.
Jangan-jangan...
...
Apa yang Anda rasakan ketika ban motor yang kita kendarai tiba-tiba bocor? Ternyata setelah kita perhatikan anda benda kecil yang menancap tepat di bagian tengah ban, ya... sebuah paku yang berbentuk payung dengan indahnya menghiasi si karet bundar. Dan apa pula yang kita rasakan ketika angkat wajah kita dari roda motor ternyata tepat didepan kita ada sebuah bengkel "menerima tambal ban".
...
Apa yang mucul dalam benak, pada saat mobil kita terhenti di depan traffic ligh, tiba-tiba ada ada seorang anak kecil menjulurkan tangan sambil menengadahkan wajah memelas kepada kita. Aksinya begitu disempurnakan dengan balutan baju yang boleh dibilang tidak pantas dipakai oleh seorang anak yang sedang lucu-lucunya. Pada saat yang sama tidak jauh dari tempat itu seorang laki-laki bertato memakai jeans dan memakai tutup kepala, memperhatikan si anak kecil tersebut.
...
Apa yang kita rasakan ketika saudara kita tergolek lemah di sebuah rumah sakit, tetapi tidak ada perlakuan seperti yang kita bayangkan dan hanya diberi cairan infus. Kita menganggap bahwa ia perlu segera memperoleh pertolongan akibat penyakit yang dideritanya. Kita sudah berusaha menanyakan ke bidan mengenai kondisinya tetapi dijawab untuk menunggu perkembangannya. Pada saat yang sama, kita melihat dokter dengan pakaian kebesarannya lalu lalang di depan mata kita.
...
Apa pula yang terfikirkan ketika ada seorang ustazd yang mengetahui banyak hal berbagai kebaikan-kebaikan yang Tuhan perintahkan kepada manusia. Sang Ustadz menyampaikan tentang zuhud, kesederhanaan, tentang keutamaan orang miskin dan tentang hinanya kehidupan dunia. Tetapi setiap mengisi ceramah di berbagai tempat, sang ustadz tidak lupa membawa kendaraan roda empat seharga 20 ekor kerbau. Tidak lupa pula dengan baju kebesarannya yang selalu bersih yang tidak pernah tersentuh kotornya tangan jamaah karena "sang pengawal" selalu melindunginya baik di kanan dan di kiri.
...
Mungkin banyak kejadian yang akhirnya kita sibuk dengan fikiran-fikiran yang kita bangun sendiri. Selalu saja diri kita terjebak dengan kemungkinan-kemungkinan yang memang bisa terjadi atau tidak. Hampir seluruh waktu kita habis mengomentari keadaan sekitar yang menurut kita tidak sesuai dengan adanya. Dan pda saat yang sama tersitalah energi kita untuk berusaha mengungkap realita di balik sebuah fakta. Dan akhirnya kita mati dengan kondisi tidak ideal yang kita maki dan kita benci setiap hari tanpa bisa berbuat untuk memberikan yang terbaik bagi kondisi yang belum tentu kita anggap jelek. Maka berbuat... berbuat dan berbuat, tanpa ada "jangan-jangan" yang melebihi dari kadar yang telah ditentukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar