Senin, 12 Januari 2009

dulu

Pantaskah Tetap Dibanggakan
...
Puluhan kilometer untuk memberikan pengajian rutin mingguan di sebuah kampung terpencil aku lakukan sebagai bentuk "pengabdian" kepada Tuhan. Motor bututku harus tertatih-tatih menyelusuri jalan yang sudah tidak mulus lagi. Pada banyak kesempatan, jas hujanku tidak mampu lagi menampung derasnya air hujan yang mengiringi perjalananku. Tak terasa hawa dingin yang menerpaku mampu menembus jaket yang ternyata tidak berfungsi dengan semestinya dalam melawan hawa itu. Setiap minggu, 6 jam perjalanan malam melewati hutan pinus ini, terasa memberikan kenikmatan hidup. Tapi, Itu Dulu.....
...
Belasan kilometerpun harus kutempuh guna memberi- kan "pencerahan" kepada warga di sebuah kampung di tengah kebun karet. Sejauh itu pula, roda sepeda yang aku kayuh menelusuri jalan tanah dan berbatu. Setiap hari, hidupku dipenuhi dengan agenda "perjalanan malam" yang terasa hangat karena gerakan mengayuh sepeda. Entah berapa kali aku harus mengerang kesakitan karena terjatuh dari sepeda yang menabrak batu dan lubang. Cahaya rembulan dan kilat yang menyambar kujadikan cahaya penerang perjalanan karena ketiadaan lampu jalanan. Peluh yang mengucur kujadikan sebuah "bukti pengabdian" yang tulus kepada Tuhan. Tapi, Itu Dulu.....
...
Perjalanan waktu berlanjut seperti yang telah digariskan oleh "Sang Maha Kuasa". Kesempatan untuk meniti "jenjang" yang lebih tinggi, memberikan sebuah logika baru bahwa sudah sepantasnya kehidupanku harus lebih intelektual. Pengalaman masa yang sudah berlalu, merupakan alasan bahwa itu semua telah aku lakukan dan hal tersebut telah terlewati. Kehidupan yang selalu berubah dan berputar, menggiringku pada kesimpulan semu, bahwa sudah saatnya saya menikmati perjuangan yang telah aku torehkan. Pada akhirnya aku terperangkap pada kondisi, bahwa perjuangan ada masanya.
...
Hingga akhirnya aku terjebak menghitung fasilitas dan efektifitas tanpa harus "bermandi peluh". Aku terperangkap dalam aktifitas yang bersifat strategis tanpa mau tersentuh dan terlibat secara teknis. Aku terpenjara dalam tingkatan kapasitas untuk menentukan siapa berbuat apa. Aku menghamba pada penghormatan dan penghargaan yang terus mengalir dari masa laluku. Akhirnya aku tak punya lagi energi untuk berbuat lebih nyata, selain bermain dengan angka dan data. Masa laluku kubanggakan untuk menghindari tuntutan masa depan.
...
Selamat tinggal "pejuang", doakan aku untuk bisa kembali. Tunggu aku besok pagi, karena aku akan kembali menemukan kembali jiwamu. Keringat yang mengucur, rasa sakit yang tertahan, malam yang dingin, kerja tanpa pamrih, jiwa untuk berbagi akan menjadi hari-hari yang indah. Jika Tuhan menghendaki.
....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar