Senin, 05 Januari 2009

sosok5

Pertolongan Itu Pasti Datang
..
..
Menjadi buta bukanlah kenyataan yang terbayang dalam benak Adnan apalagi menjadi sebuah pilihan dalam kehidupannya. Nyatanya hal tersebut harus ia hadapi dan tanggung selama empat tahun belakangan ini. Keadaan itulah yang sempat menggoyahkan kepercayaan dirinya untuk tetap tegak menghadapi kehidupan. Sedih, nestapa dan merasa tersingkir dalam ajang kemasyarakatan selalu bersatu dalam masa-masa awal cobaan itu datang. Hingga pada satu titik rendah dari sebuah harga dirinya ketika terlintas dalam pikirannya “Tuhan tidak adil”, walaupun kemudian dia tepis bisikan itu sejauh-jauhnya.
.
Adnan menderita katarak dengan komplikasi glukoma yang mampu merenggut kenikmatan dia dalam menyaksikan betapa ciptaan Allah begitu sempurna. Penyakit itu pula yang telah menghentikan pandangan dia terhadap anak dan istrinya yang selalu setia menjaganya dalam masa-masa “penantian”. Keadaan itu-pun membuat Adnan tidak mampu lagi melakukan aktifitas mencari nafkah dengan menjadi buruh seperti sedia kala. Dan cobaan itu menjadikannya harus belajar keras bagaimana menentukan langkah-langkahnya agar tidak statis.
.
Adnan memang luar biasa, ia tidak mau berlama-lama meratapi kesedihan. Adnan juga tidak mau “menjual” penderitaannya untuk ditukar dengan kemalasan dan kehampaan. Adnan tidak mau terjebak dalam penderitaan yang ia sadari berujung pada kehancuran pribadinya. Ia mulai mengatur langkahnya secara bertahap seiring dengan usahanya bagaiman penyakitnya bisa sembuh. Adnan juga tetap dengan khusyuk “merayu” Tuhannya yang dikuatkan dengan ikhtiarnya untuk menghubungi orang-orang yang bisa memberikan jalan bagaimana masalahnya bisa terselesaikan. Adnan juga tetap menjalani aktifitas kemasyarakatannya walaupun dengan keterbatasan yang tentunya telah dipahami oleh lingkungannya.
.
Keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang selalu saja ia tanamkan dalam hatinya mengimbangi bisikan-bisikan buruk yang selalu saja hinggap dalam kehidupannya. Hingga datanglah sebuah lembaga sosial yang memberikan kesempatan untuk memungkinkan dirinya bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi. Konsultasi terus dia lakukan sambil mengkonsumsi obat agar penyakitnya tidak bertambah parah. Karena masyarakat yang ditangani oleh lembaga tersebut sangatlah banyak (sekitar 20.000 KK) maka Adnan harus bersabar selama dua tahun untuk bisa memperoleh penanganan dalam bentuk operasi. Hingga akhirnya, ketika ada kesempatan, Adnan memberanikan diri untuk mengikuti program ASKESKIN dari pemerintah dan menjalani operasi di sebuah RS swasta. Tentu saja ada sekian juta rupiah yang harus ia keluarkan untuk membiayai operasi tersebut di samping dana subsidi yang ia peroleh.
.
Kebahagiaan karena ada harapan sembuhnya satu mata Adnan untuk bisa melihat dunia ternyata hanya bertahan sebulan karena ternyata dalam perjalanan waktu kesembuhan yang ia harapkan tidak kunjung datang hingga hamper setengah tahun berjalan.. Ada “kesalahan” yang dilakukan oleh pihak rumah sakit sehingga ia kembali kepada keadaan bahwa dia tidak mampu menggunakan matanya sebagaimana mestinya. Penantian dengan menyulam harapan, kembali ia rajut dalam hari-hari panjangnya. Tuhan betul-betul menguji hamba yang ia senangi, pakah dia bertahan atau tidak. Adnan memang sosok tangguh, ia kembali melakukan aktifitas yang biasa dia lakukan sebelum operasi, sholat berjamaah di masjid, mengikuti pengajian rutin hingga berdiskusi kemasyarakatan dengan tetangga dan aparat setempat.
.
Pertolongan itu pasti datang. Hingga akhirnya lembaga sosial yang dulu pernah menjanjikannya memberi solusi, memberi kabar melalui seseorang yang selalu membantunya dalam menghadapi cobaan ini. Serangkaian tes dan uji laboratorium untuk memastikan bahwa kondisinya layak untuk menjalani operasi-pun dilakukan selama hampir dua minggu. Hampir setiap hari bolak-balik rumah sakit dengan biaya bantuan dari lembaga sosial yang diurus oleh seseorang yang selalu membantunya menghadapi ujian ini. Alhamdulillah operasipun terlaksana dengan lancar. Dua minggu kemudian perban penutup mata dibuka dan ada pemandangan yang terlihat walau belum sempurna benar.
.
Kebahagiaan kembali menghiasi kehidupan keluarga Adnan, dan dia berharap kebahagiaan ini benar-benar nyata adanya. Menurut keterangan dokter, proses penyembuhan akan berjalan selama enam bulan. Hari-hari Adnan mulai bersinar kembali, ia merasakan sedikit demi sedikit dapat merasakan kenikmatan memiliki penglihatan. Dia bisa melihat kembali rumah reyotnya yang sangat kecil. Dia juga bisa membantu istrinya menyiapkan bahan-bahan untuk usaha nasi uduk dan lontong sayur agar dapurnya tetap ngebul. Walaupun Adnan sempat bersedih, betapa istrinya terlihat sangat lelah karena harus bekerja keras selama empat tahun ketika dia “tidak berdaya”.
.
Adnan mesti bersabar selama lima bulan ke depan, apakah operasinya berhasil atau tidak. Tetapi Adnan memang tangguh, dia tetap merasa optimis bahwa pertolongan Allah akan datang. Dia akan setia menunggu lima bulan ke depan dengan optimisme yang tinggi dan tentunya akan tetap melaksanakan aktifitas sebelum buta, sebelum operasi dan setelah operasi seperti anggota masyarakat yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar