Selasa, 16 Desember 2008

DA'I

Sang Juru Dakwah

..

Rohman namanya, sebuah nama yang sesuai dengan pemikiran dan perilaku yang ia jalankan dalam mengaruhi kehidupan di sebuah desa paling ujung barat Pulau Jawa. Sosok yang selalu menjaga penampilan dalam kesederhanaan ini memang selalu tampak rapi. Kharismanya semakin menguat ketika tutur kata yang keluar dari lisannya melambangkan sebuah kedalam ilmu yang ia miliki. Walaupun masih muda dan baru memiliki 2 orang anak setelah berumah tangga selama empat tahun, Rohman merupakan tempat untuk bertanya sekitar 200 jiwa penduduk yang tinggal di Kampung Legon Pakis Ujung Jaya walau hanya sekedarnya saja. Rohman memang bukan penduduk asli desa Ujung Jaya, tetapi sang istri lahir di desa yang masuk kawasan Taman Nasional Ujung Kulon ini.

..

Aktifitasnya ia awali melalui sebuah masjid yang belum selesai dibangun. Ia mendidik masyarakat dengan pengajian rutin yang ia pimpin sendiri, baik anak-anak, ibu-ibu maupun bapak-bapak. Tetapi tidaklah mudah bagi sang Dai muda ini untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang nilai-nilai kebenaran yang harus diketahui dan dijalankan oleh masyarakat yang sebagian besar menggantungkan ekonominya dari sektor pertanian ini.

..

Kepercayaan kepada hal-hal tahayul dan khurafat meliputi hampir seluruh penduduk desa yang kaya akan pohon kelapa ini. Keberadaan desa yang masih berbatasan dengan hutan lebat ini selalu dihubung-hubungkan dengan keadaan berbagai mahluk halus yang di ungkapkan secara berlebih-lebihan. Adanya gua Sangyang Sirah yang dikeramatkan oleh sebagian penduduk justru semakin keramat ketika berbagai orang dari penjuru daerah datang dan melakukan "ritual" untuk mencapai tujuannya masing-masing walau harus berjalan dua hari dua malam untuk mencapainya. Keberadaan makam yang belum diketahui siapa yang dikubur semakin menambah nilai "keangkeran" apalagi dibumbui dengan penuturan yang dibesar-besarkan oleh sebagian penduduk. Jika malam datang maka keheningan tercipta dan semakin mencekam dengan dongeng-dongeng legenda yang disampaikan sang orang tua kepada anaknya yang diringi dengan lentera kecil karena tak ada jaringan listrik.

..
Dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan, penduduk legon pakis lebih memilih kesendirian dari pada aktifitas yang dilakukan bersama-sama. Ketekunan mereka mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dalam mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan harus digusur setiap saat dari kawasan konservasi badak bercula satu ini, menjadikan mereka kehabisan energi untuk melakukan aktifitas dalam kebersamaan. Keinginan untuk memupuk materi sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan kepindahan rumah yang setiap kesempatan harus mereka hadapi menjadikan mereka berlomba-lomba untuk menguasai aset sebesar-besarnya sehingga terjadi kesenjangan ekonomi yang nyata di antara penduduknya. Ketakutan ketiadaan cadangan ekonomi jika sewaktu-waktu harus meninggalkan apa yang sekarang mereka miliki mengakibatkan budaya-budaya untuk membantu yang lain hingga kewajiban untuk infaq sedekah bahkan haji, kurban dan zakat menjadi sesuatu yang asing dilakukan oleh sebagian penduduk yang memiliki kemampuan. Keadaan terus memaksa penduduk ini untuk selalu terlibat dalam ketakutan yang sifatnya akut.
..
Rohman harus menghadapi itu sebagai sebuah kenyataan. penduduk masih saja terlena dalam pemahaman yang sempit. Desa yang kaya dengan sumber daya alam ini tidak termanfaatkan untuk bisa disukuri dengan aktifitas ibadah mahdloh kepada Allah. Ratusan pohon kelapa yang dimiliki warga tidak mampu memberi kesadaran pentingnya untuk berbagi melalui zakat dan infaq dan hanya menimbulkan kesenjangan. Sawah subur yang terbentang luas yang dipunyai masyarakat tidak dapat memunculkan sikap adil kepada sesama. Dan laut yang setiap saat memberikan anugerah dalam bentuk ikan dan aneka sumber protein lainnya tidak kuasa memberika pencerahan akan arti pentingnya haji dan kurban di bulan Dzulhijah. Perjuangan Dai muda ini masihlah panjang sepanjang peradaban yang telah tersusun dalam ruang kehidupan masyarakat desa ini. Dan jangan sampai Rohman masih mengatakan "Saya masih bau kencur" seperti yang terucap dalam suatu kesempatan dengannya. Selamat Berjuang.
..

1 komentar:

  1. Gan Bisa diklarifikasi posting yg ini, Rohman memang bukan penduduk asli desa Ujung Jaya, tetapi sang istri lahir di desa yang masuk kawasan Taman Nasional Ujung Kulon ini.

    Itu posting salah kang Rohman itu asli lahir di desa yang masuk kawasan Taman Nasional Ujung Kulon...

    BalasHapus