Minggu, 11 Januari 2009

indahnya

Kamar Mandiku Kini Ada Pintunya
...
Kehidupan memang terasa indah, jika kita jalani dengan penerimaan yang tulus. Keadaan selalu saja memberikan energi yang tidak pernah habis, jika kita mampu mengikuti iramanya. Kejadian begitu menyegarkan, jika kita mampu mengambil inspirasi dari runtutan peristiwa yang tersusun olehnya. Sejarah selalu saja terus berlanjut dalam keadaan baik, jika kita mampu menyelami dengan kemampuan yang kita miliki. Dan sebab akibat yang nyata terus saja dalam koridor istimewa, jika kita meyakini bahwa kesunyataan itu akan tetap mengalir.
...
Dengan bermodalankan pasrah, penerimaan dan kerja keras, aku beli sebuah tanah dengan luasan yang sama dengan salah satu kamar di rumah pemberian orang tuaku. Kucari tanah dengan harga murah seharga 2 ekor kambing yang aku jual. Dan kubeli rumah berbilik bambu milik tetanggaku yang sudah lama tidak menempatinya karena "ada makhluk halusnya". Kubeli rumahnya sebagai keseriusan dia membayar hutang kepada orang lain yang terus membengkak bunganya yang berawal dari angka 500 ribu. Dan kupindahkan rumah biliknya dengan melibatkan keikhlasan tetangga yang rela membantu tanpa pamrih yang pantas yang bisa aku berikan.
...
Ada kesenangan kecil ketika rumah bilikku berdiri. Rumahku terasa lebih indah jika dibandingkan rumah orang tuaku yang megah dan bernilai ratusan juta. Ada kebahagiaan ketika kupandang rumah sederhana yang kubangun atas dasar "merintis dari bawah". Ada senyum meluncur dari bibirku, mengiringi tekadku untuk tidak sekedar menerima pemberian orang lain, sekalipun orang tua sendiri. Perabotan yang sangat sederhana menghiasi rumah kecilku, membuatku tertawa kecil betapa terlalu bangganya aku terhadap apa yang bisa kucapai padahal seluruh perabotan yang ada nilainya masih di bawah harga lemari pakaian pemberian orang tuaku.
...

Aku tidak merasa malu ketika orang tuaku datang menginap dan harus tidur beralaskan tikar di ruangan yang sempit. Bagiku ini adalah hiburan baginya, mengimbangi kamar tidur yang luas dengan kasur empuk di dalamnya. Aku tidak merasa risau dengan kehadiran "anak buahku" yang harus rela berdiri karena ketiadaan kursi. Aku juga tidak begitu memperdulikan ketika reka-rekan kerjaku memberikan sebuah brosur berisi promosi kredit rumah dengan cicilan yang murah selama 10 tahun. Diriku juga tidak merasa minder ketika Presiden Direktur tempatku bekerja datang mengunjungiku dan berkata " Rumahmu antik !" Memang kenapa Pak? tanyaku. "Kamar mandimu tidak ada pintunya"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar