Fasilitas Yang Memenjarakan
...
Aku merasakan kebahagiaan yang tak tertandingi dalam menjalani hari-hari penuh dengan keterbatasan. Kedamaian dalam keluarga terasa begitu nyata terjadi mengiringi ketidakmampuan ekonomi orang tuaku. Ketenangan perasaan terus terpelihara seiring dengan kerja keras pilar ekonomi keluargaku dalam mengais rezeki. Penghormatan komponen anggota rumah tangga terus dijunjung seiring perjalanan waktu dalam kondisi penerimaan terhadap "pandom".
...
Betul-betul kesenangan tersebut tidak tergantikan oleh tawaran-tawaran pelengkap dunia yang begitu menggoda. Penerimaan terhadap kesulitan menjadikan kami lebih arif dalam menghadapi kerasnya kehidupan yang pasti akan menemuiku. Keadaan internal keluargaku yang stabil menutup keinginan kami terhadap berbagai hal yang melenakan. Kondisi yang memaksa, mengakibatkan aku dan keluargaku tidak terjebak dalam fasilitas yang tidak alami.
...
Keadaan tersebut ternyata harus berhenti pada saat aku merasakan titik kebahagiaan tertinggi. Sebuah tawaran untuk masuk "sekolah orang miskin" aku sambut sebagai sebuah anugerah dari Allah. Berangkat dari sebuah keinginan untuk menuntut ilmu "secara formal" sehingga bisa menjadi sarana terjadinya perubahan pola pikir, menjadi motivasi kuat yang orang tua tekankan kepadaku. Aku sesungguhnya tidak mengerti perkataan orang tuaku, tetapi sebagai sebuah bhakti kepadanya kuturuti saja keinginannya.
...
Kisah terus berlanjut dan akupun menikmati pendidikan gratis. Bahkan banyak hal yang kuperoleh secara gratis. Pendidikan dan sarana penunjang sekolah seperti tas, buku, sepatu, seragam pakaian, penginapan bahkan makan minum dan semua kebutuhan dipenuhi oleh yayasan. Kunikmati perubahan yang sangat drastis ini, fasilitasnya tidak sekedar ada, tetapi sangat lengkap dan modern. Pihak yayasan bilang untuk memberikan kenyaman agar semua siswa bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran.
...
Tetapi semua yang aku peroleh di "boarding school" ini justru awal bencana itu datang. Sekolah megah yang aku masuki membuatku bangga melebihi dari kebanggaan yang seharusnya aku rasakan. Seragam sekolah yang terbagus yang pernah aku kenakan, menggiringku pada kenyataan betapa ketidak mampuan orang tuaku untuk memberikan yang terbaik pada buah hatinya. Makan enak dan bergizi yang aku lahap setiap harinya membuat aku merasa enggan makan menu yang disediakan orang tuaku jika aku liburan dan pulang kampung.
...
Ruangan kelas yang ber AC menjadikan aku tidak memiliki kekebalan tubuh yang baik terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Internet dan komputer yang tersedia di tempatku belajar menjadikan aku lebih menikmati ketersendirian dari pada bergaul dengan teman-temanku. Guru-guru kreatif yang mengajariku tanpa pernah marah kepada muridnya menjadikanku merasa bebas melakukan apa saja, termasuk membantah perintah orang tua yang "tidak rasional" terhadap banyak hal.
...
Pendidikan gratis yang membimbingku megajarkan aku untuk terus "mengemis" agar tetap memperoleh fasilitas yang cukup dalam menunjang hari-hariku. Gedung mewah yang tertutup dengan dunia luar, membuatku malas bersosialisasi kecuali dengan teman yang bisa "menguntungkan" terhadap peningkatan kualitas diriku.
...
Setelah keluar dari sekolah tingkat menengah tersebut aku menjadi benci dengan semua keadaan masa laluku. Aku tidak suka pada sikap orang tuaku yang berpendirian kuno dalam melakukan banyak hal. Fasilitas yang serba ada ketika sekolah dulu membuat mati berkreatifitas terhadap permasalahn yang tidak selalu "sistematis". Pergi ke sawah, sungai dan bermain sepak bola tidak lagi membuatku bahagia, apalagi berkumpul dengan kawan-kawan "kampungan".
...
Aku jadi takut menghadapi keadaan yang selalu berada dalam ketidakpastian. Kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, penghormatan, penerimaan, kretaifitas, persaudaraan telah musnah seiring dengan berjayanya sekolah orang miskin yang semakin menjamur di setiap sudut kota besar. Fasilitas itu ternyata betul-betul membunuh orang miskin sepertiku.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar