Rabu, 17 Desember 2008

Ranka Mobil

Run No Car No... Asli!
...
Ayahnya tukang bangunan sejak muda hingga masa tuanya. Meskipun demikian ia berhasil mengantarkan Rano menjadi seorang sarjana. Rano pun termasuk sarjana pertama di desanya. Pendidikan tertinggi yang dicapai warga desanya kala itu cuma SMA atau STM. Sosok yang punya nama sama dengan bintang film ini dikenal sebagai anak muda religius dan bersahaja. . ..
Mbak Nana Mintarti, Direktur MM pernah dibuat geleng-geleng kepala melihat kebersahajaannya. Suatu sore yang dingin dan hujan lebat, Rano harus bersua para mitra di Kampung Iwul Desa Bojong Sempu Parung. Dengan cueknya, ia mengenakan mantel untuk melindungi diri dari air hujan. Mantel itu hasil otak-atik sendiri, terbuat dari plastik pembungkus keset produk para mitra Poncol Jampang. “Oalah... Mas Rano! Mbok ya beli dulu jas hujan,” tegur Mbak Nana. Rano hanya tersenyum dan mengiyakan, sedetik kemudian telah raib dari pandangan. Keberangkatannya menyisakan gerak ritmis bagi orang-orang di kantor MM. Semua jadi geleng-geleng kepala.
..
Rano suka naik sepeda angin. Nurhidayati, Direktur LPI – kantor MM numpang di LPI dan sekolah anak kaum dhuafa SMART Ekselensia – pernah memberinya embel-embel unik. “Rano Karno itu diplesetkan dari bahasa Inggris. Run No Car No. Lari tidak, mobil juga tidak. Terus gimana dong, Mas?” “Wis ya, nyepedahlah, Bu,” tukasnya spontan, sembari mesem dan berlalu. Menjelang pendampingan di Kampung Iwul, Rano mendapat tugas survey. Dari kantor Iwul sekitar 13 kilometer ke arah barat. Awalnya ia hanya menemukan komunitas pengrajin tahu dan anggotanya sedikit. Ia harus mencari komunitas yang lebih besar lagi. Meskipun belum punya contact person di Iwul. Targetnya hanya sehari, ia harus mendapatkan kejelasan calon kelompok dampingan. Di sinilah sisi semangat pengabdian yang menyembul dari lelaki berjenggot tipis itu. Bersepeda sejauh belasan kilometer, di bawah ancaman hujan lebat, sungguh tak mengendorkan semangat juangnya. Memasuki bibir desa Bojong Sempu hujan menghantamnya dengan telak. Ia maju tak gentar melawan guyuran hujan yang semakin menghebat. Usai bertanya sana-sini, jalan ke Iwul pun akhirnya ditemukan. Medannya semakin sulit, jalanan berupa tanah merah, licin bukan main! Rano berusaha keras menembusnya, masih dengan sepeda sampai tiba-tiba... gubrakkk! “Wuaduh... astaghfirullahal adziiim!” serunya tertahan. Ia merasai tubuhnya bagai diapungkan suatu kekuatan, berpusing-pusing dan bruuuk, terjerembab di lumpur. “Oooh, sepedaku!” teriaknya girang melihat sepedanya masih utuh, tak jauh dari tubuhnya. Aha, agaknya dia malah lebih menguatirkan sepeda daripada dirinya! “Maklum... ini kan belahan nyawa, hehehe,” kenangnya saat berbagi kisah dengan rekan-rekannya di kantor. “Dasaaar... Run No Car Noooo!” olok rekan-rekannya riuh. “Lanjut, ayo... lanjutkan ceritanya!” “Nah, beberapa kayuhan lagi aku ketemu sebuah rumah. Lumayan toh buat berteduh. Kulonuwun, kataku, nunggu dulu beberapa menit dan... weiitsss! Seorang laki-laki keluar, silakan Mas, masuk, masuk, katanya... Asliii!”
..
Rekan-rekannya tertawa mendengar istilahnya yang khas seolah telah menjadi miliknya itu; asliiii! “Nama saya Syafri, katanya ramah,” lanjut Rano dengan gayanya yang sok cuek itu. “Padahal aku sempat serem lho, asliii! Tampangnya itu, emang agak-agak nyeremin, asliii!” Istrinya menyediakan kopi hangat, mengusir dingin karena pakaian telanjur kuyup oleh air hujan. Maka, mulailah Rano mengais-kais informasi seputar pengrajin atau industri rumah Iwul. Syafri bercerita, “Di kampung Iwul ini pernah ada koperasi tahu, Mas Rano. Karena manajemen jelek bangkrutlah...” Rano menangkap keinginan kuat Syafri dan komunitas tahu yang ternyata tidak kecil itu untuk maju. Rano menawarkan pertemuan komunitas itu besoknya. Esok harinya sudah berkumpul di rumah Syafri sebanyak 18 orang. Mereka setuju program pendampingan dari MM. Untuk langkah berikutnya, mereka mengikuti Latihan Wajib Kelompok (LWK) selama empat hari. Februari. Hujan masih rajin menyambangi Iwul. “Pokoknya, Bapak-bapak harus disiplin. Setiap hari, pelatihan harus datang! Asliii!” Rano mengenalkan komitmen berdisiplin.
..
Hari kedua, ketika hendak berangkat, sang petir menyalak-nyalak. Istri Rano tercinta di rumah memohon dirinya untuk tidak berangkat. Dua permata hatinya menangis jeri karena suara petir. Rano kali ini memilih memberikan rasa nyaman keluarganya. Agaknya semangat para calon mitra di Iwul telah berhasil disulut. Paginya mereka kumpul ditemani Rano. Dibuatlah kesepakatan, “Hujan nggak hujan kumpul.” LWK berjalan dalam gelapnya malam. Listrik mati mereka menyalakan lilin. Mereka hanya memiliki waktu luang di malam hari. Usai mengisi pelatihan, Rano berpamitan. Malam itu ada jadwal mengisi pengajian di Jampang. Syafri dan kawan-kawan mencegahnya karena gerimis belum reda dan jalanan masih gulita. “Terima kasih, tapi janji mengisi pengajian tak mungkin ditunda,” ujarnya tegas membuat Syafri dan kawan-kawan terperangah, kagum. Sepeda angin pun menembus gelapnya malam. Tak terhitung lagi, entah berapa kali ia terpeleset dan sesekali jatuh.
..
Pemberdayaan pengrajin tahu di Iwul, di samping pengrajin keset di Kampung Poncol Jampang, program ekonomi bagi masyarakat Lingkar Jampang-Parung di bawah program Pusat Kegiatan Masyarakat (PKM). Wilayah ini didampingi karena komunitas paling dekat dengan MM dan LPI (dua lembaga jejaring di bawah Dompet Dhuafa Republika). Program-program sebelumnya lebih bersifat sosial keagamaan. Kebetulan sosok Rano memang pas menggarap bidang sosial dan keagamaan. Dan, ia juga menikmati program pemberdayaan ekonomi. “Bicara pemberdayaan, intinya kan usaha-usaha terpadu, terencana, terstruktur baik, awal hingga akhir. Tapi itu dibangun dari masyarakat sendiri. Fungsi kita kan cuma pendamping, fasilitator. Asliii!” Selain aspek memfasilitasi, menurutnya yang terpenting adalah aspek edukasi. Yang kita lakukan memberi kesadaran bagi masyarakat untuk sadar diri dan lingkungan, hak, kewajiban, kesempatan dan kemampuan untuk memberi nilai manfaat bagi diri dan orang lain. “Edukasi ini menjadi ruh pemberdayaan,” tegas Rano. “Karena bagaimanapun juga yang paling berat dilakukan, adalah mengubah paradigma masyarakat. Akses dan kesempatan terhadap sesuatu diawali dari kualitas manusia. Kepentingan berbagai pihak turut mendukung keterbatasan akses akibat dimiskinkan oleh sistem. Dengan edukasi masyarakat makin jadi sadar akan keadaan yang ada. Mereka bisa ada pemahaman, pengetahuan dan keinginan serta kekuatan. Menyiasati sistem, bermain sistem atau mengubah sistem. Pemberdaya itu orang luar masyarakat. Memfasilitasi itu tidak mendikte atau menggurui.”
..
Sebelum PKM menggarap pemberdayaan ekonomi, Rano menekuni aktivitas di antaranya pengajian-pengajian. Ia suka berkeliling di sekitar Jampang, mendatangi tokoh, ketua RW atau mengikuti aktivitas masyarakat. Di kampung sebelah kantor MM, ayah Aida Alfitrah dan M. Fitrah Rabbani serta Ulinnuha Fitrah Mustawa' ini membikin diskusi Shubuh dengan tiga orang tokoh. Mereka mulai menerima perubahan. Cara pandang agak sama. Di RW ada program tenda sosial, setiap warga 20 000, santunan anak yatim diarahkan ke bea pendidikan. Menggarap Parung tak lepas dari komitmen pengabdian pada masyarakat paling dekat dengan bendera Dompet Dhuafa Republika. Parung memiliki satu sisi suram di mata orang yang mengenalnya. Sepanjang jalan ini orang selalu mencium aroma tak sedap bisnis remang-remang. Di sini tersembul kisah-kisah ironi. Para ustaz ditangkapi, ditahan selama 35 hari akibat membakari warung-warung remang di kawasan Parung. Apa pasal? Bertahun-tahun, warung remang di kawasan santri itu konon dibekingi aparat keamanan. Wanita-wanita dengan bebas menjajakan diri di pinggir jalan. Warga beriman di sekitar dibikin tak berdaya, hingga suatu saat kemarahan pun terakumulasi dan buuuuur... bakar-bakaran!
..
Dengan rendah hati suami Irma Turlistiyah ini menuturkan, kehadiran program PKM lebih memberi penguatan-penguatan upaya masyarakat setempat. Warga sekitar terbukti mampu membuat pinggir jalan kawasan Jampang bersih. Tak ada lagi PSK yang melambai-lambaikan tangan di pinggir jalan. Pihak kelurahan memiliki komitmen dan power yang cukup untuk membersihkan penyakit masyarakat itu. Meski belum sepenuhnya bersih. Rano Karno terus berkeliling dengan bendera pemberdayaan. Namun, ia tak melepaskan aktivitasnya sebagai "guru" untuk beberapa komunitas di sekitar kantor MM. Di masa kuliah, ia mendapat nama tambahan di belakangnya: Mohammad Bilal. Jadilah nama komplitnya Rano Karno Mohammad Bilal. Teman-teman kuliahnya memberi singkatan; Ranka Mobil... asli!. Heri D. Kurniawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar