Senin, 15 Desember 2008

EXISTENSI

..

Pernahkan kita membayangkan bahwa kita berada pada suatu tempat dimana kita hanya punya hak menempati tanah yang kita pijak dan kita duduki. Kita hanya memliki hak pakai dari apa yang kita sentuh dan kita pandang. Tidak ada sarana dan prasarana yang memadai seperti jalan dan listrik apalagi sarana publik yang lainnya. Rumah yang dibangun tidak boleh permanen, boleh dibangun dengan catatan bisa dipindah atau bahkan dibongkar dalam setiap waktu yang terus berjalan. Kepemilikan merengkuh hanyalah kesempatan terbatas yang diberikan sang "pengelola wilayah". Kepunyaan mengakui hanyalah hitungan waktu mundur akibat lalainya sang "rezim pengadil" menentukan waktunya. Keadaan merasakan hanyalah kecurangan kecil sang pelaku dari pengawasan sang "pemimpin culas". Kenikmatan menerima hanyalah hayalan yang terus diciptakan untuk mengungguli keserakahan sang "materialistis kekuasaan". Dan Keinginan menguasai hanyalah mimpi kosong di siang hari yang hilang jika sang "pengatur keji" membangunkan dan terus membangunkan kita dari mimpi-mimpi hingga akhirnya kita tidak bisa tidur dan bahkan kita tidak lagi memiliki asa.

Pernahkan kita membayangkan rumah mungil berdinding bambu dan beratap rumbia yang telah kita bangun berbulan-bulan, tiba-tiba harus kita tinggalkan sekarang juga. Pernahkah terlintas dalam pikiran kita pohon-pohon kelapa yang telah kita tanam selama bertahun-tahun harus kita jauhi tanpa boleh menyentuh sedikitpun. Pernahkan tertanam dalam benak kita jika sawah yang telah kita cangkul dan kita tanam serta kita jaga dengan penuh kasih sayang harus kita relakan hilang sebelum kita sempat memanennya. Pernahkan kita renungkan jika laut yang terbentang luas yang kaya dengan sumber protein hewani terpaksa kita hindari tanpa ada kesempatan lagi untuk merasakan kenikmatan bersamanya. Pernahkan kita merasakan sebuah penderitaaan dimana kita tidak bisa lagi melihat makam orang-orang tercinta kita karena tanah tempat bersatunya jazad mereka tidak boleh kita kunjungi lagi.
Saudaraku.... sekarang kita cuma bisa membayangkan saja dan mengatakan sepertinya itu tidak mungkin terjadi padaku. Sekarang kita cuma bisa menerawang dalam sebuah realitas maya yang tentunya sangat kecil untuk menimpa diri kita. Sekarang kita cuma bisa tersenyum sinis dengan keadaan sulit yang terumngkap dan menggembirakan diri bahwa itu hal yang mustahil terjadi pada keadaan kita. Dan sekarang mungkin kita langsung memutuskan untuk tidak membaca kisah ini dan mengatakan ada-ada saja yang seperti ini diceritakan kepada semua orang. Tetapi kita juga tidak bisa hanya memejamkan mata, menutup telinga dan bernyanyi nada roman picisan untuk bisa pergi jauh dari apa yang telah terjadi.

Saudaraku.... yang telah terungkap adalah apa yang sedang dirasakan saudara kita di sebuah desa terakhir di sebuah pulau. Yang terucap adalah kenyataan masyarakat lugu yang tidak mengerti apa yang terjadi. Yang tertuliskan adalah sebuah fakta sejarah yang dialami warga desa yang minim dengan akses informasi. Yang masih kita bayangkan sudah terjadi. Yang baru kita renungkan telah menimpa. Yang kita paksakan untuk diangankan telah dirasakan oleh manusia kecil yang berusaha menikmati hidup. Doakan mereka agar tetap menikmati apa yang seharusnya mereka nikmati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar