Kamis, 08 Januari 2009

sosok8

"Terjebak Dalam Pengabdian"
...
"Sejujurnya, menjadi ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat bukanlah merupakan pilihan dirinya" begitulah kata-kata Djafar Shodiq ketika ditanya keterlibatannya di LPM Desa Darmasari. Djafar Shodiq menyadari sebagai pensiunan pegawai perusahaan perkebunan swasta, tidak pernah terfikirkan untuk beraktifitas pada jalur pemberdayaan. Aktifitasnya selama ini tidak bersentuhan langsung dengan dunia "seni mengelola manusia tersebut". Baginya bekerja dengan baik sebagai seorang karyawan merupakan pengabdian yang besar bagi orang lain.
....
Tetapi ceritanya menjadi lain, sesaat setelah dia pensiun sebagai "mandor" perusahaan. Seorang teman akrab yang kebetulan Kepala Desa baru terpilih di desa yang masuk administratif Kecamatan Bayah ini, mendatanginya dan meminta dengan sangat untuk bisa "menjadi komanda" di sebuah aktifitas yang pernah terfikirkan olehnya. Djafar Shodiq juga tidak habis pikir kenapa Odi memberikan amanatnya tersebut kepadanya. Penolakan tersebut tidak bisa dihindari setelah ternyata mayoritas penduduk yang tinggal diperbukitan Banten Selatan ini, meyetujui apa menjadi usulan Kepala Desa mereka.
...
Awal-awal kiprah Djafar Shodiq dipenuhi dengan rasa tertekan, terjebak sekaligus terpenjara dengan aktifitas barunya ini. Tetapi satu hal yang ia lakukan adalah, semua kegundahan dan ketidaknyaman yang ia rasakan, tidak pernah dia tunjukan kepada orang lain. Mungkin inilah yang menjadikan orang semakin percaya dengan amanat yang telah mereka sematkan ke Djafar Shodiq.
...
Rasa tertekan ia lawan dengan selalu berkeliling desa untuk mengetahui kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Untuk mengatasi keadaan "terjebak", dia selalu memikirkan bagaimana setiap permasalahan yang ada di kampungnya bisa melahirkan sebuah solusi. Dan keadaan "terpenjara" justru membuat energi yang besar bagi seorang Djafar Shodiq untuk bisa lebih peduli dengan kebutuhan orang lain, melebihi kebutuhan dirinya.
...
Seiring dengan pergantian waktu, gundah gulana yang menghantui dalam aktifitasnya telah berganti dengan semangat dan optimisme. Keengganan untuk berbagi kepada yang lain, berubah menjadi sebuah pengabdian tanpa pamrih. Kesibukan dalam sebuah aktifitas rutin yang individualis, berganti menjadi persaudaraan dan perhatian yang tulus dari dalam hati. Ketidaktahuan dia akan seluk beluk dunia pemberdayaan, berganti menjadi keinginan untuk memberikan keadilan kepada seluruh masyarakat melalui lembaga yang ia pimpin.
...
Hingga akhirnya kegundahan muncul ketika ada satu kebutuhan vital masyarakat yang belum terwujudkan. Masyarakat yang tinggal di Kampung Tenjo Laut dan sekitarnya kesulitan memperoleh air bersih. Mereka harus antri memperoleh "jatah" air dari kampung lain agar ember mereka terpenuhi air bersih. Jangan harap air bisa memenuhi bak mandi mereka, apalagi jika musim kering tiba, dapat dua ember ukuran sedang saja sudah untung. Djafar Shodiq terus merenung bagaimana permasalahan ini bisa terselesaikan. Hatinya merasa sedih ketika pertengkaran antar warga muncul akibat "perasaan tidak adil" dalam pembagian "jatah" air. Di sisi lain tidak jauh dari perkampung (sekitar 3 km) ada sumber air yang melimpah, yang sebenarnya bisa menyelesaikan kebutuhan utama rumah tangga ini.
...
Gayung bersambut, sebuah lembaga sosial melakukan survey dan menyatakan program layak untuk bisa dilakukan di Desa yang berbatasan dengan Pantai Selatan Banten ini. Akhirnya program pipanisasi dilaksanakan dan dipimpin langsung oleh Djafar Shodiq agar hasilnya naksimal sehingga tidak jebol lagi seperti dahulu sebanyak dua kali pembangunan. Djafar merasa sedikit lega hasilnya sangat menggembirakan dan sekarang ratusan KK telah menikmati air bersih yang tidak hanya memenuhi ember mereka tetapi bak mandi yang berukuran 3 meter persegi. Djafar senang bahwa ia terjebak dalam sebuah aktifitas pengabdian di hari tuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar