Papan Lusuh dan Buku Kotor
...
Dalam sebuah kesempatan, aku diberi tugas untuk melakukan survey di wilayah paling barat Kabupaten Tangerang. Lebih dari seratus kilometer, perjalanan dengan motor kantor aku tempuh guna data-data Kecamatan Kronjo yang diperlukan bisa terpenuhi. Awalnya ada keraguan dalam diriku, ketika sang donatur "luar negeri" menginginkan data ekonomi dan kesehatan di wilayah yang sekarang memekarkan diri menjadi Kecamatan Mekar Baru. Tidak hanya sekedar opini masyarakat, tetapi data ril yang harus kudapatkan di kantor-kantor pemerintah. Sebuah spekulasi yang aku lakukan pada hari sabtu dan minggu, dimana pada saat yang sama semua instansi tutup.
...
Tetapi menjalankan tugas dengan rasa optimis, mampu menjauhkan kemungkinan-kemungkinan. Melaksanakan kegiatan dengan berprasangka baik, telah menelan logika-logika yang seharusnya terjadi. Aku lebih senang melihat hasil melalui proses yang tidak pernah terbayang, dari pada menentukan hasil dengan hitungan asumsi. Bergerak menelusuri takdir lebih menggembirakan dari pada diam dengan memainkan peluang.
...
Berbekal orang yang pernah dikenal oleh seorang teman, meluncurlah aku menuju kecamatan tetangga. Kecamatan Mauk yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kecamatan Kronjo menjadi tujuan pertamaku. Setelah bertanya lebih dari lima orang, bertemulah aku dengan mantan Kepala Penyuluh Pertanian Kecamatan Kronjo. Hanya saja dia tidak bisa lama-lama menemuiku karena ada urusan ke Jakarta, dan hanya menyebutkan seorang nama yang bisa aku temui di Kecamatan Kronjo yang kebetulan menjabat sebagai kepala penyuluh pertanian kecamatan.
...
Dengan "menjual" nama mantan kepala penyuluh yang sekaligus mantan pimpinannya, diterimalah aku di rumah dinasnya yang sederhana. Setelah kujelaskan maksud dan tujuannya, maka menginaplah aku di salah satu ruangan kantor. Aku coba berdiskusi dengannya bagaimana saya bisa mengakses data-data primer yang ada di kecamatan dan di setiap desa. Beliau juga tidak bisa membantu lebih karena kantor pemerintahan semuanya tutup, dannjika harus berkeliling sebanyak 10 desa tentu waktunya tidak akan mencukupi.
...
Kebingungan melandaku beberapa saat. Data belum kudapatkan pada hari minggu ini apalagi memperoleh data primer kondisi di masyarakat. Keraguan terus terjadi, apakah bisa memperoleh data di desa yang seseuai dengan program, sementara data kecamatan saja aku belum punya. Aku hampir putus asa hingga pandangan mataku tertuju pada data-data monografi yang tergeletak di sudut ruangan. Data-data perkembangan penduduk tertulis di papan yang cukup lebar dengan kondisi yang agak sulit terbaca.
...
Tertulis angka tahun 2002, artinya data itu 4 tahun yang lalu. Tidak masalah, langsung saja aku tulis semua data yang ada. Di saat aku mencatat data yang ada, mataku tertuju pada sebuah buku lusuh yang tergeletak bukan pada tempatnya. Debu yang menempelnya tidak membuatku ragu untuk membukanya. Ternyata sebuah coretan-coretan dari petugas sensus yang menyebutkan angka data yang lebih terbaru, 2005 !. Hingga akhirnya aku tahu 2 atau 3 desa yang bisa disurvey. Sesaat kemudian meluncurlah aku menuju dua desa yang menjadi prioritas program. Aku meyakini apa yang terjadi akan menghasilkan sesuatu di kemudian hari.
...
Aku tidak pernah melupakan hari itu, hari dimana ada keputusan bahwa program setengah milyar bisa dijalankan oleh lembagaku. Aku teringat bagaimana proses itu dijalani dengan penuh suasanan kebatinan yang amat sangat. Bahwa program besar ternyata terlaksana , melalui papan lusuh yang tergelak di pojok dinding serta buku kotor yang belum sempat dirapihkan.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar