...
PENGGUNAAN METODE PERENCANAAN PARTISIPATIF
DALAM PENYUSUNAN PROGRAM-PROGRAM PEMBERDAYAAN
...
2.1. Prinsip Dasar
PRA merupakan teknik pengumpulan informasi dan pengenalan kebutuhan masyarakat yang melibatkan secara langsung dan secara aktif partisipasi masyarakat. Dalam kaitan tersebut beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan dalam pelaksanaan PRA adalah
1) Melibatkan seluruh kelompok masyarakat yang merupakan representasi mustahik secara umum dalam pengenalan potensi sumber daya setempat, pemahaman permasalahan yang dihadapi, mengidentifikasi jenis inovasi yang dibutuhkan, dan merumuskan kegiatan.
2) Masyarakat setempat merupakan pelaku utama dalam pengenalan situasi, memilih jenis inovasi yang dikembangkan, dan merumuskan pentahapan kegiatan inovasi, sedangkan pihak luar (Grantor / muzakki) hanya sebagai fasilitator. Pihak luar bukanlah guru, penyuluh atau instruktur masyarakat, tetapi berperan sebagai pembantu masyarakat dalam memahami situasi setempat, menganalisis situasi, dan mengambil keputusan atau kebijakan yang akan dilaksanakan. Pihak luar harus menempatkan masyarakat setempat sebagai nara sumber utama dalam memahami permasalahan mereka dan mau belajar dari masyarakat setempat
3) Menerapkan prinsip triangulasi yang merupakan bentuk cross check dan recheck informasi untuk mendapatkan informasi yang akurat. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat yang memiliki latar belakang yang beragam, (contoh: data sekunder yang diterbitkan lembaga formal, data hasil penelitian di lokasi setempat).
4) Berorientasi praktis dalam pengertian pelaksanaan PRA tidak diarahkan untuk menggali informasi yang berada di luar jangkauan masyarakat desa meskipun memiliki pengaruh terhadap kehidupan mereka (contoh: kebijakan nasional di bidang perdagangan) tetapi diarahkan untuk (a) menggali potensi yang tersedia dan masalah yang dihadapi masyarakat setempat; (b) mempelajari alternatif pemecahan masalah; (c) merancang model AIP yang akan dikembangkan secara bersama-sama, dengan memperhatikan rambu-rambu pelaksanaan program yang berlaku.
5) Mengoptimalkan hasil dalam pengertian (a) jenis informasi yang dikumpulkan disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan program; (b) kedalaman informasi yang dibutuhkan dirumuskan secara jelas; dan (c) penggalian informasi dimulai dari yang telah diketahui, misalnya dari data sekunder, hingga informasi yang tidak diketahui, sehingga terjadi penggalian informasi secara luas, mendalam dan akurat.
6) Santai dan informal dalam pengertian (a) diselenggarakan dalam suasana yang luwes, terbuka dan tidak formal; (b) memperhatikan jadwal kegiatan masyarakat setempat; dan (c) pihak luar atau tim PRA harus mampu berinteraksi secara akrab dan memposisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat setempat
7) Prinsip demokratis dalam pengertian (a) setiap anggota masyarakat mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan pendapatnya dan (b) dalam setiap pembahasan, masing-masing anggota masyarakat harus diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya atau menyampaikan ide-idenya.
2.2. Informasi yang Dikumpulkan dan Pemanfaatannya
Pelaksanaan PRA pada dasarnya ditujukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis inovasi teknis dan inovasi kelembagaan masyarakat yang perlu dilaksanakan di lokasi kegiatan Sahur Berkah, sesuai dengan potensi sumber daya yang tersedia dan permasalahan yang dihadapi sehari-hari.
Organisasi Pelaksana PRA
3.1. Tim Pelaksana
Tim minimal dua orang yang akan tinggal satu hari penuh untuk menggali dan melaporkan data-data yang diperlukan.
3.2. Tahap Pelaksanaan PRA
Sasaran akhir yang ingin dicapai melalui pelaksanaan PRA adalah tersusunnya rencana kegiatan inovasi yang akan dilakukan berserta tahap-tahap kegiatan inovasi tersebut selama lima tahun kedepan. Kegiatan inovasi yang direncanakan harus disesuaikan dengan potensi sumber daya yang tersedia, masalah yang dihadapi, dan kebutuhan praktisi agribisnis di desa lokasi kegiatan Primatani, serta kebijakan Pemerintah Daerah. Sehubungan dengan hal tersebut terdapat beberapa tahap kegiatan yang harus ditempuh dalam pelaksanaan PRA yaitu:
Pemetaan lokasi (Sketsa Desa).
Peta lokasi dibuat untuk memudahkan pemahaman secara visual tata letak berbagai sarana pembangunan (kantor desa, sekolah, sarana ibadah, saluran irigasi, jalan desa, dst) dan delineasi hamparan lahan (daerah pemukiman, hamparan kebun, lokasi pabrik dst). Untuk pembuatan peta desa tersebut, pertama-tama para pemuka masyarakat yang mengenal wilayah desanya diminta menggambarkan sketsa situasi desa yang dimulai dengan delineasi batas desa, lintasan sungai, lintasan jalan, lintasan saluran irigasi, dan prasarana utama lainnya. Kemudian, minta pendapat peserta lainnya untuk memeriksa apakah sketsa tersebut sudah benar. Setelah itu, secara bersama-sama ditentukan dimana lokasi kantor desa, pemukiman penduduk, hamparan sawah, kebun, sekolah, sarana ibadah, dst.
Pembuatan peta transek.
Peta transek merupakan gambaran tentang perbedaan zona geografis pemanfaatan lahan seperti: perumahan penduduk, hamparan sawah, hamparan kebun, hamparan tegalan, hamparan hutan, dst. Pembuatan transek dapat dilakukan dengan membawa beberapa petani yang bersedia mengitari desa mereka, mulai dari utara ke selatan, atau dari barat ke timur, atau dari ujung jalan ke jalan lainnya, atau dari lokasi yang tinggi ke lokasi yang rendah. Beberapa informasi yang perlu dikumpulkan dalam pembuatan transek untuk setiap jenis penggunaan lahan (sawah, kebun, tegalan, hutan) adalah: jenis, tekstur, warna dan kesuburan tanah, topografi lahan, jenis tanaman yang diusahakan petani (tahunan dan musiman), pola usaha tani, teknologi usaha tani yang diterapkan petani, dan jenis ternak.
Pola curah hujan, kalender musim, pola produksi, dan kalender kegiatan harian mustahik
Keberhasilan suatu inovasi teknologi antara lain dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja yang dimiliki petani. Suatu teknologi yang membutuhkan curahan tenaga kerja relatif tinggi kemungkinan sulit diterima petani jika tenaga kerja yang dimiliki petani sangat terbatas. Ketersediaan tenaga kerja petani tersebut umumnya bervariasi menurut bulan dan tergantung pada kalender musim, jenis tanaman dan pola tanam setahun yang dilakukan petani pada lahan garapannya, dan kegiatan lainnya di luar lahan garapan petani. Sedangkan kalender musim dan pola tanam yang dilakukan petani biasanya sangat terkait dengan pola curah hujan dan jenis lahan garapan petani. Berdasarkan hal tersebut maka pemahaman pola curah hujan, kalender musim, pola tanam, dan kalender kegiatan petani merupakan aspek penting dalam pelaksanaan inovasi teknologi.
Sejarah dan kecenderungan
Apa yang terjadi pada saat ini tentang suatu obyek pada dasarnya tidak terlepas dari kejadian-kejadian masa lalu yang berkaitan dengan obyek tersebut. Sebagai contoh, bantuan program sosial di suatu wilayah pada saat ini tidak terlepas atau sangat terkait dengan keberhasilan program-program yang telah dilakukan pada masa lalu di wilayah tersebut. Begitu pula persepsi, sikap dan perilaku masyarakat desa tentang suatu obyek pada umumnya sangat terkait dengan kejadian-kejadian masa lalu yang pernah mereka alami berkenaan dengan obyek tersebut. Oleh karena itulah dalam pelaksanaan PRA penelusuran sejarah tentang suatu obyek sering digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk memahami situasi pedesaan termasuk perilaku masyarakat desanya.
Dalam penelusuran sejarah tentang suatu obyek terdapat dua informasi pokok yang perlu digali yaitu:
(a) Pertama, kejadian-kejadian penting apa yang pernah terjadi pada masa lalu dan berkaitan secara langsung maupun tak langsung dengan obyek yang dikaji. Penggalian informasi tersebut diperlukan untuk lebih memahami faktor-faktor apa yang mempengaruhi dinamika atau perubahan-perubahan yang terjadi pada obyek yang dikaji berdasarkan pengalaman masa lalu. Dalam konteks pelaksanaan program inovasi yang perlu ditelusuri melalui pemahaman sejarah masa lalu adalah apa kunci keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan program tersebut. Informasi tersebut perlu dipahami untuk menghindari kegagalan pelaksanaan program yang dapat disebabkan oleh kesalahan yang sama.
(b) Kedua, bagaimana kecenderungan dan perubahan persepsi, sikap, perilaku dan preferensi mustahik yang berkaitan dengan suatu obyek tertentu. Hal ini dapat digali dengan menelusuri dinamika obyek yang dimaksud dalam jangka panjang. Sebagai contoh, dengan menelusuri perubahan jenis-jenis usaha yang pernah dilakukan oleh mustahik dan memahami karakteristik yang melekat pada pekerjaan tersebut maka dapat dipahami pergeseran preferensi mustahik dalam memilih pekerjaan atau program. Dapat ditelusuri faktor apa yang mendorong terjadinya pergeseran preferensi tersebut.
Dalam pelaksanaan PRA beberapa obyek sejarah yang perlu dikaji yaitu: (a) sejarah program-program sosial dan ekonomi yang pernah dilakukan di desa setempat beserta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan program tersebut; (b) kecenderungan kegiatan atau pekerjaan yang diusahakan mustahik beserta faktor-faktor yang menyebabkan kecenderungan tersebut; (c) kecenderungan aktivitas kelompok-kelompok masyarakat yang pernah dibentuk; (d) sejarah tumbuhnya kelembagaan masyarakat beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
5. Diagram kelembagaan
Diagram kelembagaan atau diagram Venn dibuat untuk memudahkan pemahaman kelembagaan atau institusi kunci apa yang mempengaruhi program atau kegiatab yang dilakukan oleh mustahik yang dikaji, baik secara langsung maupun tak langsung. Institusi yang dimaksud dapat berada di dalam desa, di tingkat kecamatan, dan tingkat kabupaten serta dapat merupakan lembaga pemerintah, swasta dan individu tertentu. Di dalam diagram kelembagaan digambarkan tiga kondisi yaitu: (a) kepentingan relatif setiap institusi yang dicerminkan oleh besarnya ukuran lingkaran; (b) kedekatan hubungan setiap institusi yang dicerminkan oleh jarak antar institusi; dan (c) ruang lingkup pengaruh setiap institusi.
Beberapa tahap kegiatan yang perlu dilakukan dalam pembuatan diagram kelembagaan adalah sebagai berikut: (a) identifikasi institusi/lembaga dan individu kunci di lingkup desa yang dikaji yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan masyarakat; (b) identifikasi ruang lingkup fungsional dan kepentingan relatif dari setiap institusi; (c) identifikasi hubungan sosial, fungsional, institusional antar setiap institusi dengan petani dan antar institusi; (d) identifikasi jarak fisik dan kedekatan hubungan sosial, fungsional antara mustahik dengan setiap institusi dan antar institusi; dan (e) identifikasi informasi yang sama untuk institusi/lembaga dan individu kunci yang berada di luar lingkup desa yang dikaji atau yang berada di tingkat kecamatan atau kabupaten.
6. Identifikasi masalah dan peluang pengembangan program
Beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam mengidentifikasi masalah dan kebutuhan inovasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Inventarisasi masalah.
Tanyakan kepada masyarakat desa peserta diskusi PRA satu per satu masalah apa yang dihadapi petani dalam menjalankan kegiatan usaha taninya. Masalah yang dimaksud dapat meliputi aspek teknis dan aspek kelembagaan serta meliputi bidang sarana produksi dan bidang pemasaran (harga berfluktuasi). Pendapat setiap peserta diskusi PRA mengenai masalah yang mereka hadapi dituliskan pada secarik kertas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Gabungan dari seluruh pendapat tersebut akan menghasilkan daftar masalah yang dihadapi oleh seluruh komunitas mustahik.
b. Prioritas masalah.
Berdasarkan hasil inventarisasi masalah selanjutnya ditentukan skala prioritas masalah yang harus diatasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menanyakan kepada setiap peserta PRA, masalah apa yang paling besar pengaruhnya terhadap pendapatan mustahik dan perekonomian desa dari seluruh masalah yang teridentifikasi pada tahap sebelumnya (daftar masalah), dan menyusunnya secara berurutan. Skala prioritas masalah selanjutnya ditetapkan dengan mengurutkan kembali seluruh masalah yang teridentifikasi, berdasarkan pendapat seluruh peserta PRA. Namun sebelumnya perlu digarisbawahi bahwa masalah yang menempati urutan pertama dan urutan terakhir menurut pendapat setiap peserta PRA dihapus lebih dulu. Hal ini dilakukan untuk menghindari personal interest yang dimiliki oleh setiap peserta PRA.
c. Analisis sumber masalah.
Analisis sumber masalah (core problems/root problems) dilakukan untuk seluruh masalah yang telah teridentifikasi pada tahap sebelumnya. Analisis ini dilakukan secara berurutan sesuai dengan skala prioritas masalah yang telah ditetapkan. Dalam analisis ini prinsip tringulasi yang dapat ditempuh melalui pemeriksaan silang dan konfirmasi (cross check and recheck) dengan pihak lain yang terkait harus benar-benar diterapkan untuk dapat menggali sumber masalah yang sebenarnya. Melalui pemeriksaan silang dan konfirmasi juga dapat diidentifikasi apakah terdapat keterkaitan antara masalah yang satu dengan masalah yang lain. Begitu pula dapat diidentifikasi apakah beberapa masalah yang dihadapi petani sebenarnya berasal dari sumber masalah yang sama.
d. Pemetaan masalah.
Pemetaan masalah disusun untuk memahami masalah yang dihadapi masyarakat desa secara keseluruhan, dan memahami keterkaitan antara masalah yang satu dengan masalah lainnya. Pemetaan masalah dibuat berdasarkan hasil analisis sumber masalah. Agar dapat dipahami dengan mudah, hasil pemetaan masalah disusun dalam bentuk bagan pohon masalah.
7. Identifikasi kebutuhan inovasi.
Kebutuhan inovasi merupakan langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi mustahik dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Langkah antisipasi yang dimaksud dapat merupakan: (a) upaya menetralisir sumber masalah, (b) upaya menanggulangi konsekuensi yang ditimbulkan oleh masalah yang dihadapi, atau (c) upaya memanfaatkan peluang yang tersedia.
8. Analisis peluang inovasi.
Peluang inovasi dapat diartikan sebagai kegiatan inovasi yang secara teknis dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani walaupun inovasi tersebut belum merupakan kebutuhan petani akibat keterbatasan pengetahuan mereka. Sebagai contoh, tersedianya peralatan pasca panen yang mampu menekan kehilangan hasil panen dapat dianggap sebagai peluang inovasi, walaupun kehilangan hasil panen belum dianggap sebagai masalah oleh petani karena mereka belum mengetahui besarnya kehilangan hasil panen tersebut. Begitu pula senjang produktivitas (yield gap) yang besar antara produktivitas yang dicapai petani dengan produktivitas yang dicapai dari hasil penelitian lapangan dapat dianggap sebagai peluang inovasi untuk meningkatkan produktivitas usaha tani. Sedangkan inovasi yang dimaksud dapat berupa introduksi varietas unggul atau introduksi teknik pemupukan, teknik pengendalian hama/penyakit, dst.
Identifikasi peluang inovasi dapat dilakukan dengan membandingkan kinerja teknologi dan kinerja hasil yang dicapai petani, dengan teknologi matang yang tersedia di lingkup Badan Litbang Pertanian dan kinerja hasil yang dapat dicapai jika teknologi tersebut diterapkan. Peluang inovasi juga dapat dikaji dengan memahami potensi sumber daya yang tersedia di lokasi kegiatan dan teknologi matang yang tersedia (contoh: di lokasi kegiatan banyak limbah pertanian yang belum dimanfaatkan sementara Balitbangtan memiliki teknologi pengolahan limbah untuk menghasilkan pakan ternak). Peluang inovasi yang dimaksud dapat meliputi: pemanfaatan limbah pertanian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air, konservasi tanah dan air, bidang produksi, pasca panen, pengolahan, dan pemasaran komoditas yang dihasilkan petani. Sedangkan peluang inovasi dapat dibedakan atas inovasi teknis dan inovasi kelembagaan.
9. Klarifikasi masalah dan identifikasi ulang kebutuhan inovasi
Hasil analisis masalah, kebutuhan inovasi versi petani, dan peluang inovasi versi Tim PRA didiskusikan kembali dengan masyarakat desa peserta diskusi PRA. Dalam diskusi tersebut dilakukan secara partisipatif antara masyarakat desa peserta diskusi dan Tim PRA.
terimakasih atas infonya yang sangat sangat bermanfaat :-)
BalasHapus