..
Pernahkan kita membayangkan bahwa kita berada pada suatu tempat dimana kita hanya punya hak menempati tanah yang kita pijak dan kita duduki. Kita hanya memliki hak pakai dari apa yang kita sentuh dan kita pandang. Tidak ada sarana dan prasarana yang memadai seperti jalan dan listrik apalagi sarana publik yang lainnya. Rumah yang dibangun tidak boleh permanen, boleh dibangun dengan catatan bisa dipindah atau bahkan dibongkar dalam setiap waktu yang terus berjalan. Kepemilikan merengkuh hanyalah kesempatan terbatas yang diberikan sang "pengelola wilayah". Kepunyaan mengakui hanyalah hitungan waktu mundur akibat lalainya sang "rezim pengadil" menentukan waktunya. Keadaan merasakan hanyalah kecurangan kecil sang pelaku dari pengawasan sang "pemimpin culas". Kenikmatan menerima hanyalah hayalan yang terus diciptakan untuk mengungguli keserakahan sang "materialistis kekuasaan". Dan Keinginan menguasai hanyalah mimpi kosong di siang hari yang hilang jika sang "pengatur keji" membangunkan dan terus membangunkan kita dari mimpi-mimpi hingga akhirnya kita tidak bisa tidur dan bahkan kita tidak lagi memiliki asa.
Saudaraku.... yang telah terungkap adalah apa yang sedang dirasakan saudara kita di sebuah desa terakhir di sebuah pulau. Yang terucap adalah kenyataan masyarakat lugu yang tidak mengerti apa yang terjadi. Yang tertuliskan adalah sebuah fakta sejarah yang dialami warga desa yang minim dengan akses informasi. Yang masih kita bayangkan sudah terjadi. Yang baru kita renungkan telah menimpa. Yang kita paksakan untuk diangankan telah dirasakan oleh manusia kecil yang berusaha menikmati hidup. Doakan mereka agar tetap menikmati apa yang seharusnya mereka nikmati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar