Jumat, 28 November 2008

SOSOK

Rojak, Bintang Astro
Rojak dalam sorotan kamera-kamera Astro TV
Lelaki kurus berpipi tirus.Bicaranya singkat-singkat, menunjukkan apa adanya dalam pikiran dan perasaannya. Matanya menampakkan gurat lelah.Namun, mata itu menawarkan cahaya. Ada gairah pantang pasrah. Sorot mata kamera televisi menghujamnya berjam-jam. Mungkin itu yang membuatnya tampak lelah. Hanya saja, ia menyediakan peluru untuk menghadang tiap hujaman sorot kamera. Peluru itu tak lain kesediaan berbagi cerita dan pengalaman. Kamera menyimpannya dalam memori, diolah, dan nanti disebarkan melewati layar-layar kaca. Kisah hidupnya diharapkan menebar inspirasi orang banyak. Tayangan itu memang mengupas dunia filantropi.
Rojak hidup melalui fase-fase yang mungkin ditangkap kru televisi sebagai ’kisah yang filmis’. Lelaki lahir 37 tahun silam itu meneguhkan dirinya harus terus tegar meski melarat. Ia pembuat tahu di Kampung Iwul, Parung, Bogor. Ujian bagi usaha guremnya datang. Pembuatan tahu pada sampai titik di mana dia harus berhenti, dan jatuh. ’Bengkel’ tahu komplit dengan bermacam perkakasnya, dilego. Belum berhenti sampai di situ, rumah mungil tempat bersama istri dan dua anaknya bernaung, harus dijual. Ia merelakan rumah berdinding bilik, berlantai tanah, dan berlangganan banjir karena letaknya yang rendah. Rumah dijual, ia hidup menumpang dari satu sanak ke famili yang lain. Kepedihan susul-menyusul. Isteri yang paling dicintainya malah minta cerai. Serasa bumi dibalikkan, lalu menghimpitnya. Di tengah himpitan luar biasa itu, Rojak tertatih-tatih bangkit. Ia meyakinkan dirinya agar hidupnya tak berhenti. Tak berapa lama, Rojak segera diterima bekerja pada pembuat tahu di Depok. Beberapa lama ia tekuni pekerjaan pembuatan tahu meski hanya sebagai buruh. Di tengah keasyikannya sebagai tenaga, ia memupuk mimpi. Mimpi memiliki usaha sendiri lagi. Dengan modal dari hasil memburuh, ia memulai usaha tahu lagi di Iwul.
Di lain waktu, badai formalin mengguncang pembuat tahu. Bagi banyak pengusaha tahu, formalin menjadi badai perusak usaha yang telah dirintis bertahun-tahun. Rojak yang belum lama merintis kembali usaha, turut surut. Isu formalin membuat tahunya tak laku. Modal makin menipis. Tapi, di tengah kegalauan karena usahanya makin ambruk, ia menemukan hikmah di balik badai formalin. Seperti blessing indisguished. Masyarakat Mandiri di awal tahun 2006 memulai program pemberdayaan industri rumah tangga tahu. Para perajin tahu di sana turut menjadi korban citra tahu berformalin. Pada hal setitikpun mereka tak menggunakan pengawet jenazah itu. Istilah formalin saja baru mereka kenal setelah kasus formalin menguar. Rojak memiliki kesempatan emas meningkatkan usahanya. Ia mengakses modal tak seberapa besar. Segera saja ia menambahkan volume kedelai bahan baku tahu.
Seiring pupusnya isu formalin, tahu makin laku. Selain ada penguatan modal, Rojak jadi bisa menabung. Tabungannya juga membuahkan sebuah rumah, miliknya sendiri. Bukan lagi berdinding bilik, berlantai tanah. Rumah yang ditegakkan dengan peluh itu berdindingkan tembok, berlantai semen. Lebih besar dari rumah mungilnya yang dulu. Ya, hidupnya pulih seperti beberapa bulan sebelumnya, bahkan lebih. Rojak bersyukur, Allah melihat kerja keras dan kesungguhannya.Tampaknya Tuhan tak menyia-siakan kesungguhan makhluknya yang taat. Isteri tercintanya pun balik. Keluarga kecil itu berkumpul kembali, mengurai makna bahagia. Hery D. Kurniawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar