INSYAF
...
Masa tua seseorang ditentukan bagaimana kehidupannya di masa muda. Idiom itu sering muncul dalam beberapa kesempatan. Hal itulah yang sempat membuat Rahmat menjadi gundah dengan apa yang telah dilaluinya. Masa mudanya, bahkan masa kecilnya ia lalui dengan hal-hal yang tidak diharapkan oleh orang tua dan banyak orang di sekitarnya. Sekolahnya berantakan sejak Rahmat SD, prestasinya tidak menggembirakan seperti yang ia peroleh setelah dia ke SMP.
...
Lepas SMP, Rahmat tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia lebih asyik bergaul dengan teman-teman tongkrongannya. Merokok merupakan langkah awal Rahmat sebelum kemudian menikmati minuman keras dan narkoba. Hampir setiap hari Rahmat terkapar di pinggir jalan dan harus digotong oleh orang tuanya untuk dibawa ke rumah untuk kemudian dimandikan. Seringkali waktu-waktu Rahmat tersita untuk berjudi bersama-sama teman satu ganknya. Pada akhirnya Rahmat juga terjebak dalam aksi pencurian, untuk bisa membeli minuman keras dan narkoba yang tidak bisa ia tahan. Mengambil barang milik orang tua sudah tidak terhitung, untuk ia habiskan di meja judi.
...
Pernah suatu ketika, Rahmat dan teman-temannya mencuri sebuah radio di rumah kenalan mereka sendiri. Setelah berhasil mencuri, seperti biasa mereka menjual ke "penadah" langganannya. Tetapi apa yang terjadi, ternyata radionya rusak dan tidak memiliki harga yang berarti untuk bisa membeli "pil syetan" yang harus mereka jual kepada konsumennya.
...
Aktifitas buruk ini tetap berlanjut dan semakin menggila ketika dia merantau ke jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan dan Jasa Keuangan. Justru pergaulannya semakin berkembang dan memiliki jaringan "sumber" barang haram yang lebih murah. tetapi waktu berjalan dan kehidupan pun berputar.
...
Di sela-sela aktiftas buruknya tetap berlangsung, tawaran kehidupan yang "lebih baik" juga terlihat di depan matanya. Di kampungnya orang-orang sering mengikuti pengajian dan perkumpulan dalam sebuah organisasi. Muncullah kehampaan hidupnya ketika menyaksikan orang "berkumpul dan mengaji" memancarkan sebuah tawaran kebahagiaan yang ia ketahui. Kebimbangan akan tingkah lakunya terus menguat saat melihat orang "berkumpul dan mengaji" menunjukkan rasa optimis yang besar terhadap kehidupan.
...
Ajakan, sapaan dan senyuman orang-orang "baik" itu mampu mencairkan kebekuan hatinya selama ini. Kehangatan dan ketulusan yang mereka tunjukkan, mampu meluluhkan perasaan buruk selama ini. Akhirnya kesadaran pun muncul. Sesegera mungkin rahmat mengambil air dan mencuci kaki orang tuanya. Di hadapan sang orang tua Rahmat meminta maaf atas segala kesalahan yang selama ini ia kerjakan. Air hasil cucian tersebut ia minum sebagai sebuah tanda penyesalan yang paling dalam yang dapat ia tunjukkan. Semenjak itu Rahmat mulai belajar memaknai "kehidupan yang lebih baik".
...
Tetapi menjadi baik juga bukan hal yang mudah dan butuh perjuangan. Tatapi sebuah keberuntungan bagi Rahmat, ketika ia bertemu dengan sebuah program pemberdayaan yang digulirkan di kampungnya. Sosok pendamping yang ditempatkan di wilayahnya mampu memperkuat tekad yang telah tertunjam dalam dadanya. Pertemuan rutin mingguan yang dilakukan, sedikit demi sedikit menambah keilmuan melalui nasehat pedamping dalam "sesi kultum". Rahmat juga memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini melalui "ikrar anggota" yang ia ucapkan setiap minggunya. Keinginan belajar kitab suci juga mulai tumbuh, minimla ketika dia dapat giliran baca tidak "malu-maluin".
...
Kemampuan berorasi juga mulai dicoba oleh Rahmat melalui aksinya sebagai pembawa acara dan memberi sambutan sebagai pengurus. Keterlibatannya dakam aktifitas sosial juga terus terjadi ketika Rahmat beberapa kali menjadi "komandan" dalam aktifitas sosial seperti pembagian sembako, pengobatan gratis dan sunatan massal. Ketika di daulat menjadi pengurus kelembagaan sosial, Rahmat menerimanya sebagai sebuah harapan mengantarkannya kepada "keinsyafan".
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar