Mentang-Mentang Pakai Ini dan Itu
...
"Kurang ajar.. ! hati-hati dong... mentang-mentang pakai mobil, seenaknya saja !" tiba-tiba seseorang berteriak sesaat setelah mobil kantor yang aku tumpangi melewati sebuah kubangan air di sisi jalan sebelah kiri. Dari kaca spion kulihat seorang pengendara sepeda motor mengacungkan tangannya dengan muka yang memerah menunjukkan ekspresi kemarahan. Tetapi kusuruh driverku untuk tetap melaju menyusuri jalan sembari kukatakan dengan pelan "sorry" yang kutujukkan kepada sang korban yang telah belepotan dengan air kubangan bekas hujan yang menggenang di jalan beraspal.
...
Perjalanan ratusan kilometerpun akhirnya berakhir juga, tetapi tidak dengan perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul dalam sanubariku. Mendengar umpatan orang akibat "kesalahan kecil" dari konsekuensi laju sang mobil bukan sekali ini. Cipratan dari genangan air yang terlindas sang roda merupakan kejadian terbesar selain hemburan debu dan kerikil. Sesaat setelah sang "raja kecil" melakukan kesalahan, maka meluncurlah sumpah serapah sang korban. Tetapi seperti biasa penderitaan yang terucap dalam sumpah serapahnya, kubalas dengan ucapan "sorry" tanpa menghentikan laju mobil.
...
Ya.. perasaan bersalah itu terus muncul ketika peristiwa-peristiwa masa laluku berterbangan dalam lintasan memoriku. Dulu ketika pertama kali aku bekerja di sebuah lembaga pemberdayaan, aku harus berjalan kaki untuk melakukan kegiatan survey di pelosok-pelosok desa. Berjalan kaki sebenarnya bukan pilihan utama, ketiadaan sarana transportasi yang disediakan kantor dan minimnya tunjangan transportasi, menjadikan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bijak. "Perjuangan" terasa teruji ketika musim hujan, selain harus melindungi diri dari air huja, juga harus berhati-hati dengan kubangan air yang berbaris di jalanan.
...
Suatu hari dalam sebuah kegiatan survey aku melihat sebuah genangan air yang cukup besar di pinggir jalan. Antisipasi yang aku lakukan adalah dengan berjalan berhati-hati agar sepatu yang kupakai tidak kotor oleh tanah yang bercampur dengan air. Kutapakan kakiku di atas bebatuan yang menonjol diantara genangan air. Satu... dua... tiga... syukurlah langkah kakiku berada tempat yang tepat untuk dipijakkan dan tinggal dua langkah lagi maka genangan itu bisa kulewati. Prat............. prat............prat..... tiba-tiba sebuah sepeda onthel membuyarkan langkah keberhasilan yang sudah didepan mata. Bukan hanya sepatuku yang kotor, tetapi celana terbaik yang aku miliki juga tidak luput dari keganasan sang lumpur. Maka meluncurlah sumpah serapahku, kurang ajar ya.....! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai sepeda, seenaknya saja ..!
...
Bulan telah berganti dan aku diberi kesempatan oleh Allah untuk memiliki sebuah sepeda onthel (sepeda kayuh). Kubeli sepeda seharga 200 ribu dari tetangga yang sedang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhannya. Maka aktifitas pekerjaanku di masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan kendaraan operasionalku. Ternyata musim hujan kali inipun tetap menciptakan lubang-lubang sebagai tempat yang nyaman bagi air hujan untuk bersemayam.
...
Hari itu hujan terus mengguyur di wilayah bogor bagian utara. Panggilan tugas tidak menyurutkanku untuk tetap menembus gelapnya malam dan derasnya hujan. Sepeda yang tidak memiliki lampu ini harus tertatih-tatih menelusuri jalan yang tak lagi ramah. Karena sering melewati rute perjalanan, maka aku hafal benar iramanya. Akupun sudah bersiap-siap dengan sebuah genangan air yang biasanya terhampar setelah tikungan "binong" di depan. Maka akupun secara bertahap mengarahkan laju sepedaku agak ke tengah sehingga tidak terjebak dalam lubang yang agak dalam dan berisi tampungan air hujan. Tin.. tin.... tin... suara klakson yang memekakan telingaku membuat aku terkejut dan secara refleks menepikan sepedaku dan brukk..... ! Terjerembab aku dalam kubangan dan basah kuyublah aku sembari berkata, "Kurang ajar ..... ! hati-hati dong....! mentang-mentang pakai motor, seenaknya saja....!.
...
Tahun berganti dan akupun diberi kesempatan sekali lagi oleh Allah untuk bisa memiliki sepeda motor. Kudapatkan sepeda motor melalui "over kredit" seorang teman yang sedang membutuhkan biaya untuk operasi istrinya. Aku hanya punya kewajiban mengganti uang muka yang telah dibayarkan dan meneruskan kredit 10 bulan berikutnya. "wah kamu untung" kata seorang teman mengomentari kisah kepemilikan motorku ini, tetapi bagiku menolong teman adalah lebih utama dari sekedar perhitungan untung dan rugi.
...
Sepeda motorku mampu meningkatkan daya jelajah pengabdianku dalam lembaga yang aku yakini sebuah sebuah pilihan hidup. Puluhan hingga ratusan kilometer dapat kutempuh untuk menuanaikan tuntutan kewajiban pekerjaan. Suatu kesempatan, panggilan tugas menuntunku untuk mengunjungi sebuah desa di utara tangerang. Desa pinggir pantai utara ini harus kudatangi demi peningkatan kualitas hidup yang harus secara bertahap untuk ditingkatkan. Musim hujankembali hadir, dan itulah yang membuatku harus berhati-hati dalam menempuh perjalan sekitar 75 kilometer. Sengaja aku ambil jalan alternatif untuk lebih mempersingkat jarak jika dibandingkan dengan jalan utama yang ada.
...
Jalan alternatif tidak semulus jalan utama yang ada. Genangan air masih menjadi pemandangan rutin dalam perjalananku ini. Dan ternyata jalan alternatif ini juga menjadi pilihan alternatif kendaraan yang lebih besar dari kendaraan motor, seperti truk dan mobil. Waspada dan hati-hati tetap kulakukan agar bisa selamat dalam perjalanan. Di saat aku sedang menikmati perjalananku ini tiba-tiba... prat...............prat...... prat...... cairan kotor telah menghiasi jaketku yang tembus air. Sesaat kemudian meluncurlah sumpah serapahku kepada sang pengendara mobil " Kurang ajar.......! hati-hati dong...! mentang-mentang pakai mobil.... seenaknya saja ...!
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar