Rabu, 07 Januari 2009

posisi

Tujuan Yang Menentukan
...
Seorang teman berkisah, sekumpulan orang membangun sebuah bangunan yang cukup megah di tengah-tengah perkampungan nan indah. Dari cara kerja dan raut mukanya terlihat berbeda satu sama lain, seperti menyimpan sesuatu yang berbeda pula dalam diri mereka. Kemudian seorang pemuda yang kebetulan lewat merasa tertarik untuk menanyakan hal tersebut.
..
Orang yang terlihat paling muda ditanya, "sedang apa bang?, "Ah.. ini.. ngisi waktu senggang aja, dari pada dirumah pusing lebih baik ikut kumpul-kumpul, lumayan bisa beli rokok. Yang kedua ditanya dengan pertanyaan yang sama, "Anda tidak tahu saya sedang bekerja, nyari uang buat kebutuhan keluarga". Yang ketiga menjawab " saya sedang membangun sebuah sekolah, ya.. mudah-mudahan anak saya tidak terlalu jauh sekolahnya.
...
Sedangkan ketika yang keempat ditanya apa yang sedang ia kerjakan, dengan mantap ia menjawab " Saya sedang membangun sebuah peradaban!". Maksudnya ? "coba Anda renungkan, jika sekolah ini sudah jadi, maka anak-anak desa ini akan memperoleh pendidikan, dan dengan pendidikan inilah akan menghasilkan orang-orang berkualitas yang akan menebarkan nilai-nilai kebaikan di dunia ini dan tentunya peradaban baru dengan kehidupan yang lebih baik akan segera terwujud.
...
Sebuah aktifitas yang sama, berangkat dari sebuah pemahaman yang berbeda, akan menghasilkan proses yang berbeda pula. Mungkin dalam banyak kesempatan, kita melakukan hal-hal kecil dan mudah. Kita juga, kadang ditempatkan pada kondisi "di belakang dan terbatas". Sering kali, kita merasa tidak diberi kesempatan untuk bisa berbuat lebih dari yang sekedar bisa diberikan oleh keadaan. Banyak kejadian, kita juga terpaksa melakukan sesuatu yang capaian-capaiannya tidak sedramatis yang kita harapkan.
...
Jangan heran jika kemudian pilihan menjadi ibu rumah tangga menjadi sebuah keadaan yang bukan muncul dari sebuah kesadaran akan sebuah keluhuran. Menjadi guru di sebuah sekolah swasta dengan gaji yang kecil merupakan pilihan terakhir dari sebuah ikhtiar yang tidak kunjung "datang keberuntungannya". Menjadi OB atau karyawan rendahan tidak mampu menggerakan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk kebaikan institusi yang menaunginya. Menjadi aparat tingkat lingkungan tidak menjadikan dia bersemangat untuk mengabdi kepada masyarakat secara utuh. Menjadi ketua partai tingkat desa menjadikan dia hanya bisa berharap dari "atasan" tanpa termotivasi "memberi tanpa berharap materi".
...
Justru nilai diri seseorang akan sangat teruji ketika kesempatan dan kemampuan bersatu, tetapi ada faktor yang kemudian harus "ditaati". Mungkin kita perlu berkaca pada kisah Khalid Bin Walid, sang Pedang Allah yang Terhunus. Panglima perang yang selalu memenangkan pertempuran ini justru dipecat oleh Khalifah Umar dan dijadikan sebagai prajurit biasa. Pemecatan itu sesaat sebelum perang di Asia Kecil dan juga membantu Sa'ad di front timur melawan Parsi. Walaupun sebagai prajurit, beliau tetap berjuang dengan semangat yang membara. Beliau juga memberi kontribusi yang besar kepada Sa'ad yang memimpinnya dalam melumpuhkan pasukan gajah yang menghadang mereka. Dan ketika ditanya bahwa dia berjuang bukan untuk umar tetapi berjuang untuk Allah Tuhan semesta alam.
...
Memang kita bukanlah Khalid Bin Walid "sang Pedang Allah yang Terhunus". Tetapi ingatlah, sifat pejuang besar bisa dilakukan di setiap kesempatan dan keadaan. Sifat negarawan bisa dimiliki oleh manusia sesederhana apapun orangnya. Menjadi guru bangsa bisa dilakukan oleh profesi serendah apapun. Menjadi agen perubahan dapat dilakukan oleh level terkecilpun. Menjadi pemimpin dunia bisa dikerjakan dalam wilayah sekecil apapun. Dan merubah dunia bisa dikerjakan dalam keadaan apapun. Berfikir besar mampu diwujudkan oleh kemampuan sekecil apapun.
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar