Rojak dalam sorotan kamera-kamera Astro TV
Lelaki kurus berpipi tirus.Bicaranya singkat-singkat, menunjukkan apa adanya dalam pikiran dan perasaannya. Matanya menampakkan gurat lelah.Namun, mata itu menawarkan cahaya. Ada gairah pantang pasrah. Sorot mata kamera televisi menghujamnya berjam-jam. Mungkin itu yang membuatnya tampak lelah. Hanya saja, ia menyediakan peluru untuk menghadang tiap hujaman sorot kamera. Peluru itu tak lain kesediaan berbagi cerita dan pengalaman. Kamera menyimpannya dalam memori, diolah, dan nanti disebarkan melewati layar-layar kaca. Kisah hidupnya diharapkan menebar inspirasi orang banyak. Tayangan itu memang mengupas dunia filantropi.
Di lain waktu, badai formalin mengguncang pembuat tahu. Bagi banyak pengusaha tahu, formalin menjadi badai perusak usaha yang telah dirintis bertahun-tahun. Rojak yang belum lama merintis kembali usaha, turut surut. Isu formalin membuat tahunya tak laku. Modal makin menipis. Tapi, di tengah kegalauan karena usahanya makin ambruk, ia menemukan hikmah di balik badai formalin. Seperti blessing indisguished. Masyarakat Mandiri di awal tahun 2006 memulai program pemberdayaan industri rumah tangga tahu. Para perajin tahu di sana turut menjadi korban citra tahu berformalin. Pada hal setitikpun mereka tak menggunakan pengawet jenazah itu. Istilah formalin saja baru mereka kenal setelah kasus formalin menguar. Rojak memiliki kesempatan emas meningkatkan usahanya. Ia mengakses modal tak seberapa besar. Segera saja ia menambahkan volume kedelai bahan baku tahu.
Seiring pupusnya isu formalin, tahu makin laku. Selain ada penguatan modal, Rojak jadi bisa menabung. Tabungannya juga membuahkan sebuah rumah, miliknya sendiri. Bukan lagi berdinding bilik, berlantai tanah. Rumah yang ditegakkan dengan peluh itu berdindingkan tembok, berlantai semen. Lebih besar dari rumah mungilnya yang dulu. Ya, hidupnya pulih seperti beberapa bulan sebelumnya, bahkan lebih. Rojak bersyukur, Allah melihat kerja keras dan kesungguhannya.Tampaknya Tuhan tak menyia-siakan kesungguhan makhluknya yang taat. Isteri tercintanya pun balik. Keluarga kecil itu berkumpul kembali, mengurai makna bahagia. Hery D. Kurniawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar