahu banyak lubang tapi masih saja melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Oops... sekali lagi aku harus kendalikan emosiku untuk menilai terlalu banyak terhadap orang lain. Sekarang masalahnya bagaimana keadaan ini tidak menimbulkan keadaan yang lebih buruk.
...
Tanpa memperdulikan siapa menang dan kalah, maka aku banting ke kiri sepeda motor yang kukendarai hingga masuk parit yang tidak terlalu lebar. Kecepatanku yang tidak terlalu kencang, mengakibatkan aku hanya terjatuh pelan tertimpa motor merahku. Sementara "sang jagoan" terus berlalu seiring dengan kemampuannya menguasai keadaan tanpa menengok sedikitpun ke arahku. Kesal.. kesal dan kesal...
...
Keadaan kita, terkadang dihadapkan pada sebuah pilihan-pilihan yang tidak menyenangkan. Keadaan yang tidak nyaman itu justru hadir pada saat kita tidak layak mendapatkannya. Kita juga kadang tidak memperoleh penghargaan dari kemenangan dan kebenaran yang telah kita lakukan. Kemenangan itu seharusnya berada di atas dari kebenaran yang telah kita tegakkan. tetapi pada kenyataannya, tidak selamanya menang dan benar akan menentukan keadilan yang seharusnya kita peroleh.
...
Ternyata benar dan menang terkalahkan oleh kemanfaatan dan kebaikan yang lebih besar. Benar dan menang tidak sekaku sistem operasional di sebuah alat. Benar dan menang masih bisa menyesuaikan setelah terjadi banyak pertimbangan. Benar dan menang bertoleransi dengan diskusi dan tenggang rasa. Jadi bukan masalah benar dan salah serta menang dan kalah.
...
Hingga pada akhirnya, aku juga tidak merasa pada situasi benar dan salah ketika sebuah keputusan, istriku memilih melahirkan di sisi sang orang tua di kampung dari pada ditemaniku. Dan aku juga tidak merasa pada situasi kalah dan menang, jika kemudian aku harus mengurus dua anakku yang ia tinggal. Kedua anakku tidak mungkin pergi ke kampung, karena mereka harus tetap bersekolah.
...

Rabu, 21 Januari 2009

ekstrim

Terpojok dalam Kutub-Kutub
...
Sudah rutin aku lakukan di pagi dan petang hari untuk menempuh puluhan kilometer menuju kantor. Sejauh itu pula aku terus berdamai dengan motor dan jalanan yang tidak lagi ramah. Tiba-tiba secara tak sengaja ada dua motor berdampingan berjalan pelan mengatasi kemacetan tepat berada di depanku. Dan ternyata ada hal yang menurutku sangat menarik. Di bagian belakang motor tertulis sebuah kata-kata yang berbeda satu dengan yang lain. Salah satu motor tertempel sebuah stiker dengan tulisan "Hari gini nggak punya gigi ? Ompong Dech !". Sedangkan satu motor lagi melekat sebuah stiker bertuliskan "Hari gini oper gigi ? capek Dech !".
...
Setelah membaca tulisan di kedua stiker tersebut, aku menjadi teringat betapa kita ini selalu saja disuguhi dengan pilihan-pilihan yang ekstrim. Kutub-kutub "pengakuan kebenaran" di satu pihak disempurnakan dengan "pengklaiman keburukan" di luar kebenaran yang ia bangun. Jangan heran jika kita disuguhi tampilan sosok politikus yang mengatakan apapun yang keluar dari lawan politiknya, akan selalu salah. Bahkan kebaikan-kebaikan yang ditimbulkannya pun akan tenggelam dalam "kebersalahannya".
...
Ketika kita tonton sebuah film maka kutub-kutub ini akan menggiring kita pada situasi "memaklumi". Apapun yang dilakukan "sang jagoan" akan kita tempatkan sebagai sebuah kebenaran. Membunuh, merusak, menyiksa, berbohong bahkan memperkosa sekalipun kita anggap sebagai sebuah kebenaran atau minimal kita tidak menempatkan sebagai sebuah kesalahan. Ketika peran anatagonis muncul maka penggambarannya akan selalu menuju kesalahan dan kita tergiring untuk mengklaim semua tingkah lakunya sebagai sesuatu yang harus dijauhi secara emosional.
...
Coba renungkan, karena kebencian kepada seseorang maka seluruh atribut dan kebaikan yang menempel dalam dirinya akan selalu kita maknai sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan jika membenci seseorang maka lihat wajahnya saja, kita sudah muak. Ya... baru sekedar lihat wajah, padahal dia belum melakukan apapun. Apalagi kemudian mengucapkan sesuatu maka itu adalah sapaan yang nyaris tidak mau kita dengar walaupun dia mengucapkan salam dan untaian kebaikan. Semua hilang oleh sebuah ekstrimisme sikap kita. Sejatinya setiap manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, memiliki banyak kekurangan diantara serangkaian kekurangan yang ia miliki. Pahamilah, ambilah segala kebaikan dan buanglah setiap keburukan secara arif dan bijaksana.
...

beda

Apa Bedanya Antara Kurang dan Lebih
...
"Kamu mah udah enak hidupnya, punya istri yang cantik, anak-anak yang lucu, kendaraan dah lunas, rumah dengan isinya yang cukup lengkap" Begitulah sang teman mengkomentari keadaanku. Ucapannya memposisikan aku sebagai orang yang paling bahagia di dunia, sementara baginya adalah masih dalam angan belaka. Mungkin hal itu muncul karena ia berada di posisi yang agak berbeda dengan keadaanku. Padahal kita sama-sama kerja satu kantor dan memulai lintasan karir yang hampir sama.
...
Dirinya mungkin belum memiliki keberuntungan sperti yang aku peroleh. Bujangan, tinggal di kos-kosan, naik bis kota setiap hari dan memiliki cadangan keuangan dengan nominal tabungan yang selalu lebih rendah dari gaji bulanan yang ia terima. Sepertinya aneh memang dengan lintasan karir yang sama dengan beban tanggung jawab yang berbeda, tetapi nyatanya tidak "seideal" yang dibayangkan dari sisi materi dan imateri.
...
Dalam banyak kesempatan, kita sering memandang "lebih" orang lain. Kita melihat orang lain lebih sukses, lebih bahagia, lebih senang, lebih kaya dan lebih baik. Padahal sejatinya kondisinya akan sama dengan keadaan dari "si pengiranya". Kita merasa orang lain sukses terhadap suatu pekerjaan, padahal orang tersebut masih terus saja berjuang untuk meraih kesuksesan selanjutnya. Orang lain terlihat lebih bahagia memiliki pasangan yang ideal secara fisik, tetapi kebahagiaanya akan terus dicari setelah bertemu dengan keindahan tubuh pasangannya.
...
Kita mengira orang akan senang dengan mobil dan rumah mewah yang ia miliki, namun kesenangannya tidak akan berhenti tatkala kemudahan materinya bisa membeli yang seba mewah tersebut. Jangan pula mengira orang yang kaya telah merasa cukup dan puas dengan apa yang diperolehnya, boleh jadi kondisinya justru lebih "serakah" lagi untuk terus mengumpulkan pundi-pundi materinya. Orang yang kita anggap lebih baik, justru dalam kondisi merana karena ketidakmampuannya untuk mengendalikan dirinya, tidak seperti kesuksesannya mengendalikan orang lain. Jadi, antara yang kurang dan lebih akan dirasakan sama jika pemaknaan kita juga sama terhadap sesuatunya. Anda pilih kurang atau lebih?
...

Selasa, 20 Januari 2009

aku

Aku Memberi Karena Aku Punya
...
Orang yang paling baik diantara manusia adalah orang yang bisa memberi manfaat kepada yang lain. Maka orang baik akan melakukan kebaikan sebelum kebaikan itu dilakukan untuk menimbulkan kemanfaatan keberadaan dirinya. Kemanfaatan akan dirasakan jika ada proses "transfer" yang mengikutinya. Materialnya tidak harus berwujud kebendaan, dia juga bisa berupa sesuatu yang tidak berwujud. Antara berwujud materi dan tidak berwujud, sama-sama nyata dan jelas dirasakan.
...
Berbuat baik membutuhkan material kebaikan yang akan ditranfer. Oleh karena dibutuhkan material yang cukup dari sisi kualitas dan kuantitasnya. Keduanya untuk menjamin bahwa dampak dari transformasinya sesuai dengan yang diharapkan sejak semula ia berada. Pada akhirnya material kemanfaatan harus dipunya dengan kapasitas yang berkualitas. Maka seyogyanya setiap manusia juga harus berusaha untuk mengakses material tersebut sesuai dengan keadaan dirinya.
...
Maka carilah harta yang banyak agar orang lain bisa berdaya dengan rupiah yang kita sumbangkan. Galilah ilmu yang luas agar manusia tercerahkan dalam menjalani kehidupan. Raihlah kesuksesan agar tebar keberhasilan melanda semua orang yang berhubungan. Dapatkan kebahagiaan agar kita mampu mentransfer kedamaian di muka bumi ini.
...
Rengkuhlah optimisme agar semua orang bisa tertawa riang menjalankan aktifitasnya. Lemparkan senyum ketulusan agar isi dunia merasakan betapa indahnya dunia. Tebarkan kebaikan yang telah tertanam agar ia tidak membusuk menjadi kebanggaan. Memberilah, karena kita punya. Punyailah, karena kita ingin memberi.
...

Senin, 19 Januari 2009

pamrih

Jangan Terlalu Berharap
...
Seorang teman menyampaikan kepadaku tentang keinginannya untuk bekerja "lebih tetap" dari hanya sekedar relawan di sebuah organisasi sosial. Perkataannya memang terkesan hanya sebagai pemanis "obrolan semata". Tetapi bagiku itulah sebuah perasaan hatinya yang paling terdalam. Maka pada suatu kesempatan kusampaikan keinginannya kepada rekan yang memiliki "wewenang" untuk menerima karyawan. Maka diterimalah ia untuk bekerja di tempat yang memang ia "sangat menginginkannya.
...
Tiga tahun telah berlalu dan aku bertemu dengannya dalam pekerjaan-pekerjaan yang sering dilakukan bersama walaupun berbeda lembaga. Keakraban yang aku susun, sengaja aku pererat agar dia bisa lebih kuat persaudaraannya. Gurauan dan canda yang aku sampaikan tentang masa-masa sulitnya ternyata tidak berujung pada lintasan "kehadiranku" dalam perbaikan kehidupannya. Padahal kisah sulit yang aku ungkit, berharap ada ungkapan terima kasih hingga pelukan kesyukuran atas jasa yang kuberikan.
...
Seorang teman sekantor menceritakan tentang harapannya agar bisa kembali mengelola sebuah program yang telah selesai pada tahap awal. Keinginannya begitu kuat, walau tidak tersampaikan secara menggebu. tetapi naluriku mengatakan ada sesuatu yang ingin ia capai dan tidak sekedar mengelola program yang berlokasi di luar pulau jawa ini. Maka ketika ada sebuah kesempatan, aku mengajukan namanya sebagai kandidat untuk menangani program yang memasuki tahap berikutnya, kepada pihak yang "memiliki" kewenangan untuk menerima sumber daya manusia. Diterimalah ia bekerja di tempat yang diinginkanya sekaligus mempersunting pujaannya yang tinggal di sekitar tempatnya bekerja. Oh.... ternyata........
...
Empat tahun telah berlalu dan akhirnya aku bertemu dengannya di sebuah proyek yang ditangani secara bersama. Awal perjumpaan kami dibumbui dengan kisah-kisah lama yang sempat terputus oleh jarak dan waktu. Tetapi ketika aku ungkit tentang bagaimana dia bisa memperoleh pekerjaan itu, ternyata tidak ada lintasan diriku dalam kisah yang ia susun. Padahal niatanku untuk mengungkit cerita itu, agar ada "sejarah besarku" yang bisa dia ungkap dan berujung pada ucapan "terima kasih".
...
Pamrih dan penghargaan, sering mengikuti aktifitas baik yang telah kita lakukan. Penghargaan itu kadang hanya sekedar ucapan terima kasih. Apapun motivasinya orang akan sangat senang jika "perannya" bisa diketahui orang. Kepuasan akan terasa bagi si pemberi bantuan jika pemahaman orang terhadap bantuan yang kita berikan semakin besar. Di sisi lain, membuat peran dalam lintasan keberhasilan pada kehidupan orang lain tidak harus berharap pada penghargaan. Jika kita terlalu banyak berharap maka akan merusak "bantuan" yang telah kita berikan. Kerelaan melakukan tidak harus sebanding dengan besarnya penerimaan. Bisakah kita melakukan kebaikan tanpa ingin disebut pahlawan? Apalagi terjebak dalam hitungan materi.
...

Minggu, 18 Januari 2009

jalani

Cerita Indah Masa Yang Berlalu
...
Seorang pengusaha yang sukses menceritakan tentang perjuangannya dalam meraih keberhasilan. Keadaan yang sangat menyulitkan dalam hidupnya, ia ceritakan dengan lancar dan ringan. Sesekali senyum dan tawa mengiringi kisah pedihnya kala itu. Rasa derita dan pilu yang ia rasakan tidak lagi mengikuti dalam rangkaian kata yang ia susun. Kisah sedihnya begitu indah untuk ia sampaikan kepada lawan bicaranya.
...
Seorang kawan menceritakan tentang anaknya yang meninggal karena kanker ganas. Rangkaian kisah yang ia susun menggambarkan betapa kesedihan yang sangat luar biasa yang ia alami. Dirinya yang seorang dokter, tidak mampu menahan rasa sakit sang putra tercinta, hingga Tuhan menghentikan penderitaannya. Kata-kata yang meluncur menggambarkan betapa ketabahan seseorang dalam menghadapi kepedihan, bisa menjadi inspirasi semua orang. Tidak ada penyesalan terhadap ketentuan Tuhan yang telah disematkan kepadanya.
...
Seorang trainer terkemuka bercerita tentang masa kecilnya yang sulit. Kisahnya terlontar penuh dengan kepercayaan diri yang kuat. Penderitaan, hinaan, cacian dan umpatan yang ia peroleh adalah sebuah rangkaian cerita yang harus ia syukuri. Ia meyakini alur kisah telah Tuhan buat untuk merangkai kisah-kisah berikutnya. Baginya, segala yang tidak menyenangkan akan menjadi moment untuknya memacu diri meraih prestasi. Bahkan dengan jantan, ia datangi semua orang yang telah menghinanya, untuk ia jalin persaudaraan.
...
Sebuah band terkenal, menceritakan kisah sedihnya dengan tertawa. Mereka mentertawakan kisahnya pada saat mereka tidak dibayar saat "manggung" di suatu tempat. Pembayaran tunda yang selalu mereka alami di awal-awal karir mereka, menjadi sendau gurau yang menyenangkan. Tidak ada dendam yang membekas terhadap mereka-mereka yang secara langsung "merugikan" mereka.
...
Mungkin banyak juga hal yang menimpa diri terkait dengan penderitaan dan perjuangan. Saat ini mungkin kita masih terkepung oleh penderitaan dan kegelisahan. Derita dan nesatapa seolah terus saja mendera setelah permasalahan yang lain telah kita selesaikan. Jalanilah kisah sedih yang sekarang kita rasakan, karena ia akan menjadi cerita indah di masa mendatang. Telusurilah cerita sedih yang sedang kita alami, karena kita akan tertawa menceritakannya di kemudian hari. Nikmati penderitaan kita yang tengah mendera, karena ia akan menjadi ringan kisahnya jika kita bercerita. Ikuti alur perjalanan penuh lubang dan duri, karena suatu saat kita akan bangga bahwa kita mampu melewatinya. Jalanilah......... karena ia akan ..............
...

baik

Papan Lusuh dan Buku Kotor
...
Dalam sebuah kesempatan, aku diberi tugas untuk melakukan survey di wilayah paling barat Kabupaten Tangerang. Lebih dari seratus kilometer, perjalanan dengan motor kantor aku tempuh guna data-data Kecamatan Kronjo yang diperlukan bisa terpenuhi. Awalnya ada keraguan dalam diriku, ketika sang donatur "luar negeri" menginginkan data ekonomi dan kesehatan di wilayah yang sekarang memekarkan diri menjadi Kecamatan Mekar Baru. Tidak hanya sekedar opini masyarakat, tetapi data ril yang harus kudapatkan di kantor-kantor pemerintah. Sebuah spekulasi yang aku lakukan pada hari sabtu dan minggu, dimana pada saat yang sama semua instansi tutup.
...
Tetapi menjalankan tugas dengan rasa optimis, mampu menjauhkan kemungkinan-kemungkinan. Melaksanakan kegiatan dengan berprasangka baik, telah menelan logika-logika yang seharusnya terjadi. Aku lebih senang melihat hasil melalui proses yang tidak pernah terbayang, dari pada menentukan hasil dengan hitungan asumsi. Bergerak menelusuri takdir lebih menggembirakan dari pada diam dengan memainkan peluang.
...
Berbekal orang yang pernah dikenal oleh seorang teman, meluncurlah aku menuju kecamatan tetangga. Kecamatan Mauk yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kecamatan Kronjo menjadi tujuan pertamaku. Setelah bertanya lebih dari lima orang, bertemulah aku dengan mantan Kepala Penyuluh Pertanian Kecamatan Kronjo. Hanya saja dia tidak bisa lama-lama menemuiku karena ada urusan ke Jakarta, dan hanya menyebutkan seorang nama yang bisa aku temui di Kecamatan Kronjo yang kebetulan menjabat sebagai kepala penyuluh pertanian kecamatan.
...
Dengan "menjual" nama mantan kepala penyuluh yang sekaligus mantan pimpinannya, diterimalah aku di rumah dinasnya yang sederhana. Setelah kujelaskan maksud dan tujuannya, maka menginaplah aku di salah satu ruangan kantor. Aku coba berdiskusi dengannya bagaimana saya bisa mengakses data-data primer yang ada di kecamatan dan di setiap desa. Beliau juga tidak bisa membantu lebih karena kantor pemerintahan semuanya tutup, dannjika harus berkeliling sebanyak 10 desa tentu waktunya tidak akan mencukupi.
...
Kebingungan melandaku beberapa saat. Data belum kudapatkan pada hari minggu ini apalagi memperoleh data primer kondisi di masyarakat. Keraguan terus terjadi, apakah bisa memperoleh data di desa yang seseuai dengan program, sementara data kecamatan saja aku belum punya. Aku hampir putus asa hingga pandangan mataku tertuju pada data-data monografi yang tergeletak di sudut ruangan. Data-data perkembangan penduduk tertulis di papan yang cukup lebar dengan kondisi yang agak sulit terbaca.
...
Tertulis angka tahun 2002, artinya data itu 4 tahun yang lalu. Tidak masalah, langsung saja aku tulis semua data yang ada. Di saat aku mencatat data yang ada, mataku tertuju pada sebuah buku lusuh yang tergeletak bukan pada tempatnya. Debu yang menempelnya tidak membuatku ragu untuk membukanya. Ternyata sebuah coretan-coretan dari petugas sensus yang menyebutkan angka data yang lebih terbaru, 2005 !. Hingga akhirnya aku tahu 2 atau 3 desa yang bisa disurvey. Sesaat kemudian meluncurlah aku menuju dua desa yang menjadi prioritas program. Aku meyakini apa yang terjadi akan menghasilkan sesuatu di kemudian hari.
...
Aku tidak pernah melupakan hari itu, hari dimana ada keputusan bahwa program setengah milyar bisa dijalankan oleh lembagaku. Aku teringat bagaimana proses itu dijalani dengan penuh suasanan kebatinan yang amat sangat. Bahwa program besar ternyata terlaksana , melalui papan lusuh yang tergelak di pojok dinding serta buku kotor yang belum sempat dirapihkan.
...

Jumat, 16 Januari 2009

niat

Keinginan Untuk Berbuat Baik
...
Sebelum berangkat kerja seperti biasa kupersiapkan segala sesuatunya. Setelah membangunkan anak-anak, kubantu istri untuk memandikan dua buah hatiku yang harus pergi ke sekolah. Sementara anakku yang ketiga kubiarkan dulu terlelap hingga kakak-kakaknya telah mengenakan seragamnya. Merapihkan tugas-tugas kantor yang "terpaksa" di bawah ke rumah serta mengenakan seragam kantor yang kubeli sendiri, menjadi agenda pagiku. Tidak lupa "manasin" mesin motor yang kubeli dari aksi "over kredit" teman yang membutuhkan untuk operasi cesar istrinya. Dan terakhir, kumasukan tambang kecil ke dalam bagasi motor kesayanganku.
...
Kucium kening ketiga anakku sebagai tanda sang ayah sudah siap berangkat kerja. Kupastikan kedua anakku telah memperoleh nasehat yang terus aku ulang setiap pagi agar mereka konsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan guru mereka. Sesaat kemudian meluncurlah aku dari sebuah perkampungan yang asri menuju kota tempat aku bekerja. Tidak terasa setiap hari aku menempuh 25-an kilometer untuk menuju tempat pengabdian dan "penghidupanku".
...
Hujan deras mengguyur dan ini telah berlangsung beberapa hari. Hujan juga tidak mengenal waktu, ia turun seseuai dengan kehendak Tuhan tanpa pernah kita ketahui secara pasti. Karena telah kupersiapkan segala sesuatunya, maka kukenakan semua perlengkapan "perlindungan" terhadap kondisi ini. Dan perjalanan rutin ini akhirnya berlanjut.
...
Di tengah perjalanan ada seorang pria paruh baya dengan keadaan yang payah mendorong sepeda motornya. Tenaganya banyak yang keluar seiring dengan kondisi jalan yang sedikit menanjak. Tanpa pikir panjang, kuhampiri dia dan kutanya "kenapa pak ?" "Mogok!" jawabnya singkat. "Boleh kubantu Pak ? kutawarkan sebuah bantuan kepadanya. "Oh tidak usah, sudah dekat kok bengkel di depan" Jawabnya lagi. "Baiklah Pak, Saya duluan " Kutinggalkan dia dengan perasaan heran karena aku tahu bengkel terdekat berjarak lebih dari 500-an meter ke depan.
...
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan menembus hujan yang masih saja mengguyur wilayah selatan Jakarta ini. Perjalananku masih sekitar 15 kilometer lagi, saat kutemui seorang anak muda berjalan mendorong motornya yang mengalami masalah. Tubuhnya yang kecil, membuatnya harus mengeluarkan tenaga besar agar motor "gedenya" bisa berjalan. Akhirnya kudekati dia dan kutanya dia tentang apa yang terjadi, "Kehabisan bensin Pak !" jawabnya singkat ketika kutanya apa yang terjadi. Lalu kutawarkan bantuan kepadanya, setelah kupastikan bahwa SPBU terdekat berjarak sekitar satu kilometer ke depan.
...
Dengan wajah yang menunjukkan bahagia, dia mengangguk kepadaku. Maka dalam waktu yang relatif singkat kukeluarkan tambang kecil dari bagasi motorku dan kuikatkan di kedua motor. Sebuah kebahagiaan kecil menyeruak dalam hatiku, ketika kesempatan untuk berbuat baik berbuah dari niatan yang baik pula. Aku juga yakin tambang kecil yang kuikatkan di motornya, pasti merasakan kebahagiaan yang sama denganku. Dan dia akan terus berada dalam bagasi motorku hingga dia melakukan tugas mulia, jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
...

Kamis, 15 Januari 2009

sosok10

INSYAF
...
Masa tua seseorang ditentukan bagaimana kehidupannya di masa muda. Idiom itu sering muncul dalam beberapa kesempatan. Hal itulah yang sempat membuat Rahmat menjadi gundah dengan apa yang telah dilaluinya. Masa mudanya, bahkan masa kecilnya ia lalui dengan hal-hal yang tidak diharapkan oleh orang tua dan banyak orang di sekitarnya. Sekolahnya berantakan sejak Rahmat SD, prestasinya tidak menggembirakan seperti yang ia peroleh setelah dia ke SMP.
...
Lepas SMP, Rahmat tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia lebih asyik bergaul dengan teman-teman tongkrongannya. Merokok merupakan langkah awal Rahmat sebelum kemudian menikmati minuman keras dan narkoba. Hampir setiap hari Rahmat terkapar di pinggir jalan dan harus digotong oleh orang tuanya untuk dibawa ke rumah untuk kemudian dimandikan. Seringkali waktu-waktu Rahmat tersita untuk berjudi bersama-sama teman satu ganknya. Pada akhirnya Rahmat juga terjebak dalam aksi pencurian, untuk bisa membeli minuman keras dan narkoba yang tidak bisa ia tahan. Mengambil barang milik orang tua sudah tidak terhitung, untuk ia habiskan di meja judi.
...
Pernah suatu ketika, Rahmat dan teman-temannya mencuri sebuah radio di rumah kenalan mereka sendiri. Setelah berhasil mencuri, seperti biasa mereka menjual ke "penadah" langganannya. Tetapi apa yang terjadi, ternyata radionya rusak dan tidak memiliki harga yang berarti untuk bisa membeli "pil syetan" yang harus mereka jual kepada konsumennya.
...
Aktifitas buruk ini tetap berlanjut dan semakin menggila ketika dia merantau ke jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan dan Jasa Keuangan. Justru pergaulannya semakin berkembang dan memiliki jaringan "sumber" barang haram yang lebih murah. tetapi waktu berjalan dan kehidupan pun berputar.
...
Di sela-sela aktiftas buruknya tetap berlangsung, tawaran kehidupan yang "lebih baik" juga terlihat di depan matanya. Di kampungnya orang-orang sering mengikuti pengajian dan perkumpulan dalam sebuah organisasi. Muncullah kehampaan hidupnya ketika menyaksikan orang "berkumpul dan mengaji" memancarkan sebuah tawaran kebahagiaan yang ia ketahui. Kebimbangan akan tingkah lakunya terus menguat saat melihat orang "berkumpul dan mengaji" menunjukkan rasa optimis yang besar terhadap kehidupan.
...
Ajakan, sapaan dan senyuman orang-orang "baik" itu mampu mencairkan kebekuan hatinya selama ini. Kehangatan dan ketulusan yang mereka tunjukkan, mampu meluluhkan perasaan buruk selama ini. Akhirnya kesadaran pun muncul. Sesegera mungkin rahmat mengambil air dan mencuci kaki orang tuanya. Di hadapan sang orang tua Rahmat meminta maaf atas segala kesalahan yang selama ini ia kerjakan. Air hasil cucian tersebut ia minum sebagai sebuah tanda penyesalan yang paling dalam yang dapat ia tunjukkan. Semenjak itu Rahmat mulai belajar memaknai "kehidupan yang lebih baik".
...
Tetapi menjadi baik juga bukan hal yang mudah dan butuh perjuangan. Tatapi sebuah keberuntungan bagi Rahmat, ketika ia bertemu dengan sebuah program pemberdayaan yang digulirkan di kampungnya. Sosok pendamping yang ditempatkan di wilayahnya mampu memperkuat tekad yang telah tertunjam dalam dadanya. Pertemuan rutin mingguan yang dilakukan, sedikit demi sedikit menambah keilmuan melalui nasehat pedamping dalam "sesi kultum". Rahmat juga memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini melalui "ikrar anggota" yang ia ucapkan setiap minggunya. Keinginan belajar kitab suci juga mulai tumbuh, minimla ketika dia dapat giliran baca tidak "malu-maluin".
...
Kemampuan berorasi juga mulai dicoba oleh Rahmat melalui aksinya sebagai pembawa acara dan memberi sambutan sebagai pengurus. Keterlibatannya dakam aktifitas sosial juga terus terjadi ketika Rahmat beberapa kali menjadi "komandan" dalam aktifitas sosial seperti pembagian sembako, pengobatan gratis dan sunatan massal. Ketika di daulat menjadi pengurus kelembagaan sosial, Rahmat menerimanya sebagai sebuah harapan mengantarkannya kepada "keinsyafan".
...

Rabu, 14 Januari 2009

mungkin

Karena Sesuatunya Tak pasti, Berarti Mungkin
...
Dalam sebuah perjalan dari Purwokerto menuju Jakarta, hujan lebat mengguyur awal perjalananku. Sejak keluar rumah, jas hujan yang aku kenakan telah berjuang melindungiku dari terpaan air dan angin. Motor yang aku kendarai beberapa kali harus bersiaga terhadap lubang dan kondisi jalan yang terkadang licin. Satu jam perjalananku, dilalui dengan jarak pandang yang terbatas. Semakin lama waktu berputar hujan semakin deras mengguyur. beberapa kali terfikirkan olehku untuk menghentikan perjalanan dan kembali ke rumah.
...
Asa yang telah terhujam dipermainkan dengan kondisi yang tidak bersahabat. Seakan hujan terus saja mengiringi perjalanku ini. Kekhawatiran menyeruak mengikuti perjalanan 450 kilometer yang harus kutempuh. Keadaan memaksaku untuk berfikir kapan keadaan hujan ini akan mereda. Mungkin justru bertambah deras dengan terpaan angin yang semakin kencang. Hujan... hujan... dan hujan tanpa henti.
...
Di kesempatan lain, aku harus menempuh perjalanan darat dari Mamuju ke Mamuju Utara. Mobil yang kutumpangi harus terus waspada menyelusuri jalan jelek sejak meninggalkan ibukota Propinsi Sulawesi Barat Ini. Perjalanan yang hanya menempuh 200-an kilometer ini ternyata menyita waktu sekitar 11 jam. Jalur tebing yang rawan longsor, menghiasi poros Sulawesi yang belum tertata benar pegerjaannya.
...
Hutan, kebun dan hutan lagi, terus saja menjadi pemandangan yang tak pernah berhenti dalam perjalanan menuju kabupaten paling utara di Sulawesi Barat. Kesunyian demi kesunyian terus saja terhampar di kiri dan kanan mobil yang aku tumpangi. Keraguan merasuk dalam benakku, kapan pemandangan ini akan berakhir. Dunia dipenuhi oleh hutan dan kebun tanpa berpenghuni. Seolah tidak ada dunia lain yang kutemui di pulau yang baru pertama kali aku jamah ini. Hutan.... Hutan.... dan hutan tanpa kehidupan.
...
Mungkin kita sering menghadapi berbagai hal yang menurut kita lama hal itu berakhir. Permasalahan ataupun hal-hal yang kurang menyenangkan serasa terus terjadi dalam kehidupan kita. Seolah-olah tiada akhirnya dan itu membuat kita terus merasa tersiksa dan tak berdaya. Padahal jika kita bersemangat dalam aktifitas, kita bersabar dalam menjalani, kita fokus terhadap tujuan yang telah tertancap, maka kita akan temui harapan. Sesungguhnya waktulah yang akan mengiringi semangat, tekad, sabar dan orientasi kepada dunia selain hujan, dunia selain hutan dan dunia selain kesulitan. Harapan itu Masih Ada.
...

Senin, 12 Januari 2009

dulu

Pantaskah Tetap Dibanggakan
...
Puluhan kilometer untuk memberikan pengajian rutin mingguan di sebuah kampung terpencil aku lakukan sebagai bentuk "pengabdian" kepada Tuhan. Motor bututku harus tertatih-tatih menyelusuri jalan yang sudah tidak mulus lagi. Pada banyak kesempatan, jas hujanku tidak mampu lagi menampung derasnya air hujan yang mengiringi perjalananku. Tak terasa hawa dingin yang menerpaku mampu menembus jaket yang ternyata tidak berfungsi dengan semestinya dalam melawan hawa itu. Setiap minggu, 6 jam perjalanan malam melewati hutan pinus ini, terasa memberikan kenikmatan hidup. Tapi, Itu Dulu.....
...
Belasan kilometerpun harus kutempuh guna memberi- kan "pencerahan" kepada warga di sebuah kampung di tengah kebun karet. Sejauh itu pula, roda sepeda yang aku kayuh menelusuri jalan tanah dan berbatu. Setiap hari, hidupku dipenuhi dengan agenda "perjalanan malam" yang terasa hangat karena gerakan mengayuh sepeda. Entah berapa kali aku harus mengerang kesakitan karena terjatuh dari sepeda yang menabrak batu dan lubang. Cahaya rembulan dan kilat yang menyambar kujadikan cahaya penerang perjalanan karena ketiadaan lampu jalanan. Peluh yang mengucur kujadikan sebuah "bukti pengabdian" yang tulus kepada Tuhan. Tapi, Itu Dulu.....
...
Perjalanan waktu berlanjut seperti yang telah digariskan oleh "Sang Maha Kuasa". Kesempatan untuk meniti "jenjang" yang lebih tinggi, memberikan sebuah logika baru bahwa sudah sepantasnya kehidupanku harus lebih intelektual. Pengalaman masa yang sudah berlalu, merupakan alasan bahwa itu semua telah aku lakukan dan hal tersebut telah terlewati. Kehidupan yang selalu berubah dan berputar, menggiringku pada kesimpulan semu, bahwa sudah saatnya saya menikmati perjuangan yang telah aku torehkan. Pada akhirnya aku terperangkap pada kondisi, bahwa perjuangan ada masanya.
...
Hingga akhirnya aku terjebak menghitung fasilitas dan efektifitas tanpa harus "bermandi peluh". Aku terperangkap dalam aktifitas yang bersifat strategis tanpa mau tersentuh dan terlibat secara teknis. Aku terpenjara dalam tingkatan kapasitas untuk menentukan siapa berbuat apa. Aku menghamba pada penghormatan dan penghargaan yang terus mengalir dari masa laluku. Akhirnya aku tak punya lagi energi untuk berbuat lebih nyata, selain bermain dengan angka dan data. Masa laluku kubanggakan untuk menghindari tuntutan masa depan.
...
Selamat tinggal "pejuang", doakan aku untuk bisa kembali. Tunggu aku besok pagi, karena aku akan kembali menemukan kembali jiwamu. Keringat yang mengucur, rasa sakit yang tertahan, malam yang dingin, kerja tanpa pamrih, jiwa untuk berbagi akan menjadi hari-hari yang indah. Jika Tuhan menghendaki.
....

Minggu, 11 Januari 2009

indahnya

Kamar Mandiku Kini Ada Pintunya
...
Kehidupan memang terasa indah, jika kita jalani dengan penerimaan yang tulus. Keadaan selalu saja memberikan energi yang tidak pernah habis, jika kita mampu mengikuti iramanya. Kejadian begitu menyegarkan, jika kita mampu mengambil inspirasi dari runtutan peristiwa yang tersusun olehnya. Sejarah selalu saja terus berlanjut dalam keadaan baik, jika kita mampu menyelami dengan kemampuan yang kita miliki. Dan sebab akibat yang nyata terus saja dalam koridor istimewa, jika kita meyakini bahwa kesunyataan itu akan tetap mengalir.
...
Dengan bermodalankan pasrah, penerimaan dan kerja keras, aku beli sebuah tanah dengan luasan yang sama dengan salah satu kamar di rumah pemberian orang tuaku. Kucari tanah dengan harga murah seharga 2 ekor kambing yang aku jual. Dan kubeli rumah berbilik bambu milik tetanggaku yang sudah lama tidak menempatinya karena "ada makhluk halusnya". Kubeli rumahnya sebagai keseriusan dia membayar hutang kepada orang lain yang terus membengkak bunganya yang berawal dari angka 500 ribu. Dan kupindahkan rumah biliknya dengan melibatkan keikhlasan tetangga yang rela membantu tanpa pamrih yang pantas yang bisa aku berikan.
...
Ada kesenangan kecil ketika rumah bilikku berdiri. Rumahku terasa lebih indah jika dibandingkan rumah orang tuaku yang megah dan bernilai ratusan juta. Ada kebahagiaan ketika kupandang rumah sederhana yang kubangun atas dasar "merintis dari bawah". Ada senyum meluncur dari bibirku, mengiringi tekadku untuk tidak sekedar menerima pemberian orang lain, sekalipun orang tua sendiri. Perabotan yang sangat sederhana menghiasi rumah kecilku, membuatku tertawa kecil betapa terlalu bangganya aku terhadap apa yang bisa kucapai padahal seluruh perabotan yang ada nilainya masih di bawah harga lemari pakaian pemberian orang tuaku.
...

Aku tidak merasa malu ketika orang tuaku datang menginap dan harus tidur beralaskan tikar di ruangan yang sempit. Bagiku ini adalah hiburan baginya, mengimbangi kamar tidur yang luas dengan kasur empuk di dalamnya. Aku tidak merasa risau dengan kehadiran "anak buahku" yang harus rela berdiri karena ketiadaan kursi. Aku juga tidak begitu memperdulikan ketika reka-rekan kerjaku memberikan sebuah brosur berisi promosi kredit rumah dengan cicilan yang murah selama 10 tahun. Diriku juga tidak merasa minder ketika Presiden Direktur tempatku bekerja datang mengunjungiku dan berkata " Rumahmu antik !" Memang kenapa Pak? tanyaku. "Kamar mandimu tidak ada pintunya"

terampas

Fasilitas Yang Memenjarakan
...
Aku merasakan kebahagiaan yang tak tertandingi dalam menjalani hari-hari penuh dengan keterbatasan. Kedamaian dalam keluarga terasa begitu nyata terjadi mengiringi ketidakmampuan ekonomi orang tuaku. Ketenangan perasaan terus terpelihara seiring dengan kerja keras pilar ekonomi keluargaku dalam mengais rezeki. Penghormatan komponen anggota rumah tangga terus dijunjung seiring perjalanan waktu dalam kondisi penerimaan terhadap "pandom".
...
Betul-betul kesenangan tersebut tidak tergantikan oleh tawaran-tawaran pelengkap dunia yang begitu menggoda. Penerimaan terhadap kesulitan menjadikan kami lebih arif dalam menghadapi kerasnya kehidupan yang pasti akan menemuiku. Keadaan internal keluargaku yang stabil menutup keinginan kami terhadap berbagai hal yang melenakan. Kondisi yang memaksa, mengakibatkan aku dan keluargaku tidak terjebak dalam fasilitas yang tidak alami.
...
Keadaan tersebut ternyata harus berhenti pada saat aku merasakan titik kebahagiaan tertinggi. Sebuah tawaran untuk masuk "sekolah orang miskin" aku sambut sebagai sebuah anugerah dari Allah. Berangkat dari sebuah keinginan untuk menuntut ilmu "secara formal" sehingga bisa menjadi sarana terjadinya perubahan pola pikir, menjadi motivasi kuat yang orang tua tekankan kepadaku. Aku sesungguhnya tidak mengerti perkataan orang tuaku, tetapi sebagai sebuah bhakti kepadanya kuturuti saja keinginannya.
...
Kisah terus berlanjut dan akupun menikmati pendidikan gratis. Bahkan banyak hal yang kuperoleh secara gratis. Pendidikan dan sarana penunjang sekolah seperti tas, buku, sepatu, seragam pakaian, penginapan bahkan makan minum dan semua kebutuhan dipenuhi oleh yayasan. Kunikmati perubahan yang sangat drastis ini, fasilitasnya tidak sekedar ada, tetapi sangat lengkap dan modern. Pihak yayasan bilang untuk memberikan kenyaman agar semua siswa bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran.
...
Tetapi semua yang aku peroleh di "boarding school" ini justru awal bencana itu datang. Sekolah megah yang aku masuki membuatku bangga melebihi dari kebanggaan yang seharusnya aku rasakan. Seragam sekolah yang terbagus yang pernah aku kenakan, menggiringku pada kenyataan betapa ketidak mampuan orang tuaku untuk memberikan yang terbaik pada buah hatinya. Makan enak dan bergizi yang aku lahap setiap harinya membuat aku merasa enggan makan menu yang disediakan orang tuaku jika aku liburan dan pulang kampung.
...
Ruangan kelas yang ber AC menjadikan aku tidak memiliki kekebalan tubuh yang baik terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Internet dan komputer yang tersedia di tempatku belajar menjadikan aku lebih menikmati ketersendirian dari pada bergaul dengan teman-temanku. Guru-guru kreatif yang mengajariku tanpa pernah marah kepada muridnya menjadikanku merasa bebas melakukan apa saja, termasuk membantah perintah orang tua yang "tidak rasional" terhadap banyak hal.
...
Pendidikan gratis yang membimbingku megajarkan aku untuk terus "mengemis" agar tetap memperoleh fasilitas yang cukup dalam menunjang hari-hariku. Gedung mewah yang tertutup dengan dunia luar, membuatku malas bersosialisasi kecuali dengan teman yang bisa "menguntungkan" terhadap peningkatan kualitas diriku.
...
Setelah keluar dari sekolah tingkat menengah tersebut aku menjadi benci dengan semua keadaan masa laluku. Aku tidak suka pada sikap orang tuaku yang berpendirian kuno dalam melakukan banyak hal. Fasilitas yang serba ada ketika sekolah dulu membuat mati berkreatifitas terhadap permasalahn yang tidak selalu "sistematis". Pergi ke sawah, sungai dan bermain sepak bola tidak lagi membuatku bahagia, apalagi berkumpul dengan kawan-kawan "kampungan".
...
Aku jadi takut menghadapi keadaan yang selalu berada dalam ketidakpastian. Kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, penghormatan, penerimaan, kretaifitas, persaudaraan telah musnah seiring dengan berjayanya sekolah orang miskin yang semakin menjamur di setiap sudut kota besar. Fasilitas itu ternyata betul-betul membunuh orang miskin sepertiku.
...

Sabtu, 10 Januari 2009

sosok9

Pak Guru ! Beli Jagungnya Dong
..
Sudah puluhan tahun Darso mengabdi sebagai guru di sebuah SMP Negeri di Kota bojonegoro. Darso juga tercatat sebagai salah satu PNS di lingkungan Dinas Pendidikan. Setiap hari Darso mengajar di sekolah yang sudah berstandar nasional atau sekolah model di Kabupaten Bojonegoro dan sekarang masuk katagori RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Tidak ada yang yang berbeda antara Darso dan guru-guru lainnya yang mengajar di SMP Negeri 2 Bojonegoro. Hanya saja jika sore hingga malam hari di saat para pendidik lain berkumpul dengan keluarga dirumahnya, justru Darso dan keluarganya menuju alun-alun kota Bojonegoro.
..
Sebuah pangkalan PKL di alun-alun kota menjadi tujuan Darso setiap harinya. Ternyata pak guru berjualan jagung bakar. Kegiatan menjual jagung bakar sudah ditekuninya lebih dari tiga tahun. Jika beberapa kisah guru yang "nyambi" bekerja karena tuntutan ekonomi, justru Darso melakukan itu karena jiwa "dagangnya" yang sudah terasah sejak dia masih kecil. Darso selalu saja tergoda untuk melakukan bisnis jika ada keadaan memberi sebuah kesempatan untuk melakukannya.
...
Dahulu sebelum ada pasar induk Bojonegoro dibangun, pasokan jagung manis tidak tersedia secara rutin. tetapi setelah adanya pasar induk Bojonegoro, ternyata Darso sering melihat tumpukan jagung manis di dalam karung setiap sore. Sejak itulah terfikir baginya untuk menjalankan bisnis yang belum dilakukan oleh orang lain di sekitar Alun-Alun. Maka Guru humoris yang tinggal di Jalan Dewi Sartika ini, menyiapkan tempat termasuk sebuah banner dengan nama "Jagung Bakar Jakarta".
...
Pada hari pertama jualan, Ayah berputra empat ini menyiapkan dua karung jagung sebagai penjajagan pasar, ternyata habis sebelum larut malam. Akhirnya hari berikutnya ia tambah lagi stoknya. Tetapi pada hari ketiga terjadi keterlambatan kiriman jagung ke pasar induk dan Darso tidak menggelar dagangannya, tetapi dengan sikap jantan, Darso yang berjenggot lebat ini, tetap "hadir" di lokasi jualan dan memberikan senyumnya terhadap kekecewaan konsumen yang sudah datang.
...
Perisitwa yang tidak terlupakan oleh guru Bahasa Jawa dan Seni ini adalah, ketika malam tahun baru. Lebih dari 600 tongkol jagung manis dia bakar untuk memenuhi keinginan konsumen yang membludak di Alun-Alun. Dari mulai Jam 5 hingga Jam 1 dinihari Darso harus rela menggerakan kipas dengan tangannya agar jagung yang sudah dipesan cepat tersaji. Selama hampir delapan jam dia terus menggerakan tangannya untuk "ngipasin bara" untuk membakar jagung, kecuali terpotong untuk sholat maghrib dan Isya. Termasuk yang membeli adalah murid-muridnya di SMP. "Pak Guru Beli jagungnya, sepuluh pak ! rasa manis dan pedas ya pak, jangan pakai lama... "Baik Mba... Mas..." Jawab Sang Guru kepada muridnya.

Jumat, 09 Januari 2009

sosok7

Ku Tak Mau Tak
...
Berjudi sudah menjadi budaya masyarakat? sepertinya terlalu berlebihan untuk diungkapkan. Tetapi aktifitas ini sudah hal yang lumrah dilakukan di Kampung Iwul termasuk yang dilakukan oleh Sarta. Selalu saja ada alasan untuk melakukan aktifitas yang berprinsip "spekulasi untuk meraih keuntungan" ini. Pada kenyataannya tidak ada seorangpun diantara warga yang sebagian besar pengrajin tahu dan oncom ini, menjadi kaya karena bermain judi. Hal itu juga disadari oleh Sarta yang merupakan pengrajin oncom tertua di kampungnya.
...
Penghasilan Sarta membuat dan menjual oncom bisa mencapai 50 ribu hingga 75 ribu sehari, tentunya dia tidak mempertimbangkan tenaga kerja yang dilakukan Sarta dan anak istrinya. Penghasilan tersebut sudah cukup membuat keluarga ini mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi karena perjudianlah, ternyata pendapatan yang besar pun tak membuat perekonomian keluarganya menjadi baik. Karena keterlaluannya, hampir setiap kesempatan Sarta melakukan aktifitas yang dilarang Agama ini. Rumah, sawah, kebun, poskamling, lapangan bahkan dalam perjalan pulang dari pasar pun, aktifitas haram ini bisa dikerjakan.
...
Sebagaimana diketahui, Sarta dan teman-teman seprofesinya kebanyakan menjual tahu dan oncomnya ke pasar-pasar tradisional di Jabodetabek. Mereka secara bersamaan menyewa mobil bak terbuka untuk membawa barang dagangannya. Jika pulang dari pasar, maka di atas bak terbuka itulah kegiatan judi dilakukan. Aktifitas ini justru sangat ramai jika lebaran tiba dan ketika ada hajatan yang dilakukan salah satu warga. Semalam suntuk Sarta dan teman-temannya menggelar "ritual" penyakit masyarakat ini.
...
Tetapi itu dulu, sebelum tahun 2000 an. Hal tersebut mulai berubah ketika ada program pembinaan-pembinaan rutin dilakukan setiap minggunya. Tokoh Agama dengan pelan tapi pasti memberikan wacana tentang adanya aktifitas lain yang lebih bermanfaat dari hanya sekedar berjudi. Sarta akhirnya menyadari tentang kekhilafan yang ia kerjakan.
...
Keteladanan dan optimisme dari para penyeru kebenaran membuat Sarta luluh. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak berjudi lagi, termasuk mengajak famili dan teman-temannya untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Program pemberdayaan yang dia peroleh, semakin banyak memberi alternatif kegiatan yang lebih bermanfaat. Bahkan dengan memproduksi oncom, Sarta dapat memperbaiki rumah serta memiliki kendaraan baik motor maupun mobil yang biasa mengangkut para penjual tahu oncom ke pasar, Asal jangan berjudi di atas kendaraan, ku tak mau tak.

Kamis, 08 Januari 2009

sosok8

"Terjebak Dalam Pengabdian"
...
"Sejujurnya, menjadi ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat bukanlah merupakan pilihan dirinya" begitulah kata-kata Djafar Shodiq ketika ditanya keterlibatannya di LPM Desa Darmasari. Djafar Shodiq menyadari sebagai pensiunan pegawai perusahaan perkebunan swasta, tidak pernah terfikirkan untuk beraktifitas pada jalur pemberdayaan. Aktifitasnya selama ini tidak bersentuhan langsung dengan dunia "seni mengelola manusia tersebut". Baginya bekerja dengan baik sebagai seorang karyawan merupakan pengabdian yang besar bagi orang lain.
....
Tetapi ceritanya menjadi lain, sesaat setelah dia pensiun sebagai "mandor" perusahaan. Seorang teman akrab yang kebetulan Kepala Desa baru terpilih di desa yang masuk administratif Kecamatan Bayah ini, mendatanginya dan meminta dengan sangat untuk bisa "menjadi komanda" di sebuah aktifitas yang pernah terfikirkan olehnya. Djafar Shodiq juga tidak habis pikir kenapa Odi memberikan amanatnya tersebut kepadanya. Penolakan tersebut tidak bisa dihindari setelah ternyata mayoritas penduduk yang tinggal diperbukitan Banten Selatan ini, meyetujui apa menjadi usulan Kepala Desa mereka.
...
Awal-awal kiprah Djafar Shodiq dipenuhi dengan rasa tertekan, terjebak sekaligus terpenjara dengan aktifitas barunya ini. Tetapi satu hal yang ia lakukan adalah, semua kegundahan dan ketidaknyaman yang ia rasakan, tidak pernah dia tunjukan kepada orang lain. Mungkin inilah yang menjadikan orang semakin percaya dengan amanat yang telah mereka sematkan ke Djafar Shodiq.
...
Rasa tertekan ia lawan dengan selalu berkeliling desa untuk mengetahui kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Untuk mengatasi keadaan "terjebak", dia selalu memikirkan bagaimana setiap permasalahan yang ada di kampungnya bisa melahirkan sebuah solusi. Dan keadaan "terpenjara" justru membuat energi yang besar bagi seorang Djafar Shodiq untuk bisa lebih peduli dengan kebutuhan orang lain, melebihi kebutuhan dirinya.
...
Seiring dengan pergantian waktu, gundah gulana yang menghantui dalam aktifitasnya telah berganti dengan semangat dan optimisme. Keengganan untuk berbagi kepada yang lain, berubah menjadi sebuah pengabdian tanpa pamrih. Kesibukan dalam sebuah aktifitas rutin yang individualis, berganti menjadi persaudaraan dan perhatian yang tulus dari dalam hati. Ketidaktahuan dia akan seluk beluk dunia pemberdayaan, berganti menjadi keinginan untuk memberikan keadilan kepada seluruh masyarakat melalui lembaga yang ia pimpin.
...
Hingga akhirnya kegundahan muncul ketika ada satu kebutuhan vital masyarakat yang belum terwujudkan. Masyarakat yang tinggal di Kampung Tenjo Laut dan sekitarnya kesulitan memperoleh air bersih. Mereka harus antri memperoleh "jatah" air dari kampung lain agar ember mereka terpenuhi air bersih. Jangan harap air bisa memenuhi bak mandi mereka, apalagi jika musim kering tiba, dapat dua ember ukuran sedang saja sudah untung. Djafar Shodiq terus merenung bagaimana permasalahan ini bisa terselesaikan. Hatinya merasa sedih ketika pertengkaran antar warga muncul akibat "perasaan tidak adil" dalam pembagian "jatah" air. Di sisi lain tidak jauh dari perkampung (sekitar 3 km) ada sumber air yang melimpah, yang sebenarnya bisa menyelesaikan kebutuhan utama rumah tangga ini.
...
Gayung bersambut, sebuah lembaga sosial melakukan survey dan menyatakan program layak untuk bisa dilakukan di Desa yang berbatasan dengan Pantai Selatan Banten ini. Akhirnya program pipanisasi dilaksanakan dan dipimpin langsung oleh Djafar Shodiq agar hasilnya naksimal sehingga tidak jebol lagi seperti dahulu sebanyak dua kali pembangunan. Djafar merasa sedikit lega hasilnya sangat menggembirakan dan sekarang ratusan KK telah menikmati air bersih yang tidak hanya memenuhi ember mereka tetapi bak mandi yang berukuran 3 meter persegi. Djafar senang bahwa ia terjebak dalam sebuah aktifitas pengabdian di hari tuanya.

Rabu, 07 Januari 2009

posisi

Tujuan Yang Menentukan
...
Seorang teman berkisah, sekumpulan orang membangun sebuah bangunan yang cukup megah di tengah-tengah perkampungan nan indah. Dari cara kerja dan raut mukanya terlihat berbeda satu sama lain, seperti menyimpan sesuatu yang berbeda pula dalam diri mereka. Kemudian seorang pemuda yang kebetulan lewat merasa tertarik untuk menanyakan hal tersebut.
..
Orang yang terlihat paling muda ditanya, "sedang apa bang?, "Ah.. ini.. ngisi waktu senggang aja, dari pada dirumah pusing lebih baik ikut kumpul-kumpul, lumayan bisa beli rokok. Yang kedua ditanya dengan pertanyaan yang sama, "Anda tidak tahu saya sedang bekerja, nyari uang buat kebutuhan keluarga". Yang ketiga menjawab " saya sedang membangun sebuah sekolah, ya.. mudah-mudahan anak saya tidak terlalu jauh sekolahnya.
...
Sedangkan ketika yang keempat ditanya apa yang sedang ia kerjakan, dengan mantap ia menjawab " Saya sedang membangun sebuah peradaban!". Maksudnya ? "coba Anda renungkan, jika sekolah ini sudah jadi, maka anak-anak desa ini akan memperoleh pendidikan, dan dengan pendidikan inilah akan menghasilkan orang-orang berkualitas yang akan menebarkan nilai-nilai kebaikan di dunia ini dan tentunya peradaban baru dengan kehidupan yang lebih baik akan segera terwujud.
...
Sebuah aktifitas yang sama, berangkat dari sebuah pemahaman yang berbeda, akan menghasilkan proses yang berbeda pula. Mungkin dalam banyak kesempatan, kita melakukan hal-hal kecil dan mudah. Kita juga, kadang ditempatkan pada kondisi "di belakang dan terbatas". Sering kali, kita merasa tidak diberi kesempatan untuk bisa berbuat lebih dari yang sekedar bisa diberikan oleh keadaan. Banyak kejadian, kita juga terpaksa melakukan sesuatu yang capaian-capaiannya tidak sedramatis yang kita harapkan.
...
Jangan heran jika kemudian pilihan menjadi ibu rumah tangga menjadi sebuah keadaan yang bukan muncul dari sebuah kesadaran akan sebuah keluhuran. Menjadi guru di sebuah sekolah swasta dengan gaji yang kecil merupakan pilihan terakhir dari sebuah ikhtiar yang tidak kunjung "datang keberuntungannya". Menjadi OB atau karyawan rendahan tidak mampu menggerakan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk kebaikan institusi yang menaunginya. Menjadi aparat tingkat lingkungan tidak menjadikan dia bersemangat untuk mengabdi kepada masyarakat secara utuh. Menjadi ketua partai tingkat desa menjadikan dia hanya bisa berharap dari "atasan" tanpa termotivasi "memberi tanpa berharap materi".
...
Justru nilai diri seseorang akan sangat teruji ketika kesempatan dan kemampuan bersatu, tetapi ada faktor yang kemudian harus "ditaati". Mungkin kita perlu berkaca pada kisah Khalid Bin Walid, sang Pedang Allah yang Terhunus. Panglima perang yang selalu memenangkan pertempuran ini justru dipecat oleh Khalifah Umar dan dijadikan sebagai prajurit biasa. Pemecatan itu sesaat sebelum perang di Asia Kecil dan juga membantu Sa'ad di front timur melawan Parsi. Walaupun sebagai prajurit, beliau tetap berjuang dengan semangat yang membara. Beliau juga memberi kontribusi yang besar kepada Sa'ad yang memimpinnya dalam melumpuhkan pasukan gajah yang menghadang mereka. Dan ketika ditanya bahwa dia berjuang bukan untuk umar tetapi berjuang untuk Allah Tuhan semesta alam.
...
Memang kita bukanlah Khalid Bin Walid "sang Pedang Allah yang Terhunus". Tetapi ingatlah, sifat pejuang besar bisa dilakukan di setiap kesempatan dan keadaan. Sifat negarawan bisa dimiliki oleh manusia sesederhana apapun orangnya. Menjadi guru bangsa bisa dilakukan oleh profesi serendah apapun. Menjadi agen perubahan dapat dilakukan oleh level terkecilpun. Menjadi pemimpin dunia bisa dikerjakan dalam wilayah sekecil apapun. Dan merubah dunia bisa dikerjakan dalam keadaan apapun. Berfikir besar mampu diwujudkan oleh kemampuan sekecil apapun.
...

Selasa, 06 Januari 2009

Renungan

.
Jangan-jangan...
...
Apa yang Anda rasakan ketika ban motor yang kita kendarai tiba-tiba bocor? Ternyata setelah kita perhatikan anda benda kecil yang menancap tepat di bagian tengah ban, ya... sebuah paku yang berbentuk payung dengan indahnya menghiasi si karet bundar. Dan apa pula yang kita rasakan ketika angkat wajah kita dari roda motor ternyata tepat didepan kita ada sebuah bengkel "menerima tambal ban".
...
Apa yang mucul dalam benak, pada saat mobil kita terhenti di depan traffic ligh, tiba-tiba ada ada seorang anak kecil menjulurkan tangan sambil menengadahkan wajah memelas kepada kita. Aksinya begitu disempurnakan dengan balutan baju yang boleh dibilang tidak pantas dipakai oleh seorang anak yang sedang lucu-lucunya. Pada saat yang sama tidak jauh dari tempat itu seorang laki-laki bertato memakai jeans dan memakai tutup kepala, memperhatikan si anak kecil tersebut.
...
Apa yang kita rasakan ketika saudara kita tergolek lemah di sebuah rumah sakit, tetapi tidak ada perlakuan seperti yang kita bayangkan dan hanya diberi cairan infus. Kita menganggap bahwa ia perlu segera memperoleh pertolongan akibat penyakit yang dideritanya. Kita sudah berusaha menanyakan ke bidan mengenai kondisinya tetapi dijawab untuk menunggu perkembangannya. Pada saat yang sama, kita melihat dokter dengan pakaian kebesarannya lalu lalang di depan mata kita.
...
Apa pula yang terfikirkan ketika ada seorang ustazd yang mengetahui banyak hal berbagai kebaikan-kebaikan yang Tuhan perintahkan kepada manusia. Sang Ustadz menyampaikan tentang zuhud, kesederhanaan, tentang keutamaan orang miskin dan tentang hinanya kehidupan dunia. Tetapi setiap mengisi ceramah di berbagai tempat, sang ustadz tidak lupa membawa kendaraan roda empat seharga 20 ekor kerbau. Tidak lupa pula dengan baju kebesarannya yang selalu bersih yang tidak pernah tersentuh kotornya tangan jamaah karena "sang pengawal" selalu melindunginya baik di kanan dan di kiri.
...
Mungkin banyak kejadian yang akhirnya kita sibuk dengan fikiran-fikiran yang kita bangun sendiri. Selalu saja diri kita terjebak dengan kemungkinan-kemungkinan yang memang bisa terjadi atau tidak. Hampir seluruh waktu kita habis mengomentari keadaan sekitar yang menurut kita tidak sesuai dengan adanya. Dan pda saat yang sama tersitalah energi kita untuk berusaha mengungkap realita di balik sebuah fakta. Dan akhirnya kita mati dengan kondisi tidak ideal yang kita maki dan kita benci setiap hari tanpa bisa berbuat untuk memberikan yang terbaik bagi kondisi yang belum tentu kita anggap jelek. Maka berbuat... berbuat dan berbuat, tanpa ada "jangan-jangan" yang melebihi dari kadar yang telah ditentukan.