Senin, 29 Desember 2008

Simbol dan Nilai

.
Cuma Lima Obor

.
Sebagai sebuah aktifitas rutin yang kami lakukan jika ada pergantian tahun baru hijriyah adalah dengan melakukan pawai berkeliling kampung. Hampir seluruh warga di kampung kami tumpah ruah memenuhi jalan kampung yang tidak terlalu lebar. Pakaian muslim terbaik yang kami miliki kami pakai demi syiar Islam yang harus kami sebarkan dalam setiap kesempatan. Tua muda, besar kecil, semuanya menyempatkan diri untuk bisa berpartisipasi memeriahkan salah satu moment terpenting dalam sejarah beradaban manusia. Bahkan demi untuk memperkenalkan islam dari sisi budaya, banyak ibu-ibu muda yang membawa serta buah hatinya dalam acara yang di laksanakan malam hari ini.
.

Kemeriahan acara pada malam hari itu mampu memberikan warna lain dalam kisah kehidupan warga yang jauh dari keramaian ini. Kesederhanaan acara ini juga mampu memberikan cerita bahwa memperingati sebuah peristiwa besar bisa dilakukan oleh semua kalangan sesederhana apapun orang tersebut. Kehikmatan perjalanan malam yang menempuh sekitar dua kilometer tersebut telah menjadi ajang bersatunya kembali hati warga yang sempat terhempas oleh aktifitas pribadi.

.

Hanya saja ada satu hal yang berbeda dan sempat membuat acara ini agak "terganggu kesuciannya". Ya... kenyataan itu hampir saja membuat acara rutin kami menjadi berkurang kehikmatannya. Simbol itu nyaris menggeser sebuah "nilai" yang agung yang telah kami pertahankan bertahun-tahun. Susah payah kami perjuangkan berbagai nilai kebenaran berbasis budaya yang bersyarat nilai. Budaya sebagai sebuah simbol terus kami kerangkeng dalam nilai penghambaan kepada Tuhan yang suci dan hakiki. Dalam banyak kesempatan, nilai yang kami perjuangkan menyisakan sedikit saja dalam simbol-simbol budaya yang kami laksanakan. Akhirnya ada saatnya juga kami harus mempertahankan sebuah aksi simbol dengan sangat sedikit nilai, agar nilai juga tidak menjadi hilang karenanya.

.

Apa pasal ? ya acara tersebut hampir dan nyaris terluka oleh keberadaan sang obor. Tahun-tahun berlalu kekuatan simbol terletak dari banyaknya obor yang kami bawa. Obor yang terbuat dari bambu dan berbahan bakar minyak tanah ini mampu memberikan simbol sebuah penghambaan yang tulus akan datangnya sebuah moment untuk mengingatkan manusia pada ketundukkan kepada Tuhan. Banyaknya obor mampu memberikan simbol kesadaran bahwa waktu adalah milik sang pencipta dan kita hanya punya kesempatan menjalaninya. Ternyata di tahun ini terjadi penurunan yang sangat tajam terkait jumlah obor yang kami bawa. Obor kami cuma lima buah dan itupun hanya dibawa oleh barisan terdepan iring-iringan pawai yang yang diikuti oleh seribuan orang. Kelangkaan minyak tanah yang menerpa daerah kami menjadikan kami kesulitan mencari barang tambang yang banyak sumbernya di negeri kami. Tetapi kami tetap bangga bahwa kami masih punya obor sebagai sebuah simbol yang tetap kami kerangkeng dalam sebuah kekuatan nilai. Mudah-mudahan tahun depan kami tetap bertemu dengan sang obor walaupun cuma lima buah. Selamat Tahun Baru 1430 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar