.
Ketentuan Allah Tak Pernah Salah
.
Firman mengalami kebimbangan yang amat sangat untuk menentukan sikap. Keputusan yang akan ia ambil masih saja menyisakan keragu-raguan. Bahkan doa-doa yang ia panjatkan harus ia tuntaskan dengan sholat istikharah agar keputusan yang ia ambil adalah benar. Delapan tahun ia telah “mengabdi” di sebuah salon kecantikan di Jakarta. Rutinitas pekerjaan yang ia jalani sebenarnya menyenangkan karena menata “mahkota” konsumen adalah hobi sekaligus bakat keterampilannya. Di samping beberapa keterampilan merawat tubuh agar tetap bugar yang ia peroleh dari teman sekerja termasuk kemampuan pijat refleksi.
.
Sebagaimana dimaklumi, aktifitas salon dengan komponen manusia di dalamnya membuat Firman merasa terjebak dalam sebuah kehidupan yang kurang “normal”. Mungkin karena aktifitas yang berpangkal dari “seni” menjadikan beberapa pegawai laki-laki berubah menjadi lebih “feminim”. Di sisi lain interaksi yang intens dengan lawan jenis yang “berlebihan” baik kepada pegawai lain maupun pelanggan wanita membuat Firman mengalami ketakutan akan pemaklumannya terhadap lawan jenis sehingga terjebak dalam pola hubungan lawan jenis yang cenderung “bebas”. Karena Firman juga menyadari betapa sebuah “pilihan hidup” tidak jauh dari lingkup kehidupan sehari-hari yang ia temui dan jalani.
.
Perasaan ketakutan ini memang muncul setelah berbagai peristiwa terus melanda bumi nusantara ini. Kebobrokan moral yang berpangkal dari pola hubungan lawan jenis yang bebas terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merebak di seluruh lini kehidupan manusia, dari mulai pejabat, aparat manupun rakyat bisaa. Fenomena semakin banyaknya sosok jenis kelamin laki-laki yang terjebak dalam tingkah laku feminim sehingga menyukai sesama jenisnya, semakin mencekam ketika diakhiri dengan pembunuhan akibat cemburu buta. Pada saat yang sama bimbingan rohani dari tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat selalu mendorong Firman untuk bisa menjadi sosok sejati yang menjalani kehidupan ini dengan kebenaran.
.
Setelah mengalami perenungan yang cukup panjang akhirnya Firman keluar dari rutinitas yang selama ini ia jalani. Hal yang terfikirkan waktu itu yang penting ia keluar dari pekerjaan dan akan mencari pekerjaan lain yang “lebih baik”. Bahkan ia juga merencanakan untuk menikah agar “kesucian” keputusannya tidak “ternodai”. Tetapi dalam pemikiran selanjutnya Firman harus memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu daripada menikah. Uang tabungan yang ia miliki selama ini harus produktif untuk bisa selalu menghasilkan pundi-pundi materi dalam menunjang kebutuhan hidup sehari-hari.
.
Persoalan muncul ketika ia harus menentukan apa yang bisa ia kerjakan dalam aktifitas ekonominya. Berdagang ? Firman merasa tidak mampu. Menjadi pegawai ? Firman tidak bisa membayangkan serangkaian persyaratan yang harus ia siapkan termasuk perasaannya yang mengatakan ia tidak mampu dari sisi intelektual. Akhirnya dengan berbekal uang tabungan ia membeli alat-alat potong rambut termasuk perlengkapannya. Pilihan untuk membuka pangkas rambut (terutama laki-laki dan anak-anak) menjadi pilihan yang ia putuskan karena sesuai dengan bakat dan hobinya.
.
Keputusan yang Firman tetapkan, ia yakini sebagai ketentuan Allah yang tak pernah salah. Maka ketika permasalahan mendera terkait dengan sewa tempat yang sangat mahal untuk ukuran kemampuan Firman, maka ia tetap optimis bahwa hal tersebut dapat terselesaikan pada akhirnya. Maka doa-doa terus ia panjatkan kepada Allah untuk bisa menenteramkan hatinya dalam mengahadapi berbagai kendala.
.
Allah-pun memberikan jalan dari persoalan yang ia hadapi. Motor tua yang Firman miliki harus dengan rela ia jual untuk bisa menyewa tempat di jalan yang sangat strategis. Tetapi ternyata masih kurang dari biaya sewa yang telah ditentukan walaupun sang pemilik telah menurunkan 15 persen dari harga standar. Keraguan sempat menghujam dalam dadanya, sampai akhirnya ia tepis cepat-cepat agar tidak mematahkan semangatnya. Sampai akhirnya sebuah lembaga sosial memberikan sentuhan akhir dari kisah ini. Allah telah turunkan kekuasannya melalui donatur yang menyalurkan melalui lembaga sosial ini, sehingga bisa menggenapkan besarnya biaya sewa.
...
Bantuan donator memang tidak sebesar modal yang telah Firman keluarkan, tetapi ia telah menyempurnakan perjuangan awal sang pejuang ekonomi. Kehadiran bantuan tersebut hadir pada waktu dan tempat yang sangat tepat. Bantuan tersebut telah memberikan makna betapa Allah tidak pernah tidur menyelesaikan permasalahan manusia, selama manusia itu sendiri berusaha keras untuk mendapatkannya.Kini Firman mulai melakukan aktifitas usahanya dengan kemantapana hati. Ia-pun merekrut temannya untuk bersama-sama merintis usaha yang ia mulai dari nol. Sekarang tampak dengan gagah di Jalan Ciputat - Rempoa Raya sebuah Pangkas rambut dan refleksi “Firman”, siap melayani kebutuhan konsumen akan penataan rambut dan kesehatan melalui pijat refleksi. Dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lainnya, Firman sediakan pula es kelapa muda sehingga orang merasa segar dalam kondisi Ciputat-Rempoa yang panas. Selamat Berjuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar